
Pulang dari kampus aku berjalan tanpa semangat mengingat kata-kata Daffa tadi. Semuanya telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur.
Diriku juga jauh dari kata baik dan suci. Mungkin jika Maher tahu, kepercayaannya atas diri ini akan luntur. Bahkan, ia bisa saja mempertanyakan kesucianku.
Aku keluar dari kampus, Pasha terlihat menungguku di tempat parkir. Pasha jarang ke sini kalau bukan ada hal yang penting dan mendesak. Juga, hanya aku orang yang dikenalnya.
"Pasha?"
"Ti, aku mau ngomong sama kamu."
Aku melengos, menatapnya saja tidak ingin. Masih teringat kejadian beberapa hari lalu yang begitu memilukan dan bahkan merendahkan harga diriku sebagai wanita. Bisa saja aku melaporkannya ke polisi, tapi itu akan mencemari nama abi juga diriku sendiri.
"Ti, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Aku khilaf, Ti. Demi Allah."
"Minta ampunan sama Allah, Sha. Semoga kamu dapet hidayah dan tidak sembarangan menyentuh wanita!"
Aku bahkan memalingkan wajah darinya. Menjaga mata juga tindakanku, mengingat statusku yang sudah menjadi istri seseorang.
"Assalamualaikum," aku menoleh ke asal suara, mengalihkan satu pria malah datang lagi pria yang masih tidak ingin kulihat, "kalian kok cuma berdua, Sayang," sambungnya yang mengusap lembut kepalaku.
"Waalaikumsalam. Tempatnya 'kan rame, bukan tertutup," jawabku jutek.
"Ya, tetap aja. Dia itu bukan mahrom kamu, Sayang," ucapnya yang langsung menggenggam tanganku, aku berusaha menariknya. Ia justru makin mengeratkannya, "kamu? Bukannya yang menjadi saksi pernikahan kami, ya?" tebaknya yang menunjuk ke arah Pasha.
Pasha mengangguk, lalu Maher pamitan untuk membawaku pergi dari Pasha. Melangkah menuju mobil yang terpakir tidak jauh dari tempat kami tadi.
"Bu Siti!" teriak Bu Ira yang melihatku akan masuk ke mobil dengan ukuran hampir dua meter ini. Aku menatapnya yang sedikit berlari ke arahku.
"Bener toh pendengaran saya tadi siang. Ini suami Ibu, kan?" tebaknya yang membuatku memejamkan mata sejenak, tidak bisa berdalih lagi. Aku mengangguk pelan.
"Wah, selamat kalau begitu, Bu. Nikah kok nggak undang-undang, sih Bu?" ucapnya yang memukul bahuku pelan diiringi tawa renyah, aku menyapu bekas pukulannya. Maher dengan sigap membentengi diri ini saat Bu Ira mengangkat tangannya lagi.
Plak!
"Eh, maaf. Saya tadinya mau kenakan ke Bu Siti," ucapnya lagi setelah melayangkan satu pukulan.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa. Saya cuma nggak tega lihat istri saya digituin."
"Tuh 'kan, bener," ucapnya dengan nada meledek. Ia memainkan kedua telunjuknya di hadapan kami berdua. Kami saling tatap melihat tingkah Bu Ira yang selalu ceria seolah tanpa beban. Padahal, usianya di atasku tujuh tahun dengan status lajang pula. Hal itu tidak membuatnya tertekan.
"Kami permisi dulu, Bu. Assalamualaikum."
"Bu, jadi kapan dong makan enaknya?"
"Insya Allah, minggu depan ya Bu," jawab Maher yang langsung memintaku untuk masuk. Ia tidak lupa berpamitan pada perempuan dengan rambut yang terlihat berantakan itu. Tetap menundukkan pandangan.
Di dalam mobil, suasana tetap hening. Aku masih marah padanya. Masih terasa bekas gambaran tangannya di dada ini. Ia sepertinya tahu bentuknya hanya dengan memegangnya sekilas tadi.
"Sayang, kamu udah makan?" aku tetap diam, ikut dengannya tadi saja karena terpaksa demi menghindari Pasha juga Bu Ira, "dosa loh, kalau cuekin suami begitu," timpalnya lagi. Aku merapatkan kedua bibir. Menata hati untuk mengesampingkan ego.
"Gimana interview tadi?" Dia menoleh menatapku, mungkin dia tidak percaya aku menunjukkan perhatian. Sebab, cukup lama aku terdiam setelah ucapannya tadi.
"Mau aku jawab jujur atau bohong?"
