Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Digendong Maher


__ADS_3

"Udah ah, Mas. Aku lagi baik ini mau dekat-dekat kamu."


"Ya, itu. Justru mumpung kamu lagi mau. Yuk." Ia mendongak menatapku yang berada beberapa centimeter di atasnya.


Perutku juga terasa tidak enak. Kata orang, morning sickness itu memasuki dua sampai tiga bulan. Apa aku sudah berada di fase itu? Ah, jika ya, maka aku harus selalu siap bolak balik kamar mandi. Ya Allah, sungguh nikmat mana lagi yang akan kudustakan.


"Gimana?"


"Mas, kamu juga dengar dari dokter kemarin, kan. Nggak boleh sering-sering begituan. Masih rentan soalnya."


"Ya, tapi kemarin-kemarin nggak apa-apa. Bahkan, sampe lima kali malahan satu hari."


"Udah ah, susah ngomong sama kamu kalau soal yang begitu." Mulutku menggembung, tangan segera menutup agar tidak tumpah, dengan langkah seribu aku menuju kamar mandi. Ya, muntah. Tiba-tiba saja mual.


Saat keluar dari bilik, Maher sudah berdiri di depan pintu dengan membawa minyak angin. Segera ia menuangkannya di telapak tangan, lalu menyapu ke perut juga ujung hidungku.


Terasa segar memang, setelah ia melakukan itu. "Gimana? Udah lebih baik?"


"Ya, Mas."


"Yuk, kita sarapan. Setelah ini, Mas mau ke pesantren. Udah lama ninggalin para santri."


"Aku ikut ya, Mas. Ke rumah Ibu."


"Besok aja, ya. Mas hari ini nggak akan lama kok."


"Ah, Mas." Tentu saja, sekarang selalu merengek kala tidak dituruti. Childish, begitu kira-kira namanya. Sifat kekanakan.


"Mas bentar doang." Maher menangkupkan wajah, mencoba membujuk. Sudah pasti, aku merajuk. Ia memelukku, mungkin berusaha untuk menenangkan diri ini. Lalu mengambil segelas susu.


"Ini, minum dulu. Untuk si orok."


"Mas," ucapku merengek.


"Minum dulu, Sayang. Kasihan loh, yang di dalam."


Aku pun menuruti perintahnya, meminum susu rasa coklat itu hingga habis tak tersisa. Sedangkan untuk Maher aku membuatkan teh.


Kami sudah duduk di sofa setelah sarapan tadi. Roti untukku tidak kusentuh, tugas Maher untuk menghabiskannya.


Diduk berselonjor di sofa, Maher bangkit menuju ke kamar. Tentu saja aku mengekor. Ia membuka lemari, mengambil kemeja juga celana panjang kain.


Aku mendekat dan mengancingkan kemejanya satu persatu. "Tumben," ucapnya yang tidak biasa melihatku melakukan itu.

__ADS_1


"Nggak boleh, ya?"


"Boleh, Sayang."


"Mas, aku ikut, ya."


"No!"


Aku mencembikkan bibir lalu mengentakkan satu kaki saat ia berjalan menuju pintu. Kemudian ia berbalik dan melangkah mendekat.


"Sayang, kamu nggak boleh begitu. Kasihan si orok, di dalam terguncang loh itu." Maher membelai pipiku lembut, lalu mencium kening untuk pamit. Ya, setelah melepas ciumannya ia mengelap bekas bibirnya.


"Jaga Mama ya, Sayang," ucapnya lagi seraya mengelus perutku yang masih rata.


Aku mengantarnya hingga ke depan pintu. Akhirnya aku mengalah dan merelakan ia pergi. Tidak sebelum masuk mobil aku mencium punggung tangannya.


Aku yang bosan, tidak tahu harus berbuat apa. Semua pekerjaan rumah sudah terlebih dahulu dikerjakan Maher tadi. Menyisakan menyapu dan mengepel lantai. Itu jelas dilarang oleh Maher dan kedua ibu.


Aku yang iseng menelepon sahabatku. Ya, keduanya meminta mereka untuk datang ke rumah. Segera mereka bersorak kegirangan kala aku bilang membawa oleh-oleh dari Dubai juga Mekkah.


Aku menonton televisi sambil menunggu kedatangan mereka beserta bocah-bocahnya. Malas makan juga sudah menyerang diriku. Kata dokter itu hal yang wajar.


