
Maher mengulurkan tangannya, sontak aku mencium punggung tangan itu. Lalu ia menggenggam kedua bahuku. Aku mencoba menghindar, masih teringat perlakuan Pasha siang tadi.
"Wanitanya malu ternyata," goda Ustadz Aman yang peka terhadap gerakan tubuhku.
"Sudah halal, Sayang. Nggak apa-apa," bisik ibu dari belakangku.
Maher kembali melakukan itu, lalu mendaratkan bibir tipisnya di keningku cukup lama. Ustadz Aman memimpin doa setelah pernikahan.
Ada desir aneh di dadaku saat ia mencium keningku tadi. Malu, takut, juga gelisah. Semua bersarang jadi satu. Kami duduk di ruang tamu sekarang.
"Kalian harus istirahat, 'kan?" Aku mengerutkan dahi mencoba mencerna ucapan abi. Maksudnya kami berdua disuruh ke kamar, gitu? Ya Allah, apa lagi ini.
"Resepsinya, kapan kita adakan?" tanya Bu Ana.
"Gimana kalau minggu depan saja," seru ibu. Tidak mungkin jika dilakukan besok, banyak yang harus dipersiapkan.
"Baiklah. Langsung saya transfer saja ya Jeng dananya."
"Boleh. Tapi saya nggak memberatkan keluarga Anda ya, Jeng."
"Tentu tidak. Ini hanya bentuk menghargai. Lagian, saya bersyukur karena telah memiliki menantu. Jadi, bisa shopping bareng."
"Ya, ya. Jeng tidak punya anak perempuan, saya juga cuma punya Siti."
"Kapan-kapan, kita bisa shopping bareng. Kalau ngajak mereka berdua ini, susah Jeng."
"Lah, namanya juga anak laki, Jeng. Beda selera sama kita." Kedua ibu ini asyik sendiri. Deheman dari abi juga Ustadz Zainudin membubarkan pembicaraan mereka. Keduanya pun terkekeh.
"Yuk, kita pulang!" ajak Ustadz Zainudin pada istrinya. Daffa terlihat bersungut.
"Kok Ibu mau, sih nikah sama Kakakku," bisiknya di daun telingaku. Aku hanya diam dan tersenyum dengan gigi yang beradu menatap lurus ke depan.
"Ibu 'kan tahu, aku mencintai Ibu. Bahkan aku terang-terangan mengatakannya," lanjutnya yang wajahnya didorong paksa oleh Maher.
"Udah sana!" usirnya pada adik nakalnya itu.
"Kakak nggak ikut pulang?" tanyanya yang sudah berjalan sedikit menjauh dari kami. Bu Ana langsung menarik kaos anak bungsunya itu dengan cepat. Tapi wajah Daffa seolah tidak rela meninggalkan kakaknya untuk tinggal bersamaku.
__ADS_1
"Mi, aku boleh nggak tidur di sini temeni Kakak."
"Astaghfirullah, Daffa. Dewasa dikit kamu, tuh. Ini malam pertama Kakakmu," omel Bu Ana yang mengundang tawa di wajah Maher.
Pasha terus memandangku yang sejak tadi diam, bahkan lengkungan senyum pun tidak terlukis di sana. Raut wajah Pasha datar, tersirat kekecewaan. Ia pun mengucapkan selamat kepada kami berdua, lalu pamit.
Diikuti Ustadz Aman dan satu saksi lagi. Kini rumah sudah sepi, sepertinya pernikahan ini memang sudah direncanakan oleh abi juga Maher. Buktinya, berkas dan mahar telah disiapkan.
"Pergilah ke kamar, Nduk. Ajak suamimu."
"Ah? Ya, Bi." Aku melangkah menuju kamar berukuran enam meter ini. Cukup besar memang, ranjang kayu jati juga lemari slide dan berbagai hiasan dinding serta meja belajar ada di sini. Sofa berukuran kecil juga terletak di sudut sana.
Aku membuka lebar pintu, Maher menutupnya. Aku langsung terbelalak melihatnya yang masuk dan masih memegang handle pintu.
Deg! Jantungku berpacu cepat saat suara pintu tertutup sempurna, hingga tidak ada celah.
Kami berdua berdiri dengan canggung dan bingung. Sebab, tidak pernah bertemu. Hanya bercerita di dunia maya, itu pun sekadar bertanya mengingatkan salat.
