Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Diklat Bareng Pasha


__ADS_3

Pagi ini aku tengah menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat beberapa jam lagi. Surat dari pusat untuk pendidikan dan latihan khusus pengajar sudah keluar beberapa hari lalu.


Seluruh tim pendidik baik swasta mau pun negeri tingkat mahasiswa. Guna meningkatkan kecerdasan bangsa. Tanpa terkecuali aku dan Pasha.


Sejak tasyukuran kemarin, Pasha sering datang bersama Maher. Ia belajar mengaji dan dakwah, mungkin untuk mengisi kekosongan waktu.


Kehamilanku sudah memasuki enam bulan. Pasha masih tetap aktif mengajar anak-anak setiap minggu ditemani Maher kala ia tidak sibuk. Sejak percakapan kali terakhir Maher seperti menamparnya dengan kata-kata. Mereka juga menjadi dekat kala itu.


Sekarang Pasha terlihat rapi dan wajahnya berseri. Berbeda dari terakhir kali, saat ia tengah terguncang.


Aku mengenakan daster bermotif polkadot warna hitam, dengan tali yang diikat di belakang. Memang sedikit susah bergerak, perutku sudah membuncit cukup besar. Berat badan juga sudah bertambah sekitar dua belas kilogram.


"Sayang, nggak usah pergi, ya?"


"Nggak mungkin dong, Mas. Ini tuh udah tugas aku."


"Mas jadi sendirian di rumah, dong."


"Em, aku juga dulu sendirian di rumah. Sampe dua tahun malah."


"Beda dong, Sayang. Kamu di rumah Abi."


Aku berjalan menuju lemari, mengambil beberapa pakaian yang akan digunakan di sana beberapa hari ke depan. Tentu saja baju formal, tapi mengingat situasi yang tengah berbadan dua begini. Pihak kampus memberikan pakaian khusus untukku.


Aku memasukkannya ke koper, Maher terus saja mengekor. Susu formula juga sudah berada di dalam sana.


"Mas, jangan ikuti aku terus, dong. Aku susah geraknya ini," ucapku sesekali menopang pinggang.


"Mas nanti bakal kangen kamu sama si orok."


"Ya Allah, Mas. Cuma tiga hari doang."


"Tiga hari itu lama, Sayang. Adiknya aku gimana?"


Aku mendelik melihat Maher tajam, penuturannya barusan membuatku menghentikan aktivitas sejenak. Suasana menjadi hening di kamar yang ada sofa tantra ini.


"Maaf, Sayang."


Aku keluar dari kamar menuju dapur. Mengambil sosis dan telur dari kulkas. Berniat membuat nasi goreng sebelum pergi mengajar. Aku melirik jam dinding yang bertuliskan lafaz Allah, masih pukul tujuh.


"Mas aja, Sayang." Maher mengambil alih. Aku berdiri di sampingnya. Maher memotong sosis sambil menggoreng telur.


"Menjauh sedikit, Sayang. Nanti kamu kecipratan loh."


Aku mundur satu langkah dari posisiku tadi, tangan bertumpu pada meja dapur yang berbentuk U menyatu dengan meja bar.


"Mas."


"Hem," sahutnya berdehem yang masih terus memotong sosis, hanya menoleh sebentar.

__ADS_1


"Makasih, udah jadi suami aku." Maher berhenti sejenak, lalu meletakkan pisau di atas talenan bersama dengan sosis yang masih tersisa setengah. Ia mendekat lalu mencium keningku.


"Mas yang makasih, Sayang. Kamu melipatgandakan apa yang udah Mas kasih sama kamu."


"Maksudnya?"


"Ya, Mas beri kamu uang, kamu beri Mas makanan. Mas beri kamu setetes air mani, kamu kasih Mas seorang bayi. Mas beri kamu kasih sayang, kamu justru memberi Mas hidupmu. Begitu banyak yang kamu beri untuk hidup, Mas. Mas lebih berterima kasih sama kamu, Sayang. Makasih udah jadi istri, Mas," ucapnya lagi yang kini ia merengkuh tubuhku meski terhalang dengan perut.


Maher mengelusnya lembut dan memandangku secara bergantian dengan si jabang bayi dalam perut. Bau gosong mulai menyengat, Maher buru-buru mengangkatnya. Lalu kami terkekeh bersama.


"Gosong, Sayang."


"Nggak apa-apa, Mas. Itu buat kamu, hehe."


"Kamu nggak mau bantuin?" tanyanya dengan wajah memelas dan melihat piring berisi telur dengan warna hitam di pinggirannya dan hampir setengahnya kering kerontang. Aku menggeleng diiringi senyum mengejek.


