
Ia mengusap wajah gusar, lalu berjalan menuju kamar. Aku masih setia merebahkan diri, rasa kantuk mulai menyerang diriku.
Entah berapa lama mata sudah terpejam. Aroma parfum yang begitu elegan dan maskulin menusuk ke hidungku. Seketika, aku mengerjap melihat Maher yang sudah duduk di sampingku. Baru selesai mandi.
Aku mengalihkan pandangan melihat ke arah lelaki yang mengenakan kaos warna hitam serta celana pendek selutut. Aku menutupi hidungku, mual rasanya.
"Kenapa, Sayang?" Maher terlihat mencium dirinya sendiri. "Mas udah mandi, kok. Wangi malahan," sambungnya yang semakin mendekat.
Aku berlari tunggang langgang menuju kamar mandi. Tidak tahan dengan harum semerbak yang menguar melekat di tubuh Maher.
"Sayang, sekarang juga kita ke rumah sakit, ya. Kita periksa."
Suara khas orang muntah menjawab ucapan Maher. Aku keluar dengan lemas dan memegangi perut juga mengusap bibir bekas tadi. Sedetik kemudian memegang dahi yang terasa semakin pusing.
Maher memapah tubuhku, membawa ke sofa. "Mas, aku kok lemes banget, ya."
"Sekarang juga kita ke rumah sakit, ya. Nggak boleh nolak!"
Maher langsung menyabet kunci di dekat meja televisi. Ia langsung menuju garasi, setelahnya membawaku masuk ke mobil yang sudah ia bukakan pintu untukku.
Dua puluh menit lamanya dalam perjalanan, kami pun tiba di rumah sakit tempatku kemarin dirawat. Perawat datang menuju brankar, memeriksa tekanan darah juga bertanya mengenai kondisiku.
Maher menjelaskan dengan sangat detail. Dari raut wajahnya ia dipenuhi kekhawatiran. Kerap kali ia bertanya tanpa henti. Aku yang masih lemas, malas untuk menanggapi semua pertanyaannya.
"Sayang, bibir kamu pucat. Mas beli minum dulu, ya."
"Enggak usah, Mas."
"Sayang, kamu nanti dehidrasi loh."
"Ya, Bu. Anda sebaiknya banyak minum, setelah ini kita akan ambil sampel urin."
Aku memejamkan mata sejenak, harus mengikuti prosedur yang ada. Ya, aku yakin mereka akan melakukan tespeck. Maher saja yang tidak sabar, langsung membawaku ke klinik. Padahal, cari bidan terdekat saja bisa.
Maher kembali dengan dua botol air mineral ukuran besar. Aku memejamkan mata sejenak melihat botol sebesar itu dalam kantong kresek yang ia bawa.
"Banyak banget belinya, Mas. Harusnya yang ukuran sedang aja cukup."
"Mas takut kamu kekurangan cairan. Lebih baik lebih daripada kurang."
__ADS_1
Aku meletakkan sebelah tangan menutupi mata, malu. Hari ini aku juga bukannya akan rawat inap seperti kemarin. Posisi sekarang nggak seburuk waktu itu.
"Permisi. Anda sudah kebelet buang air kecil belum?"
"Sebenenya belum sih, Sus. Tapi saya coba, ya."
"Oke. Kamar mandinya di sebelah sana, ya. Ini tespecknya dipakai. Udah tau cara penggunaannya, kan?"
"Udah, Sus."
Perawat wanita bertubuh semampai itu meninggalkan kami. Aku beringsut bangkit menuju arah jarum jam angka sebelas. Ya, persisnya letak posisi kamar mandi di sana.
Maher mencoba untuk membantu, tetapi aku tolak. Aku bisa sendiri berjalan ke sana yang jaraknya hanya beberapa meter saja.
**LA**
"Mas, singgah ke rumah Ibu, ya."
"Ngapain?" Maher terlihat menyatukan kedua alis tebalnya.
"Aku kangen mereka, Mas."
"Dokternya pasti salah itu. Masa udah hamil lima minggu. Kamu aja pulang baru tiga minggu yang lalu."
"Ya, kamu tadi juga udah dengar penjelasan dokter kandungannya sendiri. Itu dihitung dari hari terakhir kamu haid. Pas dong perkiraannya. Emang udah lima minggu."