"Ada kamar mandi di sini?" tanyanya memecah keheningan.
Aku mengangguk lalu menunjukkan arahnya. Ia izin untuk membasuh tubuhnya. Aku mengusap dada yang sudah bertalun-talun. Lalu menyibukkan diri dengan menghapus hiasan di wajah.
Ia melangkah mendekatiku, menggenggam bahu ini kuat. Sontak aku berdiri membuang tangan lembut itu. Dadaku bergemuruh, rasa takut kembali menyerang.
"Maaf," ucapnya dengan mata yang menari menatap coklat terang milikku. Aku sedikit menjauhkan diri.
"Saya yang harusnya minta maaf. Pernikahan ini terlalu mendadak, jadi ...."
"Ya, kamu benar. Saya akan menunggu kamu sampai kamu siap."
"Terima kasih."
"Boleh saya duduk di sini?" tanyanya saat langkahnya sudah mendekati ranjang, aku mengangguk, "sini," sambungnya yang menepuk kasur empuk itu.
Aku mengerutkan dahi. Pikiran melanglang buana. Apa dia akan meminta haknya sekarang? Tapi bukankah dia bilang siap menungguku. Aku memicingkan mata melihatnya.
"Tenang, saya tidak akan meminta hak saya malam ini," ucapnya yang sepertinya mengerti arti mimik wajahku.
__ADS_1
Dengan ragu, aku melangkah mendekat dan mendaratkan bokong di sampingnya. Jemarinya menyapu tanganku.
"Bolehkan kalau cuma pegangan tangan?" tanyanya lagi. Aku mengatur napas, debaran di dada sudah entah bagaimana, "kalau kamu keberatan, saya akan lepaskan tangan saya ini." Aku hanya diam.
"Kalau diam, saya anggap kamu mengatakan ya. Bagaimana?"
"Heuh?"
Dia mencubit pipiku gemas. Aku menatapnya lekat. Ini pertama kalinya bagiku sedekat ini dengan pria. Biasanya selalu memberi jarak dan tembok.
"Saya senang melihat wajahmu ketika sedang begini," ucapnya yang kemudian merebahkan diri di kasur. Sekian detik kemudian, dia bangkit dan kembali duduk. Kakak sama adik sama saja, suka banget kalau lihat aku lagi bengong, batinku.
"Boleh 'kan saya tidur di sini?" Aku juga bingung harus berkata apa. Jika menyuruhnya keluar, ibu sama abi pasti akan marah padaku. Sebab ia tahu, anaknya tak mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri.
"Lagi, kamu diam. Saya anggap itu setuju, ya. Sebab, diam itu emas, Sayang," lanjutnya dengan mencolek hidung mancungku yang membuatku terbelalak melihat sikapnya barusan.
"Ups, maaf. Habis aku bingung harus panggil apa. Gimana kalau kita buat nama panggilan?"
Ia nampak berpikir dan merapatkan kedua bibirnya. Aku memilih mengganti pakaian di kamar mandi sembari menunggunya yang mencari nama panggilan yang pas.
"Saya ke kamar mandi dulu, ya."
"Silakan."
Aku melucuti pakaian, mengunci ruangan pengap ini. Takut jika dia tiba-tiba menerkam. Sungguh, aku masih belum siap. Belum lagi, kejadian siang tadi terus membekas di ingatanku.
Setelah berganti pakaian, aku keluar dengan khimar yang masih melekat. Risih rasanya jika harus melepas hijab dan menampakkan mayangku. Mengenalnya saja aku tidak, hanya sebatas bertukar kabar. Itu pun tidak melihat wajahnya. Kalau diingat-ingat, ia pria yang tempo hari di depan abi.
Aku melipat kebaya tadi dan meletakkannya di keranjang baju kotor samping kamar mandi. Kulihat pria bermata teduh ini duduk di sofa sembari memegang buku.
"Ini buku kamu?"
"Ya."
"Kamu wanita yang melankolis, ya? Ini kisah cinta romantis Nabi Yusuf dan Zulaikha."
"He eh, memang saya suka membaca kisah mereka. Itu sudah selesai saya baca."
__ADS_1
"Gimana kalau aku panggil kamu Zawjati?"