Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Tragedi Traumaku


__ADS_3

Pasha langsung menarik lengan gadis berperawakan tinggi semampai itu. Aku memilih masuk meninggalkan mereka berdua.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Pasha langsung pulang?" tanya ibu yang tidak seperti biasanya. Pasha selalu menggodanya terlebih dahulu sebelum benar-benar masuk ke rumahnya.


"Ada temennya dateng, Bu."


"Cewek apa cowok?"


"Ibu kok kepo, sih? Bukan urusan kita itu, Bu." Ibu terlihat bersungut mendengar penuturanku. Biasa memang, kalau emak-emak itu selalu hobi untuk penasaran.


"Abi mana, Bu?"


"Tau ah, Abi kamu. Pagi-pagi pegang burung, siang ngilang, sore nggak pulang-pulang!" Suara ibu meninggi dan terdapat luapan emosi saat mengatakannya.


"Ya udah, Bu. Khusnuzon aja kenapa, sih Bu. Abi pasti nggak macem-macem."


"Memang nggak macem-macem. Cuma kok yo hobinya iku kluyuran."


"Namanya hari minggu, Bu. Bu, jangan terlalu emosi. Nanti keriput di wajah Ibu makin banyak lho," bisikku yang spontan membuat ibu meletakkan kedua tangannya di pipi. Aku terkekeh dan langsung masuk ke kamar.


Aku merebahkan diri memandangi langit-langit kamar. Menerka-nerka bagaimana rupa suamiku nanti. Kalau dipikir-pikir, ada rasa kesal saat abi menentukan tanggal pernikahanku.


Notifikasi pesan di aplikasi hijau ramai terdengar. Ya, kedua sahabatku itu sibuk mengobrol di sana untuk menghabiskan waktu libur. Entah mengapa, aku selalu bermalas-malasan jika sudah begini.


Aku menjawab pesan mereka yang tidak ingin bergabung. Namun, mereka terus memaksa dan meminta aku juga Pasha turut hadir. Terutama Fadila, ia selalu sibuk dan terus memohon untuk kami berdua datang ke sana.


Di dalam mobil berdua sama Pasha kemarin saja sudah memacu adrenalin dengan perdebatan yang tidak tahu ujungnya. Pagi ini juga, entah mengapa sikapnya bisa berubah tiba-tiba.


Dia seolah lupa dengan yang dikatakannya tempo hari. Huh, aku terus berperang dengan hati. Fadila menelepon.


"Assalamualaikum, Fa."


"Waalaikumsalam. Pokoknya kalian berdua harus ikut! Aku nggak mau ya, jadi nyamuk untuk pengantin baru itu," gerutunya kesal.

__ADS_1


"Ya Allah, Fa. Malas, ah. Lagian, Pasha kedatangan pacarnya tuh. Nggak enak dong, kalau harus ganggu mereka."


"Serius?"


"Nggak usah melongo gitu bisa nggak, sih," ya itu kebiasaan Fadila jika kaget mulutnya ternganga, "aku juga lagi malas keluar, Fa."


"Please, Ti. Aku pengen jalan-jalan bareng kalian semua sebelum akhirnya aku menikah."


"Astaghfirullah, Umi aja yang udah nikah masih bisa kok jalan-jalan bareng kita."


"Ti, nggak semua pria itu sama. Please, ya. Ikut dong. Ajak Pasha, ya, ya," mohonnya dari seberang telepon yang membuatku tidak bisa menolak. Aku yakin, wajahnya pasti tengah memelas sekarang.


"Oke." Fadila mengakhiri panggilan telepon. Aku langsung beranjak menghampiri Pasha.


Aku menutup pintu setelah keluar dari kamar. Ibu terlihat membawa keranjang mungkin akan pergi berbelanja. Beliau terlihat merapikan bajunya.


"Ti, Ibu pergi ke pasar dulu, ya."


"Jam segini, Bu?" Aku melirik ke arah jam dinding berlafaz Allah dekat ruang tamu.


"Lah, wong masih jam sepuluh gitu, Ti. Kok kamu kaget."


"Ya kepagian, Ibu yo males meruput ke pasar."


"Mau Siti temenin nggak, Bu?"


"Nggak usah. Kamu beberes di rumah aja." Aku mengangguk menerima perintah ibu. Beliau berlalu menunggu becak yang lewat di depan rumah.


