
"Zawjati?" pria bermata teduh ini mengangguk.
"Artinya istri," aku melamun sejenak, secepat ini statusku berganti menjadi istri, "gimana? Kalau nggak suka nggak apa-apa," sambungnya yang menarik garis bibir ke dalam.
"Terus saya panggil Anda apa?"
"Kakak, aja gimana? Atau Mas?"
"Mas aja, kalau Kakak kayak Daffa, dong," jawabku seraya mengerucutkan bibir mengingat kelakuan Daffa kemarin-kemarin.
Lagi, dia mencubit pipiku gemas. Astaghfirullah, kenapa itu tangan ramah banget, batinku.
Kami bercerita apa saja hingga lupa waktu. Kini, alarmku berbunyi terlihat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Maher meremas jemariku yang berada di sampingnya.
Aku dengan cepat menariknya sekuat tenaga. "Maaf," lirihku yang tersadar menolaknya.
"Nggak apa-apa. Saya cuma mengetes kamu. Siapa tahu ...." Aku mendelik ke arahnya.
"Oke, sekarang kita tidur, ya. Saya nggak akan macem-macem. Insya Allah." Dia pun berbaring, aku bangkit menuju ke sisi kanannya. Kami saling memunggungi.
Kami yang tidur terlalu lelap, hingga tidak sadar melewatkan salat Subuh. Aku mengerjapkan mata, lalu mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Jam delapan pagi.
"Astaghfirullah," kataku dengan panik. Sontak membuat Maher langsung bangkit dari tidur.
"Ada apa?"
"Kita kelewatan salat Subuh."
"Nggak apa-apa, Sayang. Sekarang kita langsung mengambil air wudu, ya." Aku mengangguk dan bergantian memakai kamar mandi. Kelamaan kalau harus mandi dulu. Toh, tadi malam juga nggak melakukan junub.
Selesai mensucikan diri, aku mengambil mukena dari lemari. Maher menuju bilik, di ambang pintu ia berkata, "Tunggu aku, ya. Kita salat berjamaah."
Aku mengangguk lalu menggelar sajadah untuknya juga untukku. Tidak butuh waktu lama, kami pun menunaikan kewajiban dua rakaat. Setelah selesai, ia mengulurkan tangan padaku.
Kusambut tangan itu dan menciumnya takzim. Maher mendekatkan wajahnya, seperti ingin menyentuh keningku dengan bibirnya. Aku sedikit menjauh, memberi jarak. Belum terbiasa, baru juga hitungan jam menikah.
Maher terlihat menggaruk tengkuk belakang dan nyengir kuda. Aku bangkit dan melipat mukena. Setelahnya bergegas mandi untuk segera menyapa kedua orang tuaku.
Aku membuka knop pintu setelah berpakaian rapi. Maher masih berada di toilet. Aku belum terbiasa akan kehadirannya.
"Assalamualaikum," sapaku melihat abi juga ibu yang sudah duduk di meja makan, "Maaf, Bu. Siti bangun kesiangan."
"Nggak apa-apa, Sayang. Ibu maklum, namanya juga pengantin baru," ucapnya dengan mengulum senyum.
"Kamu nggak ngajar?"
"Udah kelewatan kelas Siti, Bu. Entar siang baru ada lagi. Sekitar jam sepuluh."
"Kalau begitu, Mas antar kamu, ya," timpal Maher yang sudah bergabung dengan kami, "assalamualaikum, Ustadz, Bu Rahma," sambungnya yang kini berdiri di sampingku.
"Duduk, Nak Safar," pinta abi, Maher pun mengikuti titah abi.
"Lihat mereka jadi seger, ya Bi?" ucap ibu yang melirik ke arah rambut hitam milik Maher yang nampak basah. Sepertinya pikiran beliau melanglang buana, mengingat situasi yang memang memungkinkan.
"Ibu, apaan sih?"
__ADS_1
"Ayo, makan," ajak abi seraya tangan yang mengambil nasi.
"Kamu hari ini nggak ada kegiatan, Safar?"
