Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
23. jalan lain


__ADS_3

pov rania.


lelah rasanya mengejar izin dari suami ku. padahal jika ia izin kan aku bekerja, aku akan tetap menjalan kan kewajiban ku sebagai istrinya dan juga ibu dari khaira. alasannya tak memberi izin aku bekerja ada benarnya juga. ia ragu jika khaira di asuh orang lain. takut terjadi seperti yang sering di beritakan. banyak terjadi penganiayaan dan pmbunuhan terhadap batita oleh pengasuhnya.


"sabar ya bun. khaira masih terlalu kecil jika untuk kita tinggal kan di asuh oleh orang lain. takut terjadi seperti yang sering di berita kan bun. ayah ga bisa bayang kan jika itu terjadi pada anak kita. tapi kalau nanti ada keluarga kita yang mau mengasuh khaira selama ibun bekerja. mungkin ayah kan beri izin" ucap suami ku dengan penuh ketegasan.


aku dapat mengerti dengan yang ia maksud kan. yang tak dapat aku mengerti ia mengatakan 'keluarga' siapa yang ia maksud ?? apakah itu ibunya ?? haaah taruhan pun aku mau. pasti mak lampir itu tidak akan mau mengasuh anak ku. sementara kuping ku jengah mendengar hinaan dan caci makinya. apa lagi ia yang sering bilang aku menumpang hidup pDa anaknya. benar- benar hinaan besar untuk ku.


aku masuk ke kamar dan ku ambil celengan yang ada di kolong tempat tidur. ku pecah kan celengan itu. aku tersenyum sumbringah melihat hasilnya.


'alhamdulillah.. mungkin ini cukup buat modal' lirih batin ku.


☆☆☆☆☆

__ADS_1


semua keperluan untung berjualan bakso dan gorengan sudah tertata rapi di rumah ku. ku manfaat kan teras rumah yang terletak di samping rumah untuk tempat berjualan.


"jualan apa nantinya ran ??" tanya kak sri salah satu tetangga rumah ku.


"oh ini kk rik, mau jualan bakso dan juga gorengan"


"waaaaa bisa jadi langganan rafka ni. soalnya si rafka sangat suka bakso loh" ia terus duduk di teras rumah ku yang boleh di bilang sekarang ia menemani ku mengelap bersih etalase.


☆☆☆☆☆


"loh bun, ga jadi jualan ya ??" suami ku sangat keheranan yang mendapati aku dan khaira lagi bersantai ria di ruang tv.


"jualan kok yah, alhamdulillah jualan ibun sudah habis" ucap ku sambil menyalaminya secara takzim.

__ADS_1


"alhamdulillah banget ya bun"


"hu'ummm"


awalnya suami ku seperti keberatan atas keputusan ku untuk berjualan di rumah. tapi aku tetap mengokoh kan hati untuk kali ini menentangnya. karena jika aku berjualan di rumah, aku akan tetap bisa mengasuh khaira dan aku pun bisa membungkam mulut ibunya jika sewaktu- waktu ia menghina ku lagi.


saat ini yang jadi perisai ku hanya lah suami ku. mungkin jika keluarga ku tak memutuskan hub dengan ku, tentu aku tak akan sedih. karena aku punya tempat berbagi dan juga suntikan semangat dari mereka. tapi kenyataanya aku hanya berdiri sendiri. jika sewaktu- waktu suami ku mengubah prinsipnya, maka sudah di pastikan aku akan hancur. bahkan jika aku di usir, aku tak akan punya tempat untuk kembali. miris memang nasib ku.


kletengg..


paaarrrrrr..


aku kaget saat mendengar seperti ada kaca yang di lempar dengan benda keras. aku melihat sekeliling rumah yang terdapat jendela kaca. namun tak terjadi apa- apa.

__ADS_1


aku melangkah menuju teras di samping rumah..


"astagfirullah.. ya allah.."


__ADS_2