Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Keputusasaan Maher


__ADS_3

Ia bangkit lalu berjalan menuju ke tepi kasur. Aku menutup pintu kamar mandi. Memeluk lutut, menenggelamkan wajah di sana.


Mengapa aku masih belum bisa melayaninya. Jujur, aku juga menginginkan yang lebih dari itu. Tapi kenapa aku justru menolaknya. Harga dirinya sebagai lelaki pasti tercoreng.


Suara ketukan pintu menghentikan tangisku. Ya, aku menangis merasa bersalah juga malu.


"Sayang," panggilnya yang membuatku semakin sesegukan.


"Hatinya terbuat dari apa?" desisku pelan. Aku membuka pintu, meski dalam keadaan telanjang. Aku tidak peduli. Bila ia ingin menerkam, akan kupasrahkan tubuh ini.


"Astaghfirullah," ucapnya yang langsung memelukku. Ia mengusap mayangku, "maafin, Mas ya, Sayang. Naluri Mas menyuruhnya melakukan itu."


Ia mencium bahuku. Air mata semakin beranak sungai mendengarnya yang menyalahkan dirinya. "Ini ada gamis Mami, kamu coba, ya. Siapa tahu muat. Setelah itu, kita salat. Waktu Ashar udah hampir habis. Yuk!"


Ia melepaskan pelukannya lalu mengusap bulir bening di wajahku dengan kedua ibu jarinya.


Aku pun mengikuti perintahnya. Setelahnya, kami duduk bersama ibunya. Mata bengkak dan sembab tidak bisa aku tutupi dengan make up.


Halaman rumah belakangnya luas, terdapat beberapa pohonan rimbun juga pendopo bercat warna kayu. Bu Ana tidak banyak bertanya dengan kondisi mata yang mungkin ia tidak begitu memperhatikan perubahannya.


"Kalian suka nggak?" tanyanya saat menunjukkan undangan dengan tulisan emas berwarna hijau tosca. Juga satu set kebaya lengkap dengan baju pengantin pria.


"Gimana, Sayang?"


"Ah? Em, suka Bu. Pilihan Ibu bagus. Cantik, aku suka."


"Panggil Mami, ya," ucap beliau dengan penuh antusias. Aku mengangguk lemah.


"Malam ini kalian nginap di sini, ya?"


"Besok Safar harus ngajar, Mi. Lagian, Siti juga nggak bawa baju ganti."


"Besok jadwal mengajarku siang, Mas."


"Oh, ya? Wah, kalau begitu, besok kita ke butik langganan Mami, ya. Sekalian fiting baju pengantin yang lain untuk kalian."


"Safar nggak bisa, Mi."


"Mami juga ngga ajak kamu!" serunya yang mengundang tawa di wajah Maher.


"Mami, bikin aku malu aja di depan istri aku." Wanita berwajah kecil ini juga terkekeh melihat anak sulungnya itu.


"Daffa ikut Mami, ya." Daffa ikut nimbrung. Bu Ana mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Kamu harus kuliah. Lagian, Mami cuma pengen berduaan sama menantu Mami."


"Ck!"


"Udah nasib kita yang terasing kalau udah begini," ucap Maher yang merangkul adiknya.


"Pinggirin tangan kamu, Kak. Kita ini saingan," ucapnya yang menggerakkan kedua jarinya di depan mata mengarah ke Maher lalu pergi dengan tangan yang diletakkan di saku celana.


"Aku udah cium dosen kesayangan kamu. Bentar lagi, kamu bakal punya keponakan!" teriak Maher yang mengganggunya.


Aku menepuk lengan berotot Maher pelan. "Mas kok bilang gitu, sih. Malu," bisikku yang menarik ujung bajunya.


"Sengaja, Sayang. Lucu lihat ekspresinya. Lihat tuh," ucapnya menyuruhku mengarah ke Daffa yang sedang mengepalkan tangan dan siap melayangkannya pada Maher.


Maher menghindar dan dikejar oleh Daffa. Mereka berdua lari tunggang langgang meninggalkan kami.


"Astaghfirullah, Mami malu lihat mereka begitu. Dari dulu selalu begitu kelakuannya. Maher hobi isengin Daffa, sedangkan Daffa hobi emosian. Jadi, ya begitulah," ucap beliau menghela napas.


"Kamu maklum, ya?"


"Ya, Mi."


Azan Magrib berkumandang, kami salat berjamaah di ruang salat. Maher menjadi imam diminta oleh Ustadz Zainudin.


Dari wajahnya, ia seumuran denganku. Tidak mengenakan hijab, hanya rambut yang diikat satu. Tubuhnya cukup ideal untuk seorang wanita.