Suara bel terdengar, aku menyambut mereka. Namun, saat membuka pintu, bukan Fadila dan Umi yang datang tapi Ijah. Aku menautkan alis menatap Ijah yang masih berdiri mematung di depan sebelum aku memintanya masuk.


"Ya, Mbak.


"Kamu kok di sini?"


"Ibu yang suruh saya dateng, Mbak."


Mulutku membulat mendengar jawaban darinya lalu menyuruhnya masuk. Ijah langsung ke dapur, sementara aku kembali ke posisi semula.


Lagi, suara bel terdengar. Kali ini pasti kedua sahabatku. Tamu yang memang aku tunggu-tunggu sejak tadi.


"Siti ...!" teriak Fadila yang langsung memeluk tubuhku. Meninggalkan gadis kecil yang ia bawa di dekat kami berdiri. "Kangen banget sama kamu," sambungnya lagi.


"Ya, aku juga. Hai," sapaku pada gadis bermata bulat yang dibawa Fadila. Anaknya sudah bisa berdiri dan berjalan walau tertatih.


"Hai, Aunty." Fadila menyahut, lalu mendekati anaknya.


"Ti, aku iri loh sama kamu. Belum punya anak aja kamu udah ada art." Umi terlihat cemberut dan masih menatap lekat pada Ijah yang sibuk di dapur.


"Dia itu ART di rumah mertuaku. Aku juga belum punya ART."

__ADS_1


"Ya, tapi kan enak, Ti."


"Udah, besok kamu minta sama ayang beb kesayangan kamu. Kalian mau minum apa?" tawarku setelah mengajak mereka duduk.


"Apa aja deh, Ti."


"Oke." Aku melangkah mendekati Ijah, meminta ia membuatkan minum apa saja yang ada di kulkas. Aku juga belum belanja banyak untuk kebutuhan kami.


Kami pun asyik bercerita dan melepaskan rindu. Mereka juga kaget akan kepergian istri Pasha yang mendadak. Jelas aku maraha pada mereka berdua, karena tidak satu pun dari sahabatku ini yang memberi kabar.


Belum puas mengeluarkan uneg-uneg, suara mobil Maher berhenti di halaman depan. Segera aku menyambutnya.


Maher tersenyum lalu segera berjalan mendekat ke arahku yang sudah berdiri di ambang pintu. Lelaki berjambang ini langsung menciumi wajah dan ******* bibirku sebentar. Kemudian, tangannya beralih ke perut.


"Mas, malu ih."


"Malu sama siapa? Cuma kita berdua doang di rumah ini," jawabnya yang tanpa dosa lalu memeluk tubuh mungilku.


"Dada kamu sedikit membesar ya, Sayang. Mas baru terasa loh."


Aku dengan segera melepaskan pelukannya. Lalu menunjuk ke arah dalam. "Lihat, ada Ijah, Fadila juga Umi beserta anak-anaknya." Maher melongok melihat kedua sahabatku yang nyengir kaku lalu melambaikan tangan ke arah Maher.


"Assalamualaikum, Ustadz," sapa mereka kompak. Wajah Maher berubah pucat pasif, lalu tersenyum datar. Tidak lupa membalas salam mereka dan langsung menuju ke kamar.


Aku mengekor, izin sebentar untuk menemui Maher. Ia terlihat mengusap wajah gusar, menggaruk kepala bagian belakang dengan kasar.


"Mereka jadi tahu omeshnya kamu, Mas."


"Ck! Kamu sih, bukannya bilang kalau mereka datang."


"Maaf, Mas. Aku lupa kasih tau kamu. Maaf, ya."


"Peluk dulu dong, baru Mas maafin."


"Masya Allah, suamiku ini."


Ia merentangkan kedua tangan lalu aku menyambut hangat sikapnya. Pamit padanya untuk kembali bergabung dengan Umi juga Fadila.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Memang tidak kami kunci sebelumnya. Gadis manis dengan jilbab warna merah berdiri di ambang pintu.


"Aduh, Ti. Maafin anak aku." Fadila langsung menggendong anaknya. Posisi kami masih berpelukan. Maher melepaskan tautan lalu berjalan menghampiri bocah itu. Ia mencubit pipinya gemas.


Anaknya Fadila justru mengajukan tangan seperti isyarat minta digendong oleh Maher. Maher tersenyum lalu memenuhi keinginan putri kesayangan Fadila.

__ADS_1


"Kamu pengen digendong sama Om, ya? Oke, sini sama Om."


__ADS_2