
pov. rania
tap..
tap..
tap..
terdengar derap langkah seorang wanita yang menggunakan sepatu jenis pansus mendekati ku ketika aku duduk di meja kasir cafe ku siang ini.
"heh.. jahanam.. apa maksud kamu mengatakan cemoohan murahan mu itu ?" aku yang saat itu lansung menatapnya hanya menautkan alis ku karena aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
"maksudnya ??"
__ADS_1
"nggak usah sok insomnia kamu. harusnya kamu malu, berzina hingga punya anak haram !!" ucapnya semakin maradang.
"maaf ya mantan ibu mertuaku. aku sedikitpun tidak mengerti apa yang ibu maksud. masalah anak ku, aku bisa buktikan kalau ia bukan anak haram. tapi hati-hatilah, setelahnya aku akan menuntut mu di pengadilan."
"halah.. mentang-mentang banyak duit apa-apa mau bawa ke polisi. aku tidak takut !! intan memang menantu pilihan ku. kamu irikan sama dia, sehingga kamu mengejeknya kemarin di acara resepsi pernikahannya ? bilang saja kalau kamu mau ahmad balikan sama kamu, nggak usah sok menghina."
"heheheeee.. bu.. aku tidak iri pada intan, aku happy dengan hidup ku sekarang. jadi berhentilah mengurusi hidup ku. lebih baik ibu urus saja kehidupan anak-anak kesayangan ibu."
"ckkkk.. jangan terlalu jumawa bu. saat dulu aku masih bersama anak ibu memang aku masih mengontrak di rumah ini. tapi atas kemurahan sang pencipta, rumah ini sudah ku beli atas nama ku." ia semakin emosi mendengar rumah ini sudah jadi milikku. ia mengepalkan tangannya hingga kini buku-bukunya memutih. merasa kalah telak dari ku, ia lansung pergi meninggal kan cafe ini.
"mohon maaf bagi yang merasa terganggu pada insiden barusan. hanya salah paham.." ucap ku sambil tersenyum ramah pada para pengunjung cafe ku yang matanya sudah beralih fokus melihat keributan ku dengan mantan ibu mertuaku.
entah kapan ia akan berubah, padahal umurnya sudah tak lagi muda. bukan sibuk mendekatkan diri pada tuhan, ia malah terus mengejar duniawi. astagfirullah..
__ADS_1
*****
hari ini aku ingin sedikit membuang rasa jenuh ku. aku ingin menghabiskan waktu dengan membawa kedua anak ku ke pusat perbelanjaan. azra menawarkan diri untuk ikut dengan ku. aku tentu senang, karena ia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri dan juga dia sangat dekat dengan anak-anak ku.
"hai... maaf aku telat.." ucap gusti yang baru datang.
"sudah seperti Romeo dan Juliet saja ya. di ke manapun mesti berduaan" godaku memancing senyum malu-malu kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta.
"isss apaan sih kak.. si gusti nih yang maunya ngintilin kita terus." ucap azra sambil memancungkan bibirnya.
"ei ei eiii.. aku cuma mau jagain kamu beb" ucap gusti sambil menoel hidung azra. hmmmm manis nya mereka. ya.. kini gusti telah menambatkan hatinya pada azra, sejak ia mengatakan ingin menganggapku sebagai adiknya, ia benar-benar menunjukkan itikad baiknya. dia juga menjelma menjadi satu-satunya keluarga ku di sini. aku pun tak berkeberatan dengan situasi ini. karena memang di hatiku tak ada lagi rasa cinta atau apalah seperti dulu sewaktu kami masih menjadi sepasang kekasih kala masih berseragam putih abu-abu. ketika kami masih betah bersenda gurau di sebuah restoran cepat saji. tiba-tiba ada pemandangan yang sangat menyita perhatian ku. tanpa sadar aku gegas berdiri dan mengikuti arahnya.
"kenak kau..." ucap ku sambil tersenyum smirk.
__ADS_1