"Ah, Mas." Aku merengek seperti anak kecil. Sedih sekali rasanya permintaanku tidak dituruti.
"Sayang, kita tuh baru nyampe siang tadi loh. Koper juga masih berantakan. Lagian, oleh-oleh untuk mereka juga nggak kita bawa. Besok aja, ya."
Aku mencembikkan bibir, tentu saja bersungut. Maher sesekali melirik ke arahku. Ia mengelus perut dengan lembut.
"Nak, jangan aneh-aneh ya permintaannya."
Aku memukul punggung tangannya pelan, bermaksud untuk ia singkirkan dari sana. Maher menatapku penuh tanya. "Kenapa, Sayang?"
"Dia masih segumpal darah. Mas juga lihat tadi, mana bisa dia denger."
Maher menepikan mobil di pinggir jalan, ia mengubah posisi duduknya. Membuka seatbelt, lalu memandangku intens. Mendekat beberapa centimeter, tatapannya tajam dan seperti menginginkan sesuatu.
__ADS_1
Aku menarik diri untuk sedikit menjauh. Mengatur posisi jok sedikit ke belakang demi menghindari jarak dari Maher. Namun, lelaki berahang tegas ini justru semakin mendekat.
"Mas mau apa?" tanyaku yang sudah meletakkan tangan di dadanya berusaha menahan tubuh Maher.
"Pengen cium kamu."
"Mas, ini tuh di pinggir jalan raya. Entar dikira orang kita pasangan mesum."
"Biarin, bukannya Mas emang Ustadz Omesh. Kamu sendiri mengakuinya," ucapnya yang segera melancarkan aksinya dengan secepat kilat.
Aku pun terdiam, bagaimana tidak. Tindakannya yang ******* bibirku secepat kilat dan tak memberi waktu untukku menghindar lebih jauh.
"Sekarang gimana? Masih mau ke rumah Ibu?" aku menggeleng lemah, jok sudah kembali ke posisi semula, "gitu dong, Sayang. Nurut sama suami. Besok-besok kalau kamu masih kekeh juga permintaannya nggak dituruti, Mas akan buat yang lebih ekstrem."
"Ngancam terus sih, Mas. Nggak dengar apa kata dokter tadi. Aku tuh nggak boleh stres."
"Dengar. Jelas Mas mendengarnya. Mas akan selalu bahagian kamu, bagaimanapun caranya. Akan tetap Mas usahakan."
Aku hanya berdehem menanggapi ocehan Maher. Benar, tubuh juga terlalu lelah. Bahkan, sekarang mendekat dengan Maher saja enggan. Entah kenapa, mungkin memang tengah bawaan anak yang di dalam.
Sekitar dua puluh menit kami tiba di kompleks perumahan. Maher turun mengitari mobil lalu membuka pintu di sebelah kiriku. Tangannya terulur, meminta untuk aku genggam.
"Apa, Mas?"
Ia melirik ke arah tangannya. "Ini tangan, Mas. Genggam dong, masa' Mas terus yang genggam tangan kamu." Aku menampol tangannya, malas. Keluar dari mobil dengan hati-hati.
Maher terlihat mengembuskan napas berat. "Masya Allah," lirihnya yang masih jelas kudengar. Aku berdiri di dekat pintu menantikan Maher membuka pintu model buka dua ini.
"Langsung istirahat, ya. Mas mau angkat telepon dulu," ucapnya setelah mengantarku ke pembaringan. Ia beranjak duduk di sofa tantra, sesekali melirik ke arahku.
Aku berbaring, pandanganku lurus menatap Maher. Ia menyunggingkan senyum, lalu memainkan sebelah matanya nakal. Aku sontak memunggunginya. Entah mengapa, begitu benci rasanya melihat ulahnya yang genit.
"Ya, Mi. Secepatnya Maher usahakan main ke rumah Mami, ya. Sekarang Siti harus banyak istirahat."
Sedetik kemudian Maher kembali berkata, "Ia, Mi. Siti positif hamil. Udah lima minggu."
Maher berjongkok tepat di depan wajahku setelah mengakhiri sambungan telepon. Netra kami bertemu, pandangannya tidak lepas dariku. Aku jadi salah tingkah melihat sikapnya yang tidak biasa.
"Apaan sih, Mas. Kenapa lihatin aku kayak gitu."
__ADS_1
"Pengen aja."