Aku berdiri dekat pintu, menjinjit berusaha melihat ke arah rumah Pasha. Tidak enak jika datang menganggu keintiman mereka yang mungkin tengah berbicara serius.


Ya, gadis itu masih terlihat di sana. Di teras rumah Pasha. Sambil menunggu, aku duduk di kursi depan bermain ponsel. Maher mengirim pesan yang sudah kesekian kalinya tidak pernah kubalas.


"Assalamualaikum, wahai Siti Maryam. Bagaimana kabar kamu?"


Enggan rasanya membalas. Pria ini juga tidak henti-hentinya mengirim pesan. Mungkin, jika aku bilang sudah dikhitbah ia akan mundur. Bismillah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Maaf, saya tidak pernah membalas pesan dari Anda lagi. Saya hanya menjaga hati juga pandangan untuk pria lain."


"Masya Allah, kamu benar-benar wanita salihah dan langka. Siapa pria yang berhasil itu?"


"Alhamdulillah. Saya juga tidak tahu siapa dia. Allah yang mengirimnya untuk saya. Terima kasih atas waktu Anda yang selama ini menyempatkan diri untuk menghubungi saya. Maaf, saya sudah di khitbah. Enam bulan dari sekarang, saya akan menikah lewat jalur taaruf. Insya Allah."


"Walhamdulillah waala illa ha illah."


Kami mengakhiri percakapan itu. Aku pun melanjutkan novel yang kubaca di salah satu aplikasi. Lumayan sebagai referensi dalam mendidik.


Hingga tanpa sadar, satu jam lamanya aku telah membaca novel favoritku yang membuatku kadang lucu juga greget sendiri.


Aku celingukan melihat ke arah rumah Pasha. Sudah sepi, aku menyeberang ke sana. Tidak lupa mengucapkam salam, tapi tidak ada jawaban. Suara Pasha pun tidak terdengar. Pintu rumahnya terbuka lebar.


Aku melangkah masuk mencari keberadaannya sambil terus memanggilnya.


"Pasha, Bu Tejo," panggilku yang terus melangkah masuk, tidak seorang pun menyambut.


Kini aku sudah berada di depan pintu kamar Pasha yang sedikit terbuka, aku melongo ke dalam. Kosong. Aku putuskan kembali, tidak etis rasanya lama-lama berada di sana tanpa seorang pun tahu.


Saat berbalik, tangan berurat mencengkeram bahuku. Ia langsung memeluk tubuh ini. Mendekapnya sangat erat dan menjatuhkan tubuhku di kasurnya.


Aku terus memberontak, tanganku digenggam kuat oleh Pasha. Kepala terus bergerak tidak ingin disentuhnya. Tubuh kekarnya sudah menindihku dengan sempurna. Aku tidak kehabisan akal, bibir itu ingin mendarat di wajahku.


Aku terus mendorongnya untuk menjauh. Berteriak histeris berharap ada orang yang akan menolong. Aku penuh ketakutan, wajah Pasha tampak beringas. Mataku membelalak saat tangan Pasha beralih ke bawah.


"Aku tidak rela kamu menikah dengan orang lain, Siti."


Ia mengukung tubuh mungilku. Di sekitar paha yang masih terbalut gamis tipis ini terasa ada benda yang menegang. Air mataku telah jatuh bercucuran, keringat dingin membasahi seluruh wajahku.


Serangan Pasha semakin buas, aku yang hampir putus asa memiliki kekuatan untuk menghantukkan kepalaku di wajahnya. Pasha melemah dan meringis kesakitan. Aku mendorongnya, segera meninggalkan rumah itu. Gamis di bagian bahu dirobek Pasha tadi.


"Ti, maafin aku. Aku khilaf, Ti," ucap Pasha yang mengejarku. Aku tidak menghiraukan ucapannya.


Aku keluar dengan mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi. Abi terlihat berdiri di depan pintu, menatapku yang tampak kacau, lalu menyapu pandangan ke arah Pasha.

__ADS_1


"Besok juga kamu harus menikah dengan lelaki pilihan Abi!" tandas abi yang langsung masuk dengan wajah yang sudah merah padam, tangan beliau terlihat mengepal tadi.


"Maaf, Ustadz. Bukannya harusnya Siti menikah dengan saya? Saya telah melakukan dosa padanya," ucap Pasha yang membuatku dan abi menoleh melihatnya yang tampak merapatkan bibir.


__ADS_2