"Terserah kamu, sih. Bohong kamu yang berdosa."
"Oh."
"Udah? Cuma begitu doang responnya?"
"Ya, terus aku harus apa?"
Ia mencubit pipiku gemas hingga terasa sedikit ketarik menjauh. "Sakit," ucapku melepaskan jarinya dari sana.
"Kamu kenapa gemesin banget, sih. Kayak bocah kalau lagi ngambek, padahal umur hampir kepala tiga." Aku menaikkan sudut bibir sebelah kanan mendengarnya berkata begitu. Tidak akan terbang diri ini dipuji olehnya.
Maher Fatih Safarudin menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Aku menoleh ke arahnya.
"Kita makan dulu, ya. Mas tahu kamu belum makan, 'kan?" tanyanya yang membuatku menyatukan kedua alis, "aku tadi tanya Ibu, kamu lupa bawa bekal."
"Ya 'kan bisa aja aku makan di kantin," protesku yang malas berlama-lama dengannya. Masih ada sedikit rasa kesal di hati.
__ADS_1
"Ya, kalau udah makan sih nggak apa-apa 'kan kalau makan lagi?" ucapnya setelah melepaskan sabuk pengaman.
Cacing di perut tidak bisa diajak kompromi. Ia langsung mengeluarkan bunyi khasnya. Aku menggigit bibir bawah kuat, tengsin. Lalu menyembunyikan wajah, malu.
"Hehe. Udah nggak usah malu. Suami sendiri juga yang ngajak makan. Ayo, sekalian Mas belum salat Ashar."
Meski wajah bersungut, aku pun turun dari kendaraan roda empat itu. Maher langsung menggandeng tanganku.
"Lepasin, Mas. Malu, ah."
"Mendengarmu mengatakan 'ah' saja sudah membuat jantung Mas tak karuan, gimana kalau dengar langsung sekalian prakteknya," godanya seraya memainkan matanya.
"Ya Allah, kalian berdua ternyata sama aja, ya!" gerutuku kesal dan membuang tangannya kasar dari genggamanku. Aku berjalan mendahuluinya menuju musala yang berada di dekat toilet restoran ini.
Aku mengambil wudu dan seperti biasa, ia memintaku menunggunya. Maher selalu ribut ingin mengimami salatku. Bakalan seperti ini rutinitas salat setiap kali bersamanya, sepertinya.
Selesai salat, aku mengenakan kaos kaki di tepi pintu musala. Maher berdiri di belakangku, ia yang hanya memakai sandal gunung membuatnya tidak terlalu repot dan buru-buru.
Kemudian dia beralih, berjongkok di depanku dengan melipat kedua tangannya di atas lutut. Menatapku dengan saksama, membuatku risih saja.
"Siti Maryam, bolehkah aku mencium pipi gemasmu itu di sini?" tanyanya yang membuatku mematung dan mata membulat sempurna.
"Kamu beneran dipanggil dengan sebutan Ustadz di Kairo sana?" tanyaku penasaran karena sikapnya jauh dari seorang Ustadz.
"Serius. Bahkan mereka menghormatiku seperti aku menghormati Ustadz Abdul Latif, Abimu," jelasnya yang sebelumnya ia memang sempat bercerita kalau di Kairo ia juga mengajar mahasiswa tingkat di bawahnya yang sesama dari Indonesia.
"Ustadz genit? Atau Ustadz omesh?" ejekku yang membuatnya membulatkan matanya sempurna. Lalu terkekeh mendengar ucapanku barusan.
"Ustadz Safar. Mereka memanggilku Ustadz Safar, bukan Ustadz Omesh, Sayang."
"Omesh itu Otak meshum," jawabku tergelak dan meninggalkannya setelah selesai memakai sepatu. Terdengar langkahnya yang berlari kecil di belakangku, lalu mencium pipi sekilas.
Berjalan mendahuluiku, dengan tangan menyatu di belakang pinggang. Tersenyum penuh kemenangan. Aku celingukan takut ada yang melihat. Tidak normal rasanya jika orang melihat kami melakukan kontak fisik dengan pakaian yang aku kenakan sekarang.
Aku mengelap bekas ciumannya, menatapnya tidak percaya. Orang yang membencimu tidak percaya itu dan yang menyukaimu tidak butuh itu. Begitu istilah yang sering aku dengar. Jika kami sampai ada yang merekam, pasti akan dihujat habis-habisan. Tidak ada yang tahu bahwa kami sudah menikah di sini.
__ADS_1