Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Bulan Madu Terlambat


__ADS_3

Aku bangkit dan pergi meninggalkan pesta. Jujur, aku menyesal menghadiri pernikahan Pasha yang kukira dia sudah berubah dengan menikahi gadis pilihannya.


Mengambil langkah seribu, langsung masuk ke rumah abi. Bergegas menuju kamar. Aku duduk di sudut memeluk diriku sendiri. Mengapa Pasha menjadi begitu mengerikan.


Tok ... Tok


"Sayang, kamu baik-baik aja 'kan?"


Knop pintu bergerak naik turun. Ya, aku menguncinya. Aku ingin sendiri, bahkan menjauh dari Maher untuk beberapa menit saja.


Aku menenggelamkan wajah, meneteskan bulir bening hangat ini. Entah mengapa, rasanya ingin menangis saja.


"Sayang, buka pintunya. Mas mau masuk, nih."


Aku mengangkat wajah, mengusap tetesan yang tertinggal. Lalu bangkit menuju pintu. Mengatur napas untuk terlihat baik-baik saja. Meski itu nggak mudah untukku. Aku berhambur memeluknya.


"Eh. Ada apa ini, Sayang? Kamu juga tadi kok pulang nggak bilang-bilang, Mas."


"Ah? Ya, kepalaku sedikit pusing tadi, Mas."


"Sekarang gimana? Udah baikan?" aku mengangguk lemah, Maher memijat kepalaku, "sekarang kita kembali ke pesta, ya. Umi sama Fadila cariin kamu tuh."


Saat akan melangkah, aku menahan tangan Maher. "Mas, suruh mereka ke sini aja, ya. Aku malas kayaknya untuk balik ke sana."


"Kenapa? Apa ada yang ganggu kamu?"


"Enggak, Mas. Cuma aku masih capek aja."


Maher terlihat menyipitkan matanya, lalu mencolek hidungku. "Akibat tadi malam, ya?"


Aku tersenyum simpul mendengar ucapannya, lalu mengiyakan. Maher merapatkan bibir kemudian keluar meninggalkan aku di kamar. Dari balik jendela terlihat suasana pernikahan Pasha.


"Assalamualaikum." Aku keluar dari kamar menyambut kedua sahabatku yang sibuk menggendong kedua buah hatinya.


"Waalaikumsalam. Kita duduk di ruang tamu aja, ya. Jangan di kamar, kalau dulu kalian main langsung masuk aja, ya kan?"


"Hehe. Beda dong, Ti. Dulu kita masih single, sekarang mah udah double mana mau triple lagi." Fadila mengecurutkan bibir menunjuk ke arah Umi.


"Maksudnya?"


"Aku hamil lagi, Ti." Umi terlihat malu-malu.


"Alhamdulillah, kamu udah nambah, ya."


"Semoga nular, ya," balasnya seraya mengusap perutnya dan melakukan hal yang sama ke perutku.


"Semoga, disegerakan, ya. Btw, kalian kok bukannya di sana, malah kemari?"

__ADS_1


"Malas ah, Ti. Nggak ada kamu." Umi bereaksi dan langsung duduk berleha, ya maklum bumil yang tengah ngidam. Pasti bawaannya malas.


"Ti, banyak yang bilang MBA."


"Hush! Nggak boleh suudzon, Fa. Lagian, Pasha 'kan dosen. Jaga nama baik dia, dong harusnya."


"Ye, kamu nggak percaya. Aku tuh udah pernah hamil, Ti. Jadi, aku pasti tahu tuh payudara berisi atau nggak."


"Nyebut, Fa. Nggak baik ih, ntar jadinya fitnah lho kalau nggak bener. Dan kalau pun benar, jatuhnya jadi ghibah. Dosa tau!"


"Bener itu, Fa. Siti ada benernya, biarin waktu yang menjawab."


Ketiga pria kami datang bersamaan, mungkin mereka yang masih sejalan dengan profesinya jadi mudah untuk bergaul. Suami Umi seorang ustadz, sedangkan suami Fadila tenaga pendidik juga.


"Assalamualaikum," ucap mereka serentak yang kami pun sontak menjawab dengan nada yang sama. Masing-masing duduk di samping pasangannya.


"Mereka nggak diambilin minum, Sayang?"


"Ah, ya. Keasyikan ngobrol, Mas. Jadi lupa, hehe." Aku beranjak untuk bergegas ke dapur.


"Nggak usah, Ti. Kita udah pada makan dan minum di hajatan Pasha tadi."


"Ya, nggak usah repot-repot."


"Baiklah. Lagian, kalian berdua juga udah biasa 'kan ngambil apa-apa sendiri di sini." Kedua sahabatku ini mengangguk.


