
Ia melangkah ke arah Bu Tejo, lalu menggandeng tangan sang bunda. Bu Tejo tidak lupa pamit kepada kami semua.
"Bu, sampai di rumah nanti Pasha jelasin, ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab kami semua serentak. Semua mata menuju ke arahku. Mereka seperti meminta penjelasan atas apa yang dilakukan Pasha.
"Tumben tuh anak nggak betah dekat-dekat kamu, Ti?" tanya Fadila dengan menimang gadis kecilnya. Aku mengendikkan bahu.
"Udah, nggak usah kepo gitu, Fa. Entar juga dengar kabarnya. Yuk ah, makan. Aku udah laper ini."
Aku mengajak mereka untuk menikmati hidangan yang sudah tertata di meja bar dapur. Berbagai menu juga kue diletakkan di sana.
Senja sudah berganti malam, mereka semua pamit pulang. Kami juga lelah karena harus menyapa tamu yang hadir.
Selesai menunaikan salat aku merebahkan diri di kasur. Maher baru saja keluar dengan rambut basah dan melempar handuk asal. Ia duduk di atas tubuhku, tangannya menopang di sampingku.
Ia menyibakkan rambutnya. Percikan air membasahi wajahku, sepertinya ini sikap usilnya. "Ah, Mas. Aku jadi basah ini."
"Biarin, Mas sengaja. Biar kamu mandi lagi, atau paling nggak kamu ganti baju. Pake baju dinas ya, Sayang."
"Baju dinas?"
"He eh, yang kamu kirim fotonya kemarin. Jangan pura-pura lupa. Mas ingat janji kamu."
Aku membuang wajah kasar diiringi tawa. " Ck! Dasar Ustadz Omesh, yang begituan aja ingat."
Aku memakai pakaian yang dimintanya. Ya, lingerie yang sempat kubeli saat kami masih jarak jauh kemarin. Tidak aneh, jika ia mengingatnya.
Aku berdiri menunduk, tanganku menyapu sebelah lengan yang terbuka. Kaki saling mengusap satu sama lain. Maher bertepuk tangan melihat kemolekan tubuhku.
"Woooh, kamu benar-benar memanjakan mata Mas. Mas nggak bisa tahan lagi, Sayang."
Maher langsung menggendongku, membawa ke kasur juga sofa tantra. Mengeksplore berbagai gaya, di beberapa tempat. Malam yang panjang kami nikmati di rumah ini. Hawa dingin AC pun tidak mampu mengeringkan keringat yang bercucuran di tubuh kami.
Hampir pagi kami baru tertidur pulas. Azan Subuh berkumandang membangunkan kami, menunaikan salat setelah membersihkan diri dari berjimak tadi.
Lepas salat kami kembali memejamkan mata. Tubuh terasa pegal dan remuk redam. Rasa sakit di area sensitifku juga tidak begitu terasa seperti di awal kemarin. Benar kata Maher tempo hari, jika sering melakukannya akan hilang perlahan sakitnya.
Cacing-cacing di perut tengah mengadakan pesta, berisik. Meminta memasukkan makanan di dalamnya. Masih di dera rasa malas akibat pergumulan tadi malam, aku bangkit perlahan.
Berjalan keluar menuju dapur, tak tersisa sedikit pun makanan kemarin. Bersih. Mami memang meminta Ijah membersihkan semuanya sebelum pulang.
Aku kembali berjalan dengan malas sambil mengucek mata. Menarik kembali selimut dan memeluk tubuh Maher yang tengah tertidur pulas.
__ADS_1
"Mas." Aku mendekatkan wajah padanya, ia hanya berdehem masih dengan mata tertutup.
"Mas, aku laper," bisikku dengan menjembikkan bibir. Maher mengerjapkan matanya, lalu berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian.
Tidak lupa membasuh wajah sebelum keluar rumah. Ini hari Minggu, jadi waktunya bersantai. Besok kami akan kembali dengan aktivitas seperti biasa.
Ia juga mengambil hoodie berwarna abu. "Mau ke mana, Mas?"
"Cari makan buat kamu."
"Aku nggak diajak?"
"Sayang, matahari udah mulai tinggi. Nanti kalau kulit kamu terbakar gimana?"
"Mas nggak naik mobil?"
