Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
tertutup sudah


__ADS_3

"sampai mati pun kau tak akan di terima di sini" dengan suara tinggi ibuku menghardik wanita yang tengah bersimpuh di kakinya.


aku rasanya nyeri ketika mendapati kalau wanita itu adalah rania.


"mau apa lagi kamu ke sini ?" ucap ku yang lansung mengalihkan pandangan rania ke arah ku.


"yah . maaf kan ibun. ibun di jebak, ayo lah kita pulang bersama khaira anak kita" ucap rania dengan berurai air mata.


"di jebak kamu bilang ? bukan kah dia cinta di masa lalu mu ? kamu sekarang bebas rania.. aku talak kamu sekarang juga. mulai saat ini kamu bukan lagi istri ku. pergilah kau dari hadapan ku"


"y-yahh.. jangan lakukan ini pada ku. aku mohon. pikirkan baik-baik, kita punya khaira yang harus kita besarkan bersama" ucapnya dengan suara terbata.


"ckkk.. jangan jadikan khaira sebagai senjata mu rania. punya malulah sedikit, lebih baik kau pergi dari sini dari pada menambah banyaknya daftar kebohongan mu"


"ini semua ide ibu mu yah.. dia yang sudah bekerja sama dengan gusti.. aku mohon yah, mohon dengan sangat jangan ceraikan aku."


"hei ******.. sudah ketahuan borok mu masih saja berusaha membawa-bawa nama ku. dasar manusia udik" ucap ibu yang tak terima dengan tuduhan rania dan menendang wajah rania yang masih belum merubah posisi bersimpuhnya.


"baik lah.. kalian boleh merasa di atas angin sekarang. tapi ingat.. aku akan merebut hak asuh khaira dari mu. kamu akan menyesali keputusan mu" kali ini rania menghapus air mata yang sejak tadi berlinang di pipinya. dengan gontai ia berlalu dari rumah kediaman ibu ku.


sementara ibu ku mengembangkan senyum yang aku tak tau artinya apa.

__ADS_1


hari ini hari pertama aku bekerja di dorsmeer mobil itu. khaira ku titipkan pada ibu ku. walau ibu sempat menolak. tapi ayah berhasil membuat ibu setuju untuk menjaga khaira selama aku bekerja.


waktu berjalan tanpa beban. karena aku menyibukkan diri bekerja. jadi aku tak sadar kalau kini sudah sore. sesampainya di rumah ku dapati khaira menangis di lantai ruang tamu ibu. keadaannya sangat kotor. bahkan baju yang di pakai khaira masih baju yang tadi pagi aku kenakan.


"sayang.. kamu kenapa nak ? ini ayah udah pulang. kamu belum mandi ya? cup cup cup.. tenang nak.. ini ayah.." aku berusaha menenangkan khaira. lima belas menit kemudian akhirnya tangis khaira reda juga. aku memberinya susu formula dan setelahnya aku bergegas memandikannya.


"maaf ya sayang.. kamu pasti kecarian ayah ya nak ? hmmm putri kecil ayah.. hehehe.." aku pun tertawa melihat tingkah lucu khaira yang merespon ucapan ku.


"buuu.. ibu... " aku mencari keberadaan ibu setelah aku memandikan khaira.namun batang hidung ibu tak juga bisa ku temukan. ku lihat di lemari yang biasanya di jadikan ibu untuk menyimpan makanan, tak ada apa-apa juga di sana. padahal aku sangat lapar dan aku juga yakin kalau khaira pasti juga sangat lapar.


"udah makan enaknya ?" ucap ibu saat aku dan khaira memasuki rumah.


"hoho.. lagaknya !! miskin kelas akut aja pakek sok makan di luar. kalau di rumah berlagak tak punya uang."


"bu.. aku dan khaira sangat lapar. sepertinya seharian ini ibu juga tak memberikan khaira makan. tega ya ibu sama anak ku. apa begitu cara ibu pilih kasih ? bahkan memandikan khaira pun ibu tak mau !!" ucap ku menyalurkan uneg-uneg di hati ku.


"berani ngasih duit berapa kamu hahh ?? gak punya duit aja pakek acara minta anaknya di urus segala.."


aku membuang nafas dengan kasar. secepatnya aku berlalu dari hadapan ibu. berlama-lama bertatap muka dengannya bisa membuat ku habis kesabaran. jika nanti aku sudah punya uang buat mengontrak rumah, aku akan pergi dari rumah ini. walau sebenarnya aku sangat berhak tinggal di rumah ini. karena hampir dari setiap sudut ruangan ini di bangun menggunakan uang ku.


keesokan harinya aku memutuskan membawa khaira ke tempat aku bekerja, walau mendapat pandangan miring dari teman-teman sesama pekerja. tapi aku tak punya pilihan lain, khaira tak mungkin aku tinggalkan. aku tak mau khaira di telantarkan oleh ibu ku lagi.

__ADS_1


"kamu d sini saja main-main ya nak. ini ada sedikit roti buat cemilan mu. ayah mau kerja dulu ya sayang ayah.. mmuahh.." aku memberi pengertian pada khaira agar dia diam di tempat yang sudah aku siapkan untuknya.


"iya yah..." hanya itu jawaban khaira.


akhirnya pekerjaan hari ini bisa selesai hingga jam bekerja berakhir.


"anak pintar.. makasih ya sayang sudah mengerti keadaan ayahnya." tak henti-hentinya aku memeluk khaira yang kini berada di gendongan ku selama perjalanan pulang. hari ini ia sama sekali tak rewel. bahkan sedikitpun tak menyusahkan ku. sepertinya rania berhasil mendidiknya menjadi anak penurut dan juga aku yakin akan membanggakan ku kelak.


'aaahhhh raniaa. kenapa kamu harus berselingkuh' lirih batin ku yang membuat ku terasa frustasi.


sesampainya di rumah ku lihat koper yang berisikan pakaian ku dan khaira sudah berada di teras rumah. tanpa memyentuh koper itu terlebih dahulu aku lansung melangkahkan kaki memasuki rumah.


"kamu cari rumah kontrakan saja ya ahmad. kamar mu itu di tempati kasi. dia sedang hamil besar, jadi dia mau nginap di sini sampai nanti lahiran" dengan wajah tak bersalah ibu memintaku untuk pergi dari rumah ini.


"tapi aku tak punya uang buat mengontrak rumah bu." ucap ku memelas.


"halah nggak usah drama kamu. mana mungkin kamu nggak bawa sedikitpun uang saat keluar dari rumah rania" cerocos ibuku yang semakin membuat ku merasa sakit.


"benar bu. lagian aku juga tak menempagi rumah ini cuma-cuma. bukan kah untuk merenovasi keseluruhan rumah ini menggunakan uang ku yang ku tabung pada ibu dan juga menggunakan pinjaman bank yang aku bayar cicilannya setiap bulan ? jadi aku berhak untuk sementara ini tinggal di rumah ini bu."


"ohhh.. kamu ternyata sudah pintar hitung-hitungan ya dengan ku. uang mu tak lebih bernilai di bandingkan usahaku menjaga mu saat dalam kandungan, melahirkan mu dan memberi kehidupan pada mu hingga kau mengerti untuk bekerja. kalau begitu kembalikan air susu ku yang sudah menjadi darah daging mu !" aku ternganga saat mendengar perkataan ibu ku, bukan niat ku untuk mengungkit. tapi.. ya tuhan.. aku tak tau harus apa saat ini. aku juga tak menyangka ibu ku akan setega ini pada ku.

__ADS_1


__ADS_2