
"Belum saatnya kamu tahu, Sayang. Entar aja kalau udah di kamar hotel baru Mas bisikin."
Aku memutar bola mata malas mendengar ucapannya. Seperti biasa, ia mencubit pipiku diiringi tawa.
Sebelum air mancur ini selesai, Maher terlihat berlutut setelah kami turun dari perahu. Sebelah kakinya bertumpu di satu titik. Merogoh saku celana, mengambil sesuatu dari sana. Kotak kecil berwarna navy ia keluarkan.
"Mas kamu ngapain? Jangan aneh-aneh. Malu dilihat orang banyak."
Ya, semua mata tengah memandang Maher. Aku menoleh ke sekitar yang sudah menjadi pusat perhatian orang-orang. Tangan membuka kotak yang ia genggam tadi.
Sebuah cincin permata berada di dalamnya. "Siti Maryam, Mas belum pernah melamarmu secara resmi. Walaupun ini terlambat, tapi Mas ingin mengatakannya. Jadilah ibu untuk anak-anakku kelak. Apa kamu bersedia?"
Mataku mulai mengembun, entah mengapa dia bisa memikirkan hal yang romantis begini. Jelas aku mengangguk dengan hati yang sudah haru dan berbunga-bunga.
Di tengah keramaian orang-orang yang menyaksikan air mancur, momen yang memang paling diidamkan oleh setiap wanita dilamar dengan keindahan yang tak mungkin bisa dilupakan.
Aku memang wanita paling beruntung memiliki dia, lelaki yang hampir sempurna di mataku. Meski kami berawal dari perjodohan. Maher langsung memelukku.
"Makasih, Sayang." Pertunjukkan air mancur yang menari ini pun sudah usai, kami kembali ke kamar.
Kami berjalan saling memeluk, rona bahagia menyelimuti hati kami. Setelah menutup pintu kamar hotel, Maher melancarkan aksinya.
Dari mulai mencium dengan buas, hingga melucuti pakaianku satu persatu. Perpaduan yang epik dan indah ini menjadi candu untuk kami berdua kala ada kesempatan.
Napas sudah tersengal, keringat juga sudah membanjiri tubuh kami. Aku berbantalkan lengannya, menatapnya yang terus tersenyum dengan hangat.
"Mas sayang kamu, Siti." Kubalas dengan senyuman, netra kami bertemu dan saling membalas pancaran bahagia.
"Kalau dipikir-pikir lagi, kamu nggak pernah bilang cinta sama Mas, ya."
"Mas, Ustadz Omesh. Jadi, aku kikuk kalau mau bilang cinta. Salah-salah, langsung di ajak ke ranjang."
"Ih, suudzon," balasnya yang menggigit ujung hidungku.
"Saranghae, Ustadz Omesh!" balasku dengan nyengir dan malu-malu.
Ia berdecap, lalu mengusap pucuk kepalaku sambil berpelukan.
Mentari sudah mulai muncul ke permukaan langit, entah jam berapa kami terlelap malam tadi. Suara azan sudah berkumandang, aku mengelus pipi Maher lembut.
"Mas, salat yuk. Udah azan tuh." Maher tidak bergeming, aku mencolek-colek pipinya. Namun, ia masih saja enggan membuka mata.
Aku yang iseng, bermain dengannya. Menutup dan membuka wajah dengan kedua telapak tangan. "Mana ya suamiku," ucapku berpaling sejenak seraya tertawa girang, "oh, ini dia. Suami, suami, suami," sambungku yang bertingkah konyol seraya berselonjor di sampingnya.
Itu aku lakukan hingga tiga kali, tiba-tiba Maher meraih tanganku saat akan bangkit dari ranjang.
__ADS_1
"Mau ke mana?" aku tertegun untuk sesaat, memandanginya dengan saksama. Bahkan, aku masih merasa kalau ini mimpi.
"Mau salat, Mas. Yuk."
"Layani, Mas dulu."
"Udah azan, Mas."
"Nggak apa-apa, paling lama juga sepuluh menit. Ayo."
"Siap salat aja, sekalian mandi di kolam renang depan setelahnya," tolakku halus lalu mencium pipinya lembut.
"Oke," jawabnya dengan semangat empat lima yang begitu membara. Ia menggendong tubuhku untuk mandi junub bersama.
