
"Ck! Aneh."
Seruan azan terdengar, aku sontak bangkit untuk mengerjakan kewajiban kami sebagai umat muslim. Juga, malu. Baru saja pulang dari tanah suci, masa' iya harus meninggalkan ibadah yang wajib hukumnya.
"Mau ke mana?" tanyanya yang ikut bangkit. Aku melangkah menuju kamar mandi.
"Nggak dengarkah, Mas?"
"Apa?"
"Astaghfirullah, azan itu, Mas."
Maher nyengir, jangan bilang dia lupa? Nauzubillahimindzalik, jika ya. Ia mengekor untuk mengambil wudhu setelah aku.
Kami melaksanakan salat berjamaah. Meski, sebenarnya aku masih enggan dekat-dekat dengan Maher. Namun, kewajiban tetap harus diutamakan.
Selesai salat, Maher mencium keningku. Aku langsung menyapu bekas bibirnya yang tertinggal di dahi. Maher menyatukan kedua alis, terlihat bingung.
"Kok dilap?"
"Risih, Mas. Ada air liur kamu tertinggal di sana."
"Biasanya nggak apa-apa." Aku megendikkan bahu menjawab ocehannya. Maher mengacak rambutku.
"Ah, Mas!" gerutuku kesal.
Suara bel terdengar, kami saling pandang dan tanya. Siapa gerangan yang datang. Terlebih ini sudah di atas jam delapan malam.
Aku juga Maher buru-buru untuk mendekati pintu ruang utama. Hijab sudah melekat di kepala. Maher membuka daun pintu yang langsung disambut mereka memeluk diriku yang hanya berdiri mematung di belakang Maher.
"Sayang ...." Ibu, mami, abah, juga abi datang rombongan. Daffa juga turut serta. Mami menciumi wajahku tanda bahagia. Tidak lupa kedua tangannya memegangi pucuk kepalaku. Setelahnya, ibu memeluk tubuh mungilku.
"Kamu baik-baik aja, kan? Jaga cucu Ibu, ya."
"Siti baik-baik aja, Mi, Ibu. Tadi kami baru dari dokter."
"Oh, ya? Mana hasil USGnya?" tanya Mami yang langsung menodong ke arah Maher. Maher pun menarik lengkungan senyum lalu berjalan menuju kamar.
Bukan mami namanya jika tidak membuat heboh. Ya, wanita penyayang menantu ini selalu saja antusias dan tidak sabar. Sifat ini menurun ke Maher yang tidak sabaran.
Daffa terlihat menghela napas pasrah. Ya, aku yakin berita kehamilanku sudah terdengar di telinganya. Ia mengambil langkah mendekat ke arahku, mengulurkan tangan.
"Bu, selamat ya. Jaga keponakan aku. Kalau dia cewek, aku lebih sayang sama dia. Kalau dia cowok, aku ajak fighting dia."
__ADS_1
Sekian detik kemudian, Maher menepuk tengkuk belakang Daffa dengan buku hasil USG yang ada di genggamannya.
"Fighting dulu sama Papanya."
"Kalian ini, nggak berhenti-berhenti berantemnya." Kali ini mami tidak mengomel panjang lebar, beliau justru sibuk melihat hasil ultrasonografi cucunya yang diikuti oleh ibu. Kedua wanita paruh baya ini terlihat sibuk sendiri dan tertawa renyah dengan mata berbinar.
Aku menyapu pandangan ke arah kedua sahabat lama yang tampak mengusap bahu Maher. Mereka tertawa bahagia dan begitu lepas. Maher terlihat tertunduk malu.
Bukan orang tua namanya jika datang dengan tangan kosong. Mereka membawa bingkisan yang berisi mangga muda, aku jelas melihat dari kantong kresek putih yang ditenteng ibu tadi. Juga beberapa makanan untuk disantap sekarang.
"Oh, ya. Sampe lupa mangga yang saya bawa tadi, Jeng," ucap ibu yang langsung menuju meja dapurku.
"Ya, habisnya kita sibuk sama hasil USGnya, ya." Mami memberikan buku hasil periksa dokter tadi padaku. Aku berniat ingin membantu, tapi kedua ibu ini tidak mengizinkan aku untuk turut serta.
"Dijaga ya, Nduk kehamilannya. Semoga lancar sampai lahiran, ya. Oh, ya. Istrinya Pasha udah meninggal."
"Apa?" Aku tercengang mendengar yang barusan ibu katakan. Maksudnya ibu, sekarang Pasha itu duda? Ya Allah, apa ini karma atas perlakuannya padaku. "Innalillahi wa innailaihi rojiun," sambungku setelah tersadar dengan apa yang aku dengar.