"Hari ini saya interview di pesantren yang Ustadz pimpin. Jika diterima, saya akan langsung mengajar di sana."
"Insya Allah keterima, ya. Saya nggak bisa bantu."
"Nggak apa-apa, Ustadz. Ustadz merekomendasikan saya saja, saya sudah bersyukur."
Aku yang masih berdiri setengah membungkuk meliriknya sekilas. Aneh rasanya ia mengatakan itu. Ya, aku paham sih dia lulusan dari Kairo. Tapi, ini tuh Indonesia. Jadi berasa kaku gitu dengarnya.
"Em, Mas."
"Ya?"
"Boleh nggak panggilan untukku diganti. Kalau nama di ponsel aja, sih nggak apa-apa. Aku agak gimana, ya," ucapku sembari menggaruk pelipis yang tidak gatal. Takut dia tersinggung.
"Oke, Habibati?" tanyanya yang membuatku menyatukan alis, "em ... panggil sayang aja deh kalau gitu. Boleh?" Aku mengangguk, itu lebih baik didengar daripada yang pertama tadi.
"Tapi kalau di depan Ibu sama Abi, panggil nama aja, ya. Malu, soalnya." Pipiku terasa memanas, aku menangkupkan kedua tangan di sana lalu mengatur napas.
Maher mendekat dan mengambil alih tanganku. Mencium kening ini lembut. "Subuh tadi kamu menghindar," ucapnya yang berjalan menuju kamar mandi.
Ya Allah, kenapa dia secepat kilat sih tindakannya. Aku takut jika dia meminta haknya.
"Udah siap?" tanyanya yang memecahkan lamunanku. Tentu saja aku belum siap, tadi malam aku juga udah jelasin ke dia. Dasar pria, pikirannya begituan meluluh, ih, batinku yang meracau.
Maher menyentil tulang hidungku pelan. "Siti Maryam, kamu sudah siap?"
"Ini, memar?" tanyanya yang membuatku susah menelan walau hanya ludahku sendiri. Itu terjadi saat membenturkan kepalaku ke wajah Pasha kemarin.
"Em, ya. Terantuk pintu lemari waktu mau ambil baju." Tidak enak hati rasanya berbohong, tapi tidak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya. Ia menarik lengkungan senyum di ujung bibir sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, aku tunggu kamu di depan, ya. Sekalian mau memanaskan mobil." Aku langsung mendongak menatap punggungnya yang telah hilang di balik pintu.
"Astaghfirullah. Maafkan hamba ya, Allah yang udah suudzon. Jadi maksudnya tadi, aku sudah siap beberes, ya?" gumamku yang terkekeh sendiri.
Lima belas menit, aku pun keluar dengan mengenakan gamis berwarna pink dilengkapi blazer senada. Abi tengah berbincang dengan murid kesayangannya. Jika dipikir-pikir, harusnya aku mengutuk Maher. Namun, ia yang sejak awal memberi nyaman membuatku berusaha menerimanya sebagai suami.
Aku pamit, menyalami abi yang diikuti Maher. Maher membukakan pintu mobil untukku. Saat hendak melangkah masuk, Pasha melintasi kami dengan sepeda motor RX king. Netra kami bertemu, Pasha menghujamku dengan tatapan yang mematikan.
Maher berdiri tepat di depanku, menghalangi pandangan kami. "Takut zina mata, Sayang," ucapnya yang membuatku berkedip dengan ritme cepat.
"Astaghfirullah. Maaf."
"Yuk!"
"Ya." Aku langsung masuk mobil sport hitam berlambang wajik ini. Terlihat dari kaca spion, Pasha diam mematung melihat laju kendaraan yang kutumpangi.
Di dalam perjalanan, rona bahagia jelas tergambar di wajah kekasih halalku. Ia juga terkadang bersiul pelan, mungkin bentuk mengekspresikan kebahagiaannya diiringi suara merdu berselawat.
Tanpa sadar, lampu lalu lintas menyala di warna merah. Ia yang kaget mengerem mendadak, hingga tubuhku maju ke depan hampir terantuk ke dashboard. Tangannya spontan menahanku.
