
Aku mengemudikan mobil dan menuju butik tempat biasa. Memilah baju yang pas untukku. Satu titik, mataku fokus pada lingerie yang berada di sudut sana.
Warna merah mencolok juga bentuknya yang unik, menampakkan lekuk tubuhku jika mengenakannya. Membayangkannya saja sudah memacu adrenalin. Apalagi kalau Maher sampe lihat.
Aku melangkah cepat ke sana. Sembunyi-sembunyi untuk membelinya. Malu jika ketahuan sama Mami. Kupeluk baju transparan itu, lalu menuju kasir.
Mami masih berada di ruang ganti. Kakiku gelisah, mulut berdoa agar Mami tidak memergoki. Sebagai wanita dan seorang istri, aku juga ingin melakukannya dengan baik.
Paper bag sudah di tangan, aku menarik napas lega. Melihat isinya seraya terkekeh sendiri. Kalau dipikir-pikir, untuk apa dibeli. Suami juga jauh di sana.
"Sayang, kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" Mami menghampiri diri ini yang sudah duduk di sofa yang disediakan pihak toko.
"Enggak apa-apa, Mi."
"Mami bayar baju ini dulu, ya." Aku mengangguk penuh semangat lalu mengirim foto yang sempat kuambil sebelum membeli baju dinas malam sebutannya begitu. Mengirimnya pada Maher.
"Mas, gimana menurut kamu?"
"Masya Allah, Mas jadi pengen cepet-cepet pulang biar bisa langsung terkam kamu," balasnya diiringi stiker cium.
"Pulanglah secepatnya. Kalau perlu nanti malam," godaku yang tidak mungkin ia akan datang.
"Oke. Tunggu di kamar, ya. Jangankan nanti malam, sekarang pun Mas siap tempur," balasnya lagi yang membuatku tergelak.
"Kamu kenapa, Sayang? Lagi bahagia, ya?"
"Ini, Mi. Mas Safar bikin aku ketawa sama leluconnya."
"Oh. Safar memang begitu. Sejak dia memutuskan untuk masuk ke pesantren, dia selalu berusaha menghibur Mami yang nggak rela meninggalkan dia sendiri di sana. Mami sering berkunjung, tapi dia marah. Karena Mami setiap datang pasti nangis."
"Hehe, 'kan Mami ada Daffa."
"Waktu itu Daffa belum ada, Sayang. Safar masuk pesantren saat umur tujuh tahun. Dia sendiri yang minta. Mungkin karena sering lihat Abahnya yang bolak balik ke pesantren untuk sekadar mengisi dakwah dan mengajar."
Cukup lama kami bercerita di rumah orang tua Daffa. Hingga langit sudah berwarna jingga. Aku memutuskan pulang, tapi tidak diizinkan sama mereka dengan berbagai alasan.
__ADS_1
"Mi, Siti pamit pulang, ya."
"Yah, Mami sendirian lagi, dong."
"Kan ada Daffa, Mi."
"Kamu nginap, ya. Ini 'kan hari Jumat, besok kamu juga libur 'kan?" aku mengangguk lemah, "ya, nginap ya," bujuknya dengan wajah yang memelas.
"Ya udah, Siti nginap. Sebentar telepon Abi sama Ibu dulu ya, Mi."
"Ya, Sayang."
Aku dengan cepat mengambil ponsel dari tas selempang yang selalu kubawa. Menelepon ibu untuk sekadar memberitahukan mereka bahwa aku ditahan di rumah besar ini.
Setelah mendapat izin dari mereka, aku mengirim pesan pada Maher. Mengingat hari yang hampir Magrib, aku putuskan menuju kamar Maher untuk membersihkan diri dan segera melaksanakan salat.
Selesai salat, aku yang tidak sabar langsung mengetes pakaian dalam yang kubeli tadi. Lagian, tidak ada orang juga di kamar ini.
Paper bag aku letakkan di sofa. Bajunya sangat menggoda, aku bercermin bergaya ke kanan dan kiri, berbalik untuk melihat sisi belakang menampakkan punggungku yang putih mulus.
Rambut lurus sepinggang kubawa ke arah depan. Lingerie ini benar-benar membuatku terlihat jadi wanita nakal. Kebangetan seksinya. Bahkan, aku tidak wajib mengenakan bra. Hampir terlihat telanjang sempurna, cuma kain tipis berbahan sutera ini yang melapisi seluruh tubuh.
Sebuah pesan masuk di gawai. Aku menoleh ke atas meja rias dan menghampiri benda pipih itu.
"Mas udah siap tempur, Sayang."
"Baiklah, kalau begitu silakan masuk," balasku yang tertawa ngakak. Aku memoles wajah dengan make up dan lisptik merah terang. Benar-benar mirip wanita malam aku begini, batinku setelah berhias.
Knop pintu bergerak, aku menyapu pandangan ke arah itu. Jantungku berdegup kencang, berpikir mungkin itu Maher yang datang. Namun, tak kunjung ada yang masuk. Mungkin itu khayalan dan anganku saja berharap ia hadir dan melihatku yang mengenakan ini.
Kumandang azan Isya terdengar, aku dengan cepat mengambil air wudu tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Toh, mengenakan mukena, jadi masih sah jika melaksanakan salat.
Menunaikan salat Isya, lalu bergegas turun. Sebelumnya aku sudah mengambil gamisku di lemari. Ya, beberapa gamis milikku sengaja aku sediakan di sini.
Aku yang bosan, ingin mencari angin segar di sekitar kompleks. Ada taman di dekat pojokan kawasan elite ini. Aku duduk di kursi besi seraya memandang langit malam dengan ribuan bintang.
__ADS_1
"Masya Allah, indahnya," pujiku dengan terkagum akan ciptaan Allah.
"Benar. Indah banget," sahut seseorang yang sangat kukenal suaranya. Aku menoleh ke arahnya yang berdiri, aku sontak bangkit. Namun, kakiku tersandung batu karena buru-buru akan meninggalkannya takut terkena fitnah.
Tangan berurat Pasha segera merengkuh tubuhku yang hampir jatuh. Kami bertatapan sekian detik. Kelima jarinya berada di pinggangku, hingga aku mendekat ke arahnya tak berjarak.
"Sayang?" Sontak kami menoleh ke arah Maher yang berdiri di tepi jalan. Mataku melotot tidak percaya.
"Kurang ajar!" Ia melayangkan satu pukulan di wajah Pasha. Menarik tanganku paksa. Mendorong tubuhku masuk ke mobilnya.
Wajahnya merah padam, memukul setir kuat. Tatapannya mematikan aku.
"Jadi ini kelakuan kamu selama aku nggak ada? Ya?!" bentaknya yang membuatku tersentak. Tidak ada gunanya menjelaskan padanya yang sedang dipenuhi emosi.
"Jawab aku, Siti!" teriaknya lagi yang sudah memarkir kendaraannya di rumah besar ini.
Kami turun seolah tidak terjadi apa-apa dan langsung menuju ke atas. Sesampai di kamar, ia melemparkan tubuhku di atas kasur kuat. Aku meringis kesakitan saat lututku terkena siku ranjang kayu ini.
"Mas, kamu lagi emosi. Aku nggak mau kita ngelakuin ini saat kamu tengah begini." Ia tidak bergeming, justru semakin liar dan melucuti pakaianku dengan paksa. Meski aku memberontak dan beringsut menjauh, Maher justru semakin menggila.
"Mas, aku mohon. Jangan seperti ini." Ia tidak menghiraukan kata-kataku. Ia yang kalut pun akhirnya menancapkan luka di daerah kewanitaanku. Aku menjerit tanpa suara, tanganku meremas sprei kuat dan menumpahkan tangis. Menahan sakit yang luar biasa.
"Argh ...!" teriaknya lalu bangkit meremas rambutnya kuat, "bahkan nama Siti Maryam tidak pantas untukmu!"
Aku tercengang mendengar penuturannya. Aku keluar dengan tangis yang sudah membanjiri pipi. Tidak kupedulikan abah, mami juga Daffa yang memanggil dan bertanya padaku.
Pikiranku kacau dan berjalan tanpa angan. Hujan turun setelah tidak jauh aku melangkah melewati pos satpam. Beliau yang sepertinya tanda, menghampiriku seraya memayungi diri ini. Namun, aku tetap berjalan dengan tatapan kosong.
Sampai akhirnya tangan berurat memayungiku. Aku yang sedang berantakan memandang ke arahnya yang mengikuti langkahku.
Aku terus menjauh dari Pasha. Menjaga jarak, tidak ingin timbul fitnah dari orang sekitar yang melihat. Cukup Maher yang berpikiran negatif tentangku, jangan tambah orang lain lagi.
Aku tidak akan sanggup jika mereka yang mengenaliku akan mencemooh abi juga keluarga Maher.
"Ti, bukannya kamu tidak bisa melakukannya karena aku?"
__ADS_1
Aku yang merasa pusing, mendadak semua pandangan menjadi gelap. Setelahnya aku tidak tahu apalagi yang terjadi.
Saat mengerjapkan mata, aku melihat semua orang berada di depanku. Terutama Maher. Aku yang belum sepenuhnya kembali dengan kesadaran penuh berkata, "Bahkan, dalam mimpiku pun aku merindukanmu." Aku mengelus pipinya dan kembali memejamkan mata.