Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
tak ingin mengikuti ego


__ADS_3

pov. gusti


hari ini aku tau jikalau rania akan melahirkan. dari kejauhan aku selalu mantaunya. dari ia di masukkan ke ruang operasi hingga dia di bawa keruang rawat inapnya aku hanya bisa memandangi dari kejauhan. sejak pertemuan kembali tak di sengaja dengan ibu mertua rania saat itu aku kembali berambisi untuk meraih rania kembali.


~flash back on~


"hei . kamu harus berterima kasih pada ku. berkat ku kamu kini bisa menikahi rania" ucap suara perempuan separuh baya dari belakang ku. aku yang saat itu tengah fokus mengambil vieuw gunung yang menyembul indah mendulang awan dari kejauhan puncak gundaling di sumatera utara ini lansung menghentikan aktifitas ku dan menoleh ke arah sumber suara. di sana berdiri wanita paruh baya dengan senyum penuh kelicikannya.


"berterima kasih bagai mana maksud ibu ?" ucapku sembari lebih mendekat ke arahnya.


"ya.. kalau bukan karena ide ku yang ingin memisahkan rania dan suaminya. kamu tak akan bisa menikahi rania. harusnya kau mencari ku dan memberiku imbalan. bukan diam menikmati hasil jerih payah ku, sampai tania hamil besar pun kamu gak teringat akan jasa ku." dia berucap menyombongkan diri. sebenarnya aku kaget saat mendengar ucapan dari ya. tapi aku harus terlihat biasa saja. karena jika benar rania telah berpisah dari suaminya. berarti kini ia tengah di masa rapuh. apalagi dalam keadaan hamil besar. aku tak mau jika dia mendapat gangguan lagi dari perempuan tak punya hati ini dan aku akan berusaha mendapatkan hati rania lagi.


"berapa yang ibu ingin kan ?" tegas ku, karena sebenarnya aku malas berlama-lama dengan wanita paruh baya ini. perilaku dan ucapannya sangat tak pantas jika aku harus menghargainya dengan menyematkan panggilan 'ibu'.


"aku ingin uang seratus lima puluh juta saat ini juga. atau aku akan memberi tau ahmad tentang kenyataan sebenarnya." dia mengancamku. aku hanya menarik ujung bibir ku tersenyum sinis. "kenapa, jangan kamu kira jika aku tak berani mengungkapkan semuanya pada ahmad anak ku. jika ku ungkapkan sudah pasti rania dan Ahmad akan rujuk kembali. kamu tau, jika ahmad tau kalau kita sekongkol waktu itu menjebak rania. dia akan memecahkan kepala mu." timpalnya lagi seraya terus mengancam ku.

__ADS_1


"tuliskan nomor rekening ibu.." aku menyodorkan benda pipih yang di sana terdapat mobil banking ku. ia pun dengan cepat mengambil benda itu, jarinya begitu lincah menari di atas layar telepon pintar ku. setelahnya ia berikan pada ku lagi.


"sudah ku berikan dengan jumlah yang lebih besar dari yang kau minta. sekarang pergilah. jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi" aku kembali menyodorkan layar telepon pintar ku. karena di sana terdapat bukti transaksi yang sudah selesai lengkap dengan jumlah nominalnya. ia tersenyum lebar, sudah pasti orang tua mata duitan itu sangat senang. karena baginya uang adalah segalanya. tak mengapa aku memberikan uang ku sebanyak dua ratus juta padanya. karena bagiku nilai rania lebih dari semua yang ku miliki. setelah punggung wanita mata duitan itu tak terlihat, aku mencari nomor rania yang pada saat kami ingin menjebak rania wanita itu sudah pernah memberikannya pada ku. "aku harus mencari kebenarannya" monolog ku.


tapi pesan yang aku kirim hanya di baca oleh rania. beberapa saat aku sangat gelisah menunggu balasan darinya. tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda ia akan membalas pesan ku. hingga aku memutuskan untuk menelfonnya. entah berapa kali aku menelfonnya, tapi tetap tak mendapat jawaban darinya. aku tak menyerah, aku terus menelfonnya. tekat ku jika dia tak menjawab telepon ku, aku akan menemuinya sekali lagi. tapi ketika qku sudah ingin menyerah rania tiba-tiba menjawab telepon ku. tapi responya tak seperti yang ku inginkan. hati ku yang tadi bahagia seketika menjadi hambar lagi.


lagi, aku mendapat penolakan dari rania.


~flash back off~


dari luar pintu ruangan rawat inap rania aku masih bisa mendengar suaranya dan karyawatinya berbicara. sungguh, aku sangat bisa mengerti jika yang rania lewati saat ini bukan lah hal yang mudah. seketika egoku memudar. namun juga tak benar-benar terkikis. aku sangat ingin memiliki rania. tapi juga tak ingin memaksakan hatinya untuk ku.


"aarrrggghhh.." rasanya aku frustasi. tak tau apa yang harus ku lakukan untuk membuat rania baik-baik saja. aku berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan rania. hingga yang berlalu lalang sesekali melirik ke arah ku. tentu saja mereka heran melihat gelagat ku.


"kamu siapa ?" karyawati nampak sudah berdiri di depan pintu sambil menaikkan alisnya pada ku.

__ADS_1


"akku.. a-akku gusti.." jawab ku gugup. karena sorot matanya seperti sedang menguliti ku.


"ngapain kamu mondar mandir di sini ? udah kayak setrikaan aja kamu.."


"eh itu.. saya mau nengokin rania.."


"kak rania sedang tidak ingin di ganggu. jadi sekarang pergilah." usirnya sambil menunjuk agar aku menjauh.


"tolong lah. aku hanya ingin menebus kesalahan ku padanya"


"kesalahan apa ? ooooo... jangan-jangan kamu laki-laki yang sudah menghancurkan rumah tangga kak rania ya ?" aku melongo karena dia menebak dengan benar. " punya salah apa kak rania sama kamu. sampai-sampai kamu mau di peralat oleh ibu mertuanya kak rania ?" aku semakin tak bisa berkata apa-apa. yaa, yang ia katakan itu benar. aku adalah biang masalah dalam hidup rania. oh tuhan.. rasanya aku ingin mati saja saat ini.


"hei.. mengapa hanya diam ? sekarang puaskan melihat kehancuran kak rania ?. asal kamu tau, kak rania sempat ingin mengakhiri hidupnya. ia menyerah karena merasa sudah tak sanggup." aku semakin terenyuh. sebesar itu kah kesalahan ku ? aku memgusap kasar wajah ku. tak terasa air mataku luruh begitu saja. sebagai lelaki aku sudah tak sanggup untuk tidak menangis.


"aku ingin berbicara dengan rania. aku ingin minta maaf. tolonglah izin kan aku menemuinya." aku menyatukan kedua telapak tangan ku memohon padanya.

__ADS_1


"tidak... jangan menampakkan wajah mu di hadapannya. itu akan membuat hatinya semakin sedih. itu semua tentu tak baik bagi masa pemulihannya dan juga sangat berpengaruh pada hormonnya dan bisa jadi akan menggangu produksi asinya. jadi pergi lah.. kau tak di perlukan di sini!"


__ADS_2