Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Belum Juga Ngidam?


__ADS_3

"Ustadz, aku hanya ingin Siti kembali menjadi sahabatku seperti dulu lagi."


"Heh! Anda yang menghancurkan kepercayaannya? Apa Anda tidak sadar?"


"Hei! Kamu tidak tahu apa-apa di sini, jadi berhenti menghakimiku."


"Cukup! Kamu Pasha, saya sudah peringatkan kamu. Jadi, tolong jangan ganggu Siti lagi. Safar, Siti, sebaiknya kalian percepat perpindahan kalian."


"Ya, Bi."


"Kamu, Pasha. Saya minta kamu buat perjanjian tertulis agar tidak mendekati Siti lagi. Bisa?" Pasha cukup lama diam terus menampakkan wajah beringas dan tidak suka sampai entah detik dan menit yang ke berapa akhirnya ia mengangguk, "baik, besok saya tunggu perjanjian dari kamu."


"Baik, Ustadz. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Pasha pamit meninggalkan keluarga kami. Ia masih melirik ke arah kami dengan tatapan yang mematikan dan urat-urat kasar tengah bergumul di genggamannya. Maher semakin mengeratkan tangannya di bahuku.


"Bi, kami harus pergi. Ada tausiyah di kampung sebelah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kalian hati-hati, ya."


Sesampai di masjid kampung sebelah sudah terlihat berpasang-pasang sandal berserakan di halaman rumah Allah ini. Sepertinya kami benar-benar sudah terlambat, Maher langsung naik ke atas mimbar saat melihat kode dari protokol.


Ia memintaku untuk duduk tidak jauh dari mimbar dan bergabung dengan para jamaah yang hadir memenuhi undangan yang disebar oleh pengurus masjid.


Maher mulai dengan pembukaan dan salam sejahtera, diiringi selawat. Lalu mulai masuk ke inti khotbah. Terlihat beberapa wanita tengah berbisik-bisik lalu menyapu ke arah Maher berdiri. Mereka cekikikan dan senyum penuh kagum.


Kedua wanita ini saling sikut dan tersenyum girang, lalu kembali memandang Maher. Mataku terus tertuju pada mereka berdua, kesal rasanya melihat mereka yang kecentilan pada suamiku.


"Heh, keganjenan banget sih tuh dua perempuan," gerutuku kesal dalam hati. Tanpa sadar raut wajah kutekuk dan melengos.


"Ibu-ibu, Bapak-bapak yang dirahmati Allah. Kalau istri ngambek, kuncinya cuma satu Pak, Bu."


"Apa Ustadz?" tanya para jamaah serentak.


"Mau tau, Pak? Bu?" tanyanya di sela-sela ceramahnya, "coba saya tanya bapak-bapak, kalau Ibu pas lagi ngambek, ditanyain, mereka jawab nggak?"


"Nggak ...!" jawab para lelaki kompak.


"Betul itu, Bu?" suasana hening tidak ada yang menjawab, "oh, Bu. Bener nggak? Ibu kalau lagi ngambek ditanyain sama Bapak, beneran nggak dijawab, Bu? Bu, oh Bu?" sambung Maher lagi yang masih belum dijawab para jamaah wanita.


"Ibu-ibu yang nggak menjawab, saya doain pulang bisulan." Semua jamaah bersorak, terutama bapak-bapak. Mereka seperti kegirangan mendengar Maher mengatakan itu.

__ADS_1


"Jangan dong, Ustadz," celetuk salah satu ibu dengan khimar warna coklat.


"Makanya dijawab, Bu."


"Bener, Ustadz," jawab mereka kompak.


"Nah, gitu dong. Jadi rumusnya itu, Pak. Sodorkan selembar duit lima puluh ribu, sambil colek dagunya. Kalau masih ngambek juga, sodorin lagi duit yang merah pake peci. Habis itu ... langsung Bapak disambut pake daster. Yakin saya, Pak. Ya, nggak Bu?"


Semua tertawa terbahak-bahak mendengar Maher memecahkan suasana di masjid. Aku masih fokus pada kedua wanita di pojokan.


Tausiyah Maher telah selesai. Salat Zuhur sudah kami tunaikan secara berjamaah tadi. Kumpulan orang-orang yang hadir juga sudah bubar. Menyisakan kedua wanita yang tadi menarik perhatianku sontak berjalan mendekati Maher. Aku menekuk wajah dan terus menatap mereka intens.


"Assalamualaikum, Ustadz," sapa mereka yang didampingi panitia penyelenggara di masjid ini. Ya, aku tahu karena saat kami datang beliau yang langsung menyambut.