"Enggak, Mas."


"Kalian mau ke Dubai, Ti? Wah, senengnya bisa ke sana. Kalau kita mah, ke Dufan aja udah seneng banget. Ya 'kan, Mi?"


"Apaan sih, Fa. Ya, alhamdulillah Allah kasih kesempatan kami ke sana. Nanti kalau ada masanya kita bareng ke sana, ya. Boleh 'kan, Mas?"


"Tentu boleh dong, Sayang. Insya Allah nanti kita atur waktunya ya, Ustadz, Pak guru."


"Ya, Ustadz."


"Insya Allah, kalau ada waktu dan dananya bisa kita atur," timpal suaminya Fadila.


Kami menikmati waktu yang jarang-jarang bisa begini. Maher menggendong putranya Umi sambil bermain. Haru biru perasaan di dada. Semua orang terlihat bahagia, Umi, Fadila, juga Maher.


Aku sendiri sulit menyesuaikan hati dan perasaan. Malam pertama saja baru beberapa kali melakukannya. Jika Allah berkehendak, bisa saja bulan aku langsung hamil. Tapi, jika Allah menunda, mungkin aku harus belajar sabar untuk kesekian kalinya.


"Hei, kamu kok melamun, Ti?" Fadila menepuk bahuku, aku sontak mengerjap cepat dan tersadar dari khayalan yang entah menjurus ke mana.


"Udah pas tuh Ustadz Safar punya anak," timpal Umi yang mengarah ke Maher, "sepertinya dia pengen anak laki-laki tuh, Ti."


"Ya, kalau Allah kasih cepat mudah-mudahan aku bulan depan hamil."

__ADS_1


"Em, kemarin terakhir haid kapan?"


"Em, kapan ya? Aku lupa kayaknya. Lagian, Mas Safar juga baru balik 'kan. Enggak mungkin secepat itu jugalah. Haha."


"Siapa tahu, udah lama ngga begituan jadi sekali shot langsung tembus, jadi deh."


"Dasar! Kamu tuh nggak berubah ya, Fa. Padahal anaknya udah gede, masih aja mikir yang jorok gitu."


"Ih, kok jorok, sih. Itu namanya manusiawi, Ti. Itu kebutuhan biologis lho, kamu aja tuh yang nggak normal. Begituan tunggu dua tahun."


Aku mendelik, meletakkan jari di bibir Fadila. Takut, jika Maher mendengarnya. Pasti dia akan merasa harga dirinya jatuh. Lagi pula, bagi seorang ustadz mengenai hal ranjang itu taby untuk dibicarakan.


"Ehem." Deheman Maher membungkam Fadila, ia terlihat kikuk dan salah tingkah. Umi menyenggol bahunya, mungkin pertanda menyumpahi Fadila yang suka bercerita tanpa memandang tempat dan kondisi.


"Eh, Ustadz Safar," ucap Fadila yang nyengir kuda.


"Sayang, Mas tunggu di kamar, ya," bisiknya nakal seraya memainkan sebelah matanya.


"Uh, ternyata suami kamu nakal ya, Ti."


"Apaan sih, Fa."


"Aku dengar dia bisik-bisik sama kamu."


"Ya, Ti. Aku juga dengar. Wong ngomongnya kenceng, ngapain coba bisik-bisik kalau bisa kedengaran dengan jelas."


"Udah, ah. Itu model kebucinan suamiku."


Setelah semuanya pulang, aku masuk ke kamar menemui Maher. Terlihat ia sedang bertelepon dengan seseorang, entah siapa. Panggilan itu diakhiri cukup lama saat aku sudah berada di sampingnya.


"Siapa Mas?"


"Daffa."


"Oh, tadi Mas bilang nunggu di kamar. Ada apa, Mas?"


Ia langsung memeluk tubuhku, lalu mencium kening ini cukup lama. Setelah melepaskan ciuman itu, aku menyatukan kedua alis memandangnya bingung. Kedua tangannya masih melingkar di pinggangku.


"Mas cuma mau peluk dan cium kamu."


"Heh, dasar!"


"Kalau Mas buat di luar, nanti ketahuan sama Ibu juga Abi lagi. Mas 'kan malu."


"Heleh, sekarang baru tahu malu. Kemarin-kemarin nyosor mulu. Mana di Bandara lagi," protesku dengan menaikkan sudut bibir. Ia justru **********.


"Kamu cerewet banget sih, Sayang. Mas jadi pengen bungkam bibir kamu terus."

__ADS_1


"Ya, ya. Sekarang, itu koper udah beres?" tunjukku melirik ke arah lemari yang berjejer dua koper sedang.


__ADS_2