"Kelamaan, Sayang. Mas naik motor aja."
"Emang Mas punya motor?"
Terdengar ia menarik napas panjang. Lalu mengenggam pergelangan tanganku, berjalan menuju garasi. Sepeda motor kelas pria macho terparkir di sana. Warnanya khas lelaki pecinta gelap, dark black. Kalau diperhatikan, kendaraan roda dua itu di atas dua ratus CC.
Persis motor yang digunakan para pemain sinetron anak jalanan yang hits beberapa tahun lalu. Hanya dibedakan dengan warna.
Kalau diingat-ingat, mahar pernikahanku dulu saja emas mulia seberat seratus gram. Bayangin kalau satu gramnya saja lima ratus ribu. Itu sudah berapa banyak uang yang digunakan untuk meminangku dulu.
Ah, kenapa baru sekarang aku bertanya atas semua asetnya. Belum juga terjawab lamunan-lamunanku tadi, suara motor Maher sudah terdengar dari jarak seratus meter ke depan.
Ia kembali dengan kantongan plastik berisi dua kotak makanan yang diletakkan di atas tangki. Setelah dipikir-pikir lagi, dia memang idaman semua gadis. Beruntungnya aku yang menjadi istrinya.
Nada dering ponselku terdengar tidak bisa diam. Notifikasi pesan di aplikasi hijau begitu ramai. Aku masih enggan membukanya, lebih mengutamakan isi perut.
Maher membawa bubur ayam lengkap dengan kerupuk. Panggilan dari Fadila begitu mengusik ketenangan pagi kami yang masih menikmati manisnya pengantin baru.
"Siapa, Sayang?"
"Fadila, Mas."
"Coba angkat, siapa tahu penting."
"Entar aja, Mas. Selesai makan."
Lagi, ia mengusik pagi indahku bersama kekasih halal yang selalu kurindukan kehadirannya setiap waktu. Dengan kesal aku pun mengusap jemari di layar sentuh itu.
"Ti, Pasha menikah hari ini."
__ADS_1
"Apa? Kamu serius?"
"Ya. Dia sendiri yang mengumumkannya di grup. Undangan juga udah tersebar di broadcast."
"Oh, ya?"
Maher mendelik melihatku yang tampak kaget, meski bibirnya masih terus mengunyah. "Ada apa, Sayang?"
"Em ... gimana ngomongnya ya, Mas."
"Ngomong aja. Apa itu Siti Maryam?"
"Em ... Pasha menikah besok, Mas."
Maher tampak membuang wajah sebentar, membuang napas kasar. Aku mengulum bibir, lalu menutup rapat mulutku.
"Besok kita akan pergi."
"Kamu yakin, Mas?"
YAkin. Kita pergi bulan madu."
"Ma-maksud, Mas?" Aku mengernyitkan dahi bingung akan ucapannya barusan. Aku pikir dia berlapang hati untuk menghadiri pernikahan Pasha.
"Mas nanti akan pesan tiketnya untuk kita pergi ke Dubai."
"Dubai?"
"Ya, sambil menunggu keberangkatan kita yang akan melakukan umrah ke Mekkah."
"Mas?"
Keningnya terlihat berlipat menantikan jawabanku. Aku sendiri tidak mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Lagi pula, haruskah kutinggalkan begitu saja pekerjaanku. Ya Allah, cobaan apalagi ini.
"Kamu nggak mau?"
"Bukan nggak mau, Mas," aku meletakkan tangan di dahi, memijatnya pelan, "ini bukan waktu yang tepat, Mas."
Kamu mau atau tidak?" Wajah Maher terlihat merah padam. Hatiku semakin tidak karuan. Ia bangkit hingga kursi berderit, lalu melangkah menuju kamar. Aku mengekor, ia berselonjor di sofa tantra.
"Mas," ucapku hati-hati mengingat situasinya saat ini. Maher tidak seperti biasanya jika sudah menyangkut Pasha.
Maher melirik sekilas, kedua tangan yang diletakkan di atas dahi sebelumnya ia hempaskan dan mengatur posisi untuk duduk.
"Katakanlah wahai Siti Maryam. Mas tahu kamu ingin mengatakan sesuatu, Mas juga yakin ada yang mengganjal di hatimu."
__ADS_1