Aku melotot sempurna, mulut menganga lalu menyapu pandangan ke bagian dada. Kelima jarinya melebar di sana. Aku yang merasa itu aneh langsung membuang tangannya kasar.
__ADS_1
Aku menatapnya tajam dan menarik napas panjang. Saat ini mungkin di seluruh lubang yang ada di sekitar wajah dipenuhi dengan asap. Menahan amarah.
"Maaf, Sayang. Mas nggak sengaja. Demi Allah," ucapnya dengan raut wajah panik. Aku langsung menatap keluar jendela. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutku.
Diam membisu. Ya, jika aku sudah marah, berhari-hari aku tahan tidak berbicara dengan orang tersebut.
"Harusnya sih nggak masalah aku pegang itu, toh melihat seluruh isinya juga halal bagiku."
"Apa?!" tanyaku dengan sedikit meninggikan suara yang sekilas terdengar ucapannya barusan meski pelan. Ia berpura tidak mengatakan apa pun. Aku membuang wajah kasar.
Sesampai di kampus, ia turun mengitari mobil. Belum sempat ia membuka pintu untukku, dengan cepat aku keluar dari sana. Wajah kutekuk sempurna, memandangnya saja enggan.
Ia menyodorkan tangan, mungkin maksudnya memintaku untuk menciumnya tapi tidak kuhiraukan. Aku berlalu, mengambil langkah secepat kilat. Mungkin hanya aroma parfumku yang tertinggal di sana.
"Masya Allah, cantiknya," ucapnya yang terdengar samar di telingaku. Aku hanya berpaling sejenak ke arahnya yang tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Assalamualaikum, Sayang," teriaknya dari kejauhan.
"Waalaikumsalam," lirihku pelan dan menuju kantor dosen.
Aku menarik kursi dengan sandaran berbentuk jaring itu. Meletakkan tas dan beberapa buku yang aku bawa. Membuang napas kasar.
"Huh! Begini ternyata rasanya menikah," desisku menopang kepala yang terasa pusing mengingat kejadian tadi dan kemarin.
"Bu Siti sudah menikah?" tanya Bu Ira salah satu dosen kepo di sini.
"Nggak, emang siapa yang bilang?"
"Barusan saya dengar. Begini ternyata rasanya menikah, ibu bilang begitu, 'kan?" tanyanya yang kini menggeser kursi mendekat di sampingku.
Aku terbengong sebentar, menarik napas dalam. Sejenak mencari alasan, Bu Ira tampak menanti jawaban dariku.
"Bukan saya, Bu. Temen, tadi yang saya maksud. Dia sempat cerita asam manisnya berumah tangga," kilahku yang langsung bangkit meninggalkannya.
Lagi pula, memang sudah waktunya kelasku dimulai.
"Assalamualaikum," sapaku pada para mahasiswa. Mereka serempak menjawab salam dariku.
Aku menjelaskan semua materi tentang ekonomi bisnis. Lalu memberi tugas pada mereka.
"Bu, ikut saya!" ucap Daffa yang tiba-tiba berdiri di mejaku. Malas sebenarnya mengikutinya. Tapi nanti justru jadi boomerang untukku.
Aku pun keluar bersama dengannya. Di lorong-lorong kampus, aku memperhatikan sekeliling.
"Kamu mau apa, Daffa?" tanyaku yang melipat tangan di depan dada dan menghentikan langkahnya yang tidak jauh dariku.
"Ibu kok mau sih nikah sama Kakakku?"
"Emang kenapa? Lagian, saya juga nggak tahu kalau dia Kakak kamu."
"Ya, terus setelah tahu, kenapa Ibu mau? Ibu 'kan tahu kalau aku cinta sama Ibu!" tandasnya yang meremas rambutnya frustasi.
"Saya menikah lewat jalur taaruf, Daffa. Jadi Allah yang memilih untuk saya."
"Ya, tapi Kak Safar itu nggak sebaik yang Anda pikir!" tandasnya yang berlalu meninggalkan ribuan tanya di benakku.
__ADS_1