Pergumulan tadi malam sebenarnya masih membuat sebagian tubuhku lelah dan tegang, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan keindahan kamar hotel yang sudah dibayar dengan harga mahal.
Kalau nggak salah dengar, Maher bilang sekitar lima juta per malam. Fantastis, bukan? Itu juga yang membuatku bertanya-tanya dari mana pundi-pundi uang Maher bisa menumpuk sebegitu banyak.
Kami akan berada di sini hingga waktu umrah tiba. Mungkin sekitar satu minggu lagi, sepertinya.
"Sayang, yuk Mas udah siap, nih." Mataku tertuju ke arahnya yang sudah berganti pakaian, hanya mengenakan boxer.
"Mau ke mana, Mas?"
"Argh, Mas! Omesh banget, sih!" gerutuku diiringi tawa riang. Ya, kami kembali melakukan perpaduan.
Sesuai janjiku sebelumnya, mandi di kolam renang depan kamar. Aku sebenarnya tidak menyiapkan pakaian renang, tapi entah mengapa itu ada di dalam koper.
Maher memintaku untuk berdiri sejajar dengannya di tepi kolam, lalu menjatuhkan diri bersama. Penuh suka cita dan tawa sambil bermain air. Kolam yang berdindingkan kaca, membuat kami leluasa memandang alam sekitar.
Maher bangkit, keluar dari kolam. "Mau ke mana, Mas"
"Mau ambil ponsel, mau foto kamu."
"Aku pakai baju renang begini, Mas? Malu, ih."
"Sama Mas kok malu, sih. Mas juga udah lihat dan coba semuanya. Sayang aja di sini nggak ada sofa tantra."
"Mas...!"
"Hehe. Sayang banget kalau momen begini dilewatkan. Jarang-jarang lho kamu pake baju renang. Ah, ya. Baju dinas, kamu bawa nggak?"
"Bawa, Mas."
"Entar malem dipake, ya," ucapnya seraya mengedipkan mata sebelahnya.
__ADS_1
"Ck! Nggak malu banget sih, Mas."
"Malu sama siapa?"
"Sama para readers, tuh. Mereka juga panggil kamu Ustadz Omesh!"
"Biarin, cuma mereka doang. Berarti Mas famous dong diantara mereka."
"Ya, famous. Ustadz Omesh. Lihat tuh, mereka juga sekarang pasti lagi ketawain kamu."
"Biarin, yang penting Mas terkenal," ucapnya setelah mencium batang leherku.
"Dasar Ustadz Omesh!"
"Ck! Nggak malu banget sih, Mas."
"Malu sama siapa?"
"Sama para readers tuh. Mereka juga panggil kamu Ustadz Omesh!"
"Biarin, cuma mereka doang. Berarti Mas famous dong diantara mereka."
"Ya, famous. Ustadz Omesh. Lihat tuh, mereka juga sekarang pasti lagi ketawain kamu."
"Biarin, yang penting Mas terkenal," ucapnya setelah mencium batang leherku.
"Dasar Ustadz Omesh!" gerutuku seraya mencipratkan air ke arahnya yang sudah berdiri berjalan menuju kamar diiringi tawa renyah dan menghindar.
Maher kembali setelah sekian menit, langsung mempotret diriku yang masih berada di kolam. Tidak lupa ia mengabadikan momen ini bersama dengan berjongkok di pinggiran kolam.
Terlihat ada panggilan masuk, ia langsung mengambil bathrobe dan mengenakannya.
"Halo, Kak."
"Assalamualaikum dulu, Daffa." Aku melotot mendengar nama Daffa disebut, jelas panik. Pakaian begini kalau sempat Daffa lihat gimana. Lagian, Maher kenapa sih angkat panggilan video di saat nggak tepat, ah.
"Kak, itu Sofitel Jumeirah," Maher mengangguk, "Kak, itu tuh impian aku honeymoon di sana. Kok Kakak duluan. Itu sama aja Kakak hancurin impian aku."
"Salah sendiri kamunya lama. Kakak duluan, dong."
Aku melotot ke arah Maher memberikan isyarat, bagaimana denganku. Ia sedikit menjauh, agar tidak terekspose aurat yang selama ini aku jaga.
"Tenang," ucapnya tanpa suara hanya berpaling menatapku dengan mulut yang terbuka.
"Bu dosen cantik aku mana, Kak?"
__ADS_1