"Kamu nggak dengar Ibu tadi bilang apa?"
"Dengar, cuma kok kayak nggak percaya gitu, Bu. Masa' secepat itu?"
"Ya. Keguguran."
"Apa?" Kembali aku dengan wajah bengong dan penuh tanya. Juga terkejut akan berita yang cukup mencengangkan yang baru saja aku dengar.
"Ya, memang sih, Mas. Kita pergi nggak lama loh, kok udah dengar berita duka aja. Itu maksud aku."
"Itulah yang namanya takdir, Sayang. Kita tidak bisa menghindar atau mengubahnya. Semua itu sudah garis tangannya masing-masing."
"Ya. Kita manusia hanya bisa berencana. Allah yang menentukan." Kali ini abi yang berbicara. Ustadz Zainudin hanya manut.
Tidak lama mereka pun pulang. Menyisakan kami berdua. Aku melangkah menuju kamar. Sebelumnya, ibu sudah membereskan dapur. Ya, itu karena aku tidak boleh mengerjakan apa pun.
Tentu saja dengan omelan-omelan untuk memiliki ART. Bukan tidak mampu untuk memperkerjakan orang di rumah, hanya saja aku masih ingin menata dan merapikannya sendirian.
"Sayang, menurut kamu gimana?"
"Apanya yang gimana, Mas?" tanyaku dari balik kaca bening di hadapanku.
"Soal asisten rumah tangga."
"Kalau aku sih, masih pengen merawat kamu tanpa bantuan siapa pun."
__ADS_1
"Tapi, kondisi sekarang yang nggak memungkinkan, Sayang. Mas takut ada apa-apa."
Aku beralih untuk membaringkan tubuh di kasur. Maher mendekat dan menarik selimut sebatas dada untukku. Ia membelai rambut dan mengecup keningku.
"Mas."
"Apa, Sayang?"
"Kalau cium, air liurnya jangan ikut dong. Capek harus ngelapnya terus."
Ia terkekeh dengan sorot mata yang menyepelekan. Jelas aku bersungut.
"Ya udah, setelah cium kamu Mas lap, ya. Sekarang tidur, nggak baik kalau terlalu malam. Kesehatan kamu harus diutamakan."
"Ya. Matiin dong lampunya." Maher mengangguk dan bertepuk tangan. Ya, itu caranya mematikan lampu hanya menyisakan cahaya temaram yang berada di atas nakas. Kalau akan menghidupkannya, Maher hanya perlu menepuk tangan dua kali.
Mentari pagi mulai menyingsing, setelah aktivitas wajib yang kami lakukan, aku berjalan menuju halaman belakang yang memang sudah ditata indah saat kami pergi kemarin. Tentu saja atas permintaan Maher yang menitipkan kunci pada pihak pengelola.
Maher berselawat sambil membawa mushaf. Duduk di kursi rotan berdampingan. Suara lantunan ayat suci yang mengalun indah dari bibirnya mampu mendamaikan hatiku saat ini.
"Mas," panggilku yang membuatnya menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menatapku lekat.
"Ya, Sayang."
"Kalau seandainya aku bernasib sama dengan istrinya Pasha, gimana?"
"Sayang, masih pagi ini. Jangan bahas yang merusak hari indah kita, dong. Pikirin yang baik-baik, ya."
"Tapi, Mas."
"Sssttt...!" Maher meletakkan jari telunjuk di bibirnya, "Mas lanjut lagi baca ayat yang tadi, ya."
Aku mengangguk lemah. Ya, pikiran-pikiran seperti itu pasti mengganggu ketenangan. Belum lagi kabar yang tadi malam aku dengar. Memang benar, semua terjadi atas takdir. Tapi, siapa yang tahu bagaimana yang tertulis di sana.
Aku bangkit meninggalkan Maher sendiri yang masih hanyut dengan membaca Alquran. Berjalan menuju dapur, membuat sarapan. Dua lembar roti tawar aku oles dengan selai.
Tentu saja ibu dan mami yang membawa tadi malam. Saat membuka kulkas itu sudah ada di sana. Selai stoberi menjadi pilihan pagi ini. Susu khusus ibu hamil juga ada di sana. Ya, pasca dari rumah sakit kami diberi resep. Termasuk susu formula itu yang dianjurkan.
Aku menyapu lembut pundaknya. "Mas, sarapan yuk."
Maher menutup kitab suci berwarna biru dengan ukuran sedang itu, lalu membawa jemariku ke dalam genggamannya. Sedetik aku sudah berada dalam pangkuannya.
"Kalau sarapannya kamu, gimana?"
__ADS_1
"Apaan sih, Mas."
"Ya, Mas maunya makan kamu," sambungnya lagi yang justru memeluk erat tubuhku.