"Waalaikumsalam," jawab Maher yang masih menatap ke arahku kemudian beralih pada mereka bertiga.


"Saya sudah lama ingin mengundang Ustadz, tapi baru kali ini ada kesempatan."


"Oh, ya? Alhamdulillah kalau begitu. Allah masih mempertemukan kita dalam keadaan sehat dan waktu yang baik."


Kedua wanita itu terlihat tersenyum malu kemudian menunduk, entah apa maksudnya. Salah satunya menyenggol bahu gadis berkhimar maroon.


"Oh, ya. Ustadz, maaf kalau saya lancang menanyakan hal yang sedikit pribadi," Maher langsung melakukan kontak mata dengan pria bertubuh tegap dengan janggut tipis, "Ustadz apa sudah punya calon?"


"Maaf, Pak. Mungkin ini akan menjawab pertanyaan Bapak, ya. Ini istri saya, Siti Maryam."


Aku menyatukan kedua tangan menunduk pelan, memberi salam.


"Oh, ya. Maafkan saya, Ustadz. Saya tidak tahu soal ini. Kirain tadi Ustad masih sendiri, hehe."


Kedua wanita pertengahan dua puluhan ini tampak langsung mendongak dan menatapku. Aku tersenyum simpul kepada mereka, kemudian mereka pamit meninggalkan kami.


Kami pun pamit meninggalkan masjid. Di dalam mobil aku memukul lengan berototnta bertubi-tubi saat ia sudah duduk dibalik kemudi.


"Sakit, Sayang."


"Mas sengaja 'kan bahas soal istri ngambek waktu ceramah tadi. Ya, 'kan?"


"Hehe. Maaf, Sayang. Habisnya, kamu fokus sama dua gadia tadi. Mas malah dicuekin."


Aku masih bersungut tidak menjawab ocehannya. "Tuh 'kan, Mas didiemin. Apa mau Mas sodorin duit pake peci juga?"


"Heh!" aku mengalihkan pandangan menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Hem. Masya Allah, luar biasa benar ciptaan-Mu. Kita langsung lihat rumah kita, ya." Terlihat Maher menarik kopling dan mulai menyetir.


"Belum juga ngidam, ngambeknya udah subhanallah banget," desisnya yang terdengar jelas di telingaku.


Aku memilih diam enggan menanggapi ocehan Maher. Mobil terus berjalan membelah bebatuan sebelum akhirnya sampai ke jalan aspal hitam.


Sekitar lima belas menit kami memasuki kawasan rumah yang akan kami tinggali. Maher turun, tidak lupa mengitari mobil untuk membukakan pintu untukku.


"Kamu bisa jalan 'kan, Sayang?"


"Apaan sih, Mas?"


"Ya, siapa tahu kamu sulit jalannya. Sisa-sisa tempur tadi malam, hihi."


"Au, ah!"


Memang masih ada rasa sakit yang tertinggal di sana. Jalan juga sedikit payah. Namun, semampunya aku menutupi agar tidak terlalu jelas. Bersyukur mengenakan gamis, jadi tidak banyak orang tahu.


"Assalamualaikum." Maher menggandeng tanganku masuk. Ijah tengah mengelap kaca bening besar di sisi pintu.


"Waalaikumsalam." Mami menyambut kami dari dalam dengan wajah semringah. Ijah berdiri di tangga seraya tangan terus sibuk membersihkan jendela.


"Mami, apa kabar?"


"Alhamdulillah. Sehat, Sayang. Kamu udah beneran pulih 'kan?"


"Alhamdulillah, Mam. Mami kok di sini?"


"Ya, Safar kemarin minta Mami kemari sekalian bawa Ijah."


"Ough," jawabku seraya menjembikkan bibir, Maher terlihat bersiul. Sementara aku terus menyipitkan mata dan membulatkannya juga. Aku merasa ditipu olehnya.


"Kalian udah makan?"


"Belum, Mi."


"Kebetulan, Mami bawa makanan dari rumah. Sengaja suruh Ijah masak sebelum kemari. Yuk, Sayang." Wanita penyayang mantu ini langsung menggandeng lenganku, meninggalkan Maher yang masih berdiri di ambang pintu.


Saat melangkah menuju dapur, terdengar suara Ijah berteriak. Kami sontak berbalik melihat Ijah yang tengah berada di gendongan Maher.


Keduanya tampak saling tatap. Dadaku serasa terbakar, asap sepertinya sudah keluar dari lubang yang ada di seluruh tubuhku.


"Mas!" gerutuku geram. Tangan sudah mengepal. Ia langsung menurunkan Ijah dari genggamannya.

__ADS_1


__ADS_2