
pov. kasi
hari ini genap sudah satu bulan aku di dalam jeruji besi ini. tak banyak yang datang menjengukku. suami ku pun masih terhitung dua kali ia memgunjungi ku di sini. semua berubah seiring berjalannya hukuman kurungan ku. ibu mertua ku yang dulu selalu bertekuk lutut pada ku kini kembali merendahkan ku. sungguh wanita yang tidak tau terimakasih, menjijik kan jika mengingat aku di sini karena termakan hasutannya.
ceklek...
"bu kasi.. ada yang ingin bertemu dengan mu" seorang petugas kepolisian datang membukakan pintu sel tahanan ku.
aku yang tadi duduk sambil menopang kepala di lutut ku mendongak dan berdiri mengikuti langkah sipir itu.
dari pintu ruang kunjungan aku sudah melihat siapa yang mengunjungi ku. aku tetap berjalan mengikuti sipir itu hingga duduk di hadapan yang mengunjungiku.
"bagaimana kabar mu ? apakah di sini sangat menyenangkan ?" ucapnya mengejek ku. aku hanya menarik ujung bibir sebelah kanan ku.
"atau kau sangat terkejut melihat ku masih hidup ?" sahutnya lagi. aku tak bergeming..walau ia benar, aku sangat terkejut melihatnya masih melenggang dengan sehat.
__ADS_1
"apa kau belum tau ? bibi mu yang kau banggakan memiliki ilmu hitam itu kini sudah merasakan pembaringan di liang lahat !!" mata ku terbelalak. tentu itu tidak mungkin. ia pasti tengah membual.
"hentikan omong kosong mu rania !! bahkan mulut kotor mu sangat tidak pantas mengucapkan apa-apa tentang bibi ku"
"cckkkk.. dasar keras kepala, di kasih tau malah nggak terima. atau kamu mau tau lagi fakta lain dari orang tercinta mu ?" ia menatap ku sinis dan mengambil telepon pintar miliknya. entah apa yang ia cari di telepon pintarnya itu tak lama setelahnya ia mengarahkan layar telepon pintarnya ke wajah ku. di sana terdapat foto kobar bersama laki-laki. tentu saja sangat wajar jika hanya berfoto berdua atau hanya sekedar nongkrong bersama teman laki-lakinya. yang membuat mataku terbelalak saat ini ialah selangk***an kobar di remas oleh laki-laki itu. tangan ku terulur ingin merampas telepon pintar itu dari genggaman rania. tapi bukan rania namanya jika ia mau menyerah begitu saja. dengan sigap ia menarik telepon pintarnya itu dan kembali memasukkannya ke dalam tas.
"kuatkan hati mu kasi. kau harus kehilangan bibi mu dan juga mengetahui suami mu yang belok itu. dan.. bertobat lah.. bersihkan hatimu, besok adalah sidang keputusan hukuman mu."
brakkkkk..
"tidak mungkin.. kau pasti sudah merekayasanya rania. kau juga pasti sudah membunuh bibi ku. set**n kau rania" maki ku padanya sambil menggebrak meja.
"bersikap manis lah jika ada yang mengunjungi mu. selama kau di sini, dia lah yang sering datang tanpa sepengetahuan mu. bahkan terkadang ia menitipkan makanan dan uang untuk kebutuhan mu di sini" ucap petugas itu sambil mendorong tubuhku hingga terduduk di dalam tahanan.
"kalian terlalu memihak padanya. kalian sudah ia suap dengan banyak uang. dasar petugas mata duitan" hardikku.
__ADS_1
"dasar pelaku kriminal. bukan bertobat malah semakin memperburuk keadaan" ucapnya sambil berlalu pergi dari sel tahanan ku.
aku sangat terpukul dengan kenyataan ini..pantas saja bibi ku tak pernah lagi berkunjung ke sini. ternyata ia sudah tiada dan juga kobar.. teganya dia sudah menghianatiku.
"aaarrrrrgggghhhhh !!" teriak ku frustasi. air mataku semakin deras menghujani.
satu persatu wajah mereka silih berganti bergentayangan di pikiran ku. terutama wajah ibu mertuaku, ia pasti tengah bersenang-senang menggunakan mobil yang kobar belikan untuk ku. dan juga sudah pasti menemukan di mana aku menyimpan uang dan perhiasan ku.
****
hari ini seperti yang rania katakan kemarin. akan di lansungkan sidang putusan vonis hukuman ku. tak ada satupun dari mereka yang dulu menyayangi ku datang untuk menemaniku apalagi memberi semangat pada ku.
aku hanya melihat wajah rania di sana, ia tentu bukan datang untuk meringankan hukuman ku. ia adalah rival ku saat ini. ia pasti akan memberi pernyataan yang akan memberatkan hukuman ku.
'harusnya kau mati di tangan bibi ku perempuan sialan' umpat ku dalam hati.
__ADS_1
persidangan berjalan dengan alot. hingga di dapatlah keputusan hakim yang menetapkan hukaman ku selama dua setengah tahun. rasanya tulang ku remuk mendengar hukuman yamg di jatuhkan untuk ku. jika aku sudah keluar dari sini, aku akan meminta pertanggung jawaban ibu mertua ku.
'tunggulah pembalasan ku'