"Bantuin," ucapnya menjembikkan bibir.


"Kasihan dong si orok, belum lahir masa' dikasih makan yang begitu."


"Ya, juga, ya. Jadi, Mas ini yang ngabisin?"


Aku mengangguk dengan tertawa geli. Ia mengambil sendok akan menyuapkan telur hasil karyanya tadi ke mulut, aku mencegahnya.


"Aku cuma bercanda tadi, Mas. Nggak usah, ya. Sekarang kita sarapan roti aja, ya."


Selesai sarapan, kami menuju mobil. Maher mengangkat koper dan dimasukkan ke dalam bagasi. Aku mengunci pintu. Maher menuntunku hingga duduk di dalam kendaraan roda empat itu.


"Nggak usah, Mas. Nggak enak sama dosen-dosen yang lain."


"Mereka pasti ngerti, kok. Kondisi kamu 'kan lagi hamil."


"Hem, terserah kamu deh, Mas." Maher terlihat bersorak 'yes', aku menggeleng lemah melihat tingkahnya.


"Singgah ke rumah Abi dulu, Mas. Aku mau pamit sama mereka."


"Oke."


"Mas, kalau ke sana jangan lupa bawa temen untuk Bu Ira, ya."


Maher yang mengemudi santai langsung menoleh dan menyatukan kedua alis.


"Temen, Mas?"


"Ya, kasihan, Mas." Maher tampak menggaruk pelipisnya.


"Insya Allah, kalau ada, ya."


Kami sudah tiba di rumah abi. Ibu terlihat duduk di depan dengan mengenakan kacamata juga jarum dan baju abi dalam genggamannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikusalam."


"Ibu nggak ke pasar?" tanyaku setelah mencium punggung tangan beliau.


"Masih jam berapa ini, Ti. Ini loh, Ibu tuh lagi jahit baju koko Abi. Heran, setiap koyak pasti selalu aja di tempat yang sama. Ya, walaupun bajunya beda-beda," jelasnya panjang lebar.


Kami hanya terkekeh mendengar penuturan ibu. "Kalian tumben pagi-pagi ke sini?"


"Ya, Bu. Siti mau pamit untuk Diklat."


"Opo yo ra bisa ditunda, Ti? Kamu lagi hamil besar itu loh."


"Nggak bisa, Bu. Udah tugas Siti."


"Tenang aja, Bu Rahma. Saya akan jaga Siti selama Diklat," timpal Pasha yang sudah bergabung dengan membawa ransel di punggungnya, "assalamualaikum," sambungnya kemudian mencium takzim tangan ibu.


"Waalaikumsalam. Kamu juga barengan Siti, Sha?"


"Ya, Bu. Seluruh dosen di Malang ini akan bergabung di sana."


"Syukurlah, jadi Ibu bisa sedikit tenang. Siapa tahu kamu ketemu jodoh di sana, ya," ucap ibu penuh semangat.


Pasha terlihat kikuk dan menggaruk kepala bagian belakangnya. Maher tampak menepuk pelan lengan berotot Pasha.


"Ibu."


"Apa, Ti. Yo 'kan bener Ibu bilang. Mudah-mudahan dapat jodoh di sana."


"Pengennya sih, Bu. Tapi kalau bisa yang kayak Siti, kalau nggak saya nggak akan mau, Bu."


"Kalau gitu, kita musuhan lagi dong, Bro."


"Aku nyerah, deh. Nggak lagi-lagi."


Kami berempat tertawa bahagia. Bu Tejo datang membawa kotak makanan dengan sedikit tergopoh-gopoh.


"Kamu kok nggak bawa sarapan yang udah Ibu buat sih, Sha? Malah ditinggal di atas meja."


"Pasha lupa, Bu. Maafin Pasha ya, Bu."


"Yowes. Ini bawa."


"Tuh 'kan, Sha. Ibu kamu loh yang repot. Coba aja ada istri," timpal ibu diiringi tertawa mengejek. Pasha hanya menanggapi dengan senyuman manisnya.


"Udah, ah. Aku mau berangkat. Nggak selesai-selesai kalau udah gabung sama ibu-ibu."


Maher merangkul bahu Pasha. "Nikah itu nikmat, Sha. Contohnya kayak aku, teratur," ucap Maher melirik ke arah perutku seraya menaikkan. kedua alis. Pasha hanya berdehem, menarik napas panjang dan berlalu tidak lupa mengucap salam.

__ADS_1


Maher memanggilnya lalu melemparkan kunci mobil, kami masuk bersama. Meninggalkan kedua ibu yang tengah melambaikan tangan kepada kami bertiga.


__ADS_2