Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
kabar kobar


__ADS_3

pov. author


siang itu suasana di sebuah gedung sangat riuh. banyak tamu yang hilir mudik sekedar melihat seluruh sudut gedung yang sudah di dekor sesuai dengan tema pesta yang mengusung tema sofia the first. terkesan kanak-kanak memang jika di telaah untuk sebuah pesta pernikahan. namun sesuai permintaan dari empunya pesta jadilah pesta tersebut bak di kastil negeri dongeng.


saat itu juga rania dan kedua anaknya tampak memakai baju yang senada dengan tema pesta, tak ada gurat kesedihan di wajah rania. yang ada hanya senyum sumbringah yang menunjukkan jika ia kini sangat bahagia.


dari pintu masuk gedung pesta tampak juga ahmad yang baru saja tiba, intan istrinya bergelantung di bahu kