
"Tunggu, Sayang." Maher menahan pergelangan tanganku. "Maaf, saya tidak ingat dengan Anda. Juga, ini istri saya, Siti Maryam. Silakan dilanjutkan perjalanannya. Assalamualaikum."
"Oh, ya Ustadz. Waalaikumsalam." Aku seperti terbang ke awan melihat sikap Maher yang begitu membatasi diri dengan kaum hawa.
"Masih cemberut aja sih, Sayang."
"Nggak, siapa yang cemberut. Perasaan Mas aja tuh."
"Kamu kayaknya belakangan ini sensitif banget. Mau PMS, ya?"
Aku terbelalak melihat ke arah Maher. Aku seperti mengingat sesuatu.
"Mas, aku kayaknya belum haid deh bulan ini."
"Kamu serius?"
Aku merogoh tas mencari keberadaan ponsel, untuk mengecek kalender khusus yang aku unduh. Menyapu jemari di layar dan membuka aplikasi. Benar saja, sudah lewat satu minggu dari tanggal biasanya haid.
Maher mendekat dan ikut melihat yang ada di tanganku.
"Udah telat, Sayang?"
"He eh, Mas. Satu minggu."
"Kita periksa ke dokter sekarang, ya?"
"Jangan, Mas. Aku belum yakin, entar aja kalau udah sampe di Indonesia. Dari yang sering aku dengar, sih itu normal kalau masih telat satu minggu."
"Oke. Kamu terakhir mens kapan?"
"Seminggu sebelum kejadian itu. Pas kamu mukul Pasha kemarin, itu masa suburnya."
Maher memainkan jemari di sekitaran dagu, tampak berpikir keras. "Kalau kamu langsung hamil berarti Mas paten, dong. Sekali tancap gas langsung ada hasilnya. Hehe."
"Ck! Ustadz Omesh, nggak jauh-jauh itu pikiran. Tapi, Mas kalau beneran aku hamil, kegiatan begituan harus dikurangi lho."
"Akh, masa'?"
"Ho oh, karena masih hamil muda jadi rentan. Katanya sih begitu."
Maher mengerucutkan bibir lima centimeter ke depan. Ya, pasti dia tengah menggalau tidak bisa bermain sepuasnya lagi. Baru juga beberapa minggu menikmati indahnya surga dunia.
Aku menyusun beberapa pakaian juga oleh-oleh dari Dubai untuk keluarga di Indonesia. Ya, sebelum ke arena flying fox kami menyempatkan diri membeli oleh-oleh. Aku juga ingat akan Bu Ira dan para sahabatku.
__ADS_1
"Sayang, memangnya kalau hamil bener-bener nggak boleh begituan, ya?"
"Em, tergantung sih Mas. Ada yang justru hobinya begituan, ada yang sama sekali nggak boleh. Tergantung hormon juga kondisi kandungannya."
"Mudah-mudahan kamu di hormon yang hobi begituan, ya. Mas siap kapan pun kamu mau, Sayang."
**LA**
Rombongan jamaah untuk menunaikan ibadah umrah sudah berkumpul. Kami juga sudah mengenakan tanda pengenal di leher.
Kami sudah tiba di Mekah, lepas salat Subuh tadi. Serangkaian tata tertib dari pihak jasa umrah dan travel telah disampaikan. Jujur, aku merasa sangat gugup. Ini pertama kalinya dalam hidup menginjakkan kaki di tanah suci.
Ka'bah yang merupakan kiblat seluruh umat muslim dunia ini, terpampang nyata di depan mataku. Masya Allah, membayangkan melihatnya langsung saja masih jauh dari harapanku. Namun, Allah memiliki rencananya sendiri mengirim umat-Nya untuk lebih dekat dengan-Nya.
Mataku mulai mengembun, memandangi Ka'bah yang idaman semua umat muslim untuk bisa menyentuhnya. Apalagi menciumnya, betapa inginnya aku untuk bisa sampai ke titik hajar aswad.
"Sayang."
Aku menyapu bulir yang menetes di ekor mata.
"Kamu kenapa?"
Aku langsung memeluk Maher, "Mas, aku nggak nyangka bakal berada di sini sekarang." Aku menangis terharu, Maher mengusap pucuk kepalaku.
"Insya Allah, kalau Allah kasih rezeki lagi, kita bakal sering ke sini, ya." Aku mengangguk, masih memeluknya dengan erat. "Udah, dong. Malu sama rombongan."
"Apa lagi hamil?" balas seorang wanita pertengahan lima puluhan.
"Sepertinya begitu, Bu."
"Wah, alhamdulillah sekali dia. Anak kau itu dirahmati Allah," sambung pria berbadan tegap dengan logat daerah Sumatera.
"Alhamdulillah. Bantu saya jaga dia, ya Pak, Bu."
"Oalah, ya udah pasti itu."
"Ya, tenang saja kau. Sudah pasti kami jaga dia."
Maher terus berbincang dengan mereka yang sesama dengan kami dari Indonesia. Aku hanya mengulum senyum dan terkadang ikut menimpali kala ditanya.
Sebelum ke hotel, kami menyempatkan diri untuk salat di Masjidil Haram. Sujud syukur dengan segala nikmat yang Allah berikan. Aku masih belum percaya, kalau saat inu aku tengah mengerjakan salat berjamaah di masjid mewah kebanggaan umat muslim.
Aku menangis haru, kala melaksanakan salat. Benar, aku sama sekali tidak khusyuk kali ini. Harusnya, aku lebih mendekat pada-Nya mengingat tempatku berpijak sekarang.
__ADS_1
Kembali aku mengulang salat mengikuti imam yang tengah melantunkan ayat suci Alquran yang begitu menyejukkan hatiku.
Setelah selesai, wanita lima puluhan tadi menyapa. Ia mengambil jemariku, lalu mengusapnya. "Nak, di tempat kita sekarang ini, saya akan menganggap kamu sebagai putriku. Aku akan menjaga kamu, semampuku. Boleh 'kan?"
Aku mengerutkan kening, menahan bulir bening yang sudah terkumpul di pelupuk mata. "Jika suamimu sibuk dan tidak sempat memperhatikan kamu, itu tugasku untuk mendampingimu."
Betapa baiknya ibu ini, aku sama sekali tidak mengenalnya. Hanya bertemu beberapa jam yang lalu. Beliau terlihat begitu tulus. Nurjannah, itu nama yang tertera di tanda pengenalnya.
"Terima kasih, Bu."
"Kalau ada apa-apa, panggil saya, ya. Kamar kita sebelah-sebelahan."
Aku mengangguk lalu keluar bersama beliau setelah melipat mukena tadi. Maher sudah berdiri menunggu di halaman masjid yang memiliki lima menara ini.
"Udah selesai, Sayang."
"Udah, Mas."
Pihak travel kembali mengumpulkan kami, untuk besok pagi melakukan tawaf dan serangkaian acara besok. Titik temu, di lobi hotel.
LA**
Kami sudah pulang dari Mekkah, kota yang terkenal dengan kesuciannya. Tempat idaman semua muslim di seluruh dunia.
Sesampai di rumah, Maher membawa dua buah koper berisi pakaian dan juga oleh-oleh dari kedua negara yang kami kunjungi kemarin.
Aku berjalan lunglai menantikan Maher membuka kunci rumah. Berjongkok dengan memandangnya yang sibuk mengutak-atik knop pintu.
"Capek ya, Sayang?"
"Ya, Mas. Capek banget. Akhir-akhir ini gampang banget kecapekan."
Maher mengelus pucuk kepalaku, dengan mengerucutkan bibir. "Duh, kasihannya zawjati, Mas."
Setelah pintu terbuka aku langsung merebahkan diri di sofa. Dua minggu lamanya kami meninggalkan rumah. Aku juga rindu dengan abi, ibu, mami juga abah. Ah, mereka semua sangat kurindukan.
Maher meletakkan kedua koper ke dalam kamar, lalu duduk di sampingku. Aku sontak menutup mulut dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perut. Mungkin mabuk perjalanan. Juga, kami belum melakukan pengecekan ke dokter kandungan.
"Besok kita ke dokter, ya."
"Ya, Mas."
"Mas perhatikan postur tubuh juga dada kamu sedikit berbeda, Sayang. Terlihat membengkak. Kemarin sempat cium hajar aswad, kan?"
__ADS_1
"Hah?"
"Kayaknya enggak, Mas." Maher terlihat menarik napas dalam. Mungkin ia berpikir, seandainya aku mengidam kalau tidak keturutan bakal ngiler anaknya. Begitu mitos yang dipercaya selama ini.