"Makasih, ya Ijah."


"Ya, Bu." Ia menunduk sebentar lalu pamit meninggalkan kami. Ayam goreng, daging sambal, sayur capcai, dan buah telah tersusun rapi di hadapan kami semua.


Ustadz Zainudin memimpin doa, lalu kami menyantap makanan yang sudah tersedia. Selesai makan, pembicaraan hangat dan santai melengkapi malam pertamaku di sini.


Kami beralih ke ruang tamu. "Nggak nyangka, baju Mami ternyata cocok sama kamu, ya. Kamu mau lagi nggak, biar kita pilih di kamar Mami."


"Nggak usah, Mi."


"Udah, ayo. Mami akan pilih yang paling bagus untuk kamu," ucapnya langsung menarik pergelangan tanganku menuju kamarnya.


"Mi, nggak usah. Siti percaya pilihan Mami."


"Ya, Mi. Safar bawa Siti ke kamar, ya. Pengen ngobrol," ucap Maher membuat wajah ibunya bersungut.


"Ya, Mami harus ngertiin mereka, dong. Kasih mereka kesempatan untuk cepet-cepet kasih cucu untuk kita," timpal Ustadz Zainudin yang menyapu bahu istrinya.

__ADS_1


"Janji, ya kalian secepatnya kasih cucu ke Mami juga Abah."


"Insya Allah, Mi. Kami ke kamar dulu, ya."


Sesampai di kamar, Maher melepaskan genggamannya. Memintaku duduk di sofa, tepat di sampingnya. Ia menatapku lekat, kedua tangannya berada di atas pahaku.


"Sayang, boleh Mas tanya sesuatu?" aku mengangguk, "Mas sebagai suamimu berhak mengajukan pertanyaan ini. Tapi, jika kamu tidak ingin menjawab, Mas tidak memaksa."


"Ya, silakan. Insya Allah, jika aku bisa akan aku jawab."


"Kamu percaya nggak sama Mas?" aku menautkan alis, "hanya saja, Mas merasa terluka setiap kali kamu menolak. Ya, meski Mas mengatakan siap menunggu kamu," lanjutnya yang mematahkan hati dan semangatku.


Ia pernah kuberi kepercayaan, tapi dihancurkan. Pernah aku coba membuka hati untuk melakukannya, tapi direnggut paksa olehnya. Bagaimana masih ada sisa untuk itu.


"Mas, aku terlalu takut untuk melakukannya. Dari yang aku dengar, itu sakit banget," tuturku polos dan kata-kata itu memenuhi otakku. Juga, perilaku Pasha yang membuatku trauma.


"Kalau sekarang bagaimana? Mas janji kalau kamu nggak nyaman, Mas akan hentikan." Wajahnya memelas, jujur hati ini tidak tega melihat ekspresinya begitu.


"Aku nggak tahu, Mas."


"Boleh, ya? Hem?"


Jantungku berdebar sangat kencang. Aku ditodong untuk melakukannya. Aku sendiri tidak yakin, tapi hasratnya pasti benar-benar perlu disalurkan.


"Em, kalau habis resepsi aja gimana? Aku takut akan ada perubahan di diriku, Mas. Entar ketahuan sama ibu juga Mami."


Ia terkekeh mendengar ucapanku barusan. Aku sendiri bingung melihat perubahan sikapnya. "Perubahan itu wajar, Sayang. Palingan juga kamu yang jalannya agak susah," ucapnya menatapku lekat.


"Kamu kenapa lihat aku begitu, Mas? Ada yang aneh di wajahku?"


"Nggak, kamu jelek!"


"Jelek?"


"Ya, hidungmu jelek. Bibirmu jelek, matamu juga jelek," ucapnya seraya menyunggingkan senyum. Aku bersungut mendengar pengakuannya. Ia mendaratkan ciuman di bibirku.


********** penuh kelembutan hingga aku membuka mulutku. Membiarkan lidahnya bergerilya di sana. Tangannya mengeratkan diri ini, hingga dadaku merapat padanya.


"Boleh Mas melakukannya?"


Aku mengangguk lemah, seluruh tubuh terasa memanas. Kobaran api asmara tengah membara di hati kami berdua. Maher menggendong tubuhku, membawa diri ini ke pembaringan.


Perlahan ia membantuku melepas khimar. Rambut lurus sepinggang, ia selipkan di daun telingaku.

__ADS_1


"Subhanallah, kamu cantik, Sayang," pujinya yang menciumi pipi hingga ke leher jenjang yang terekspose sempurna. Menyapu ke arah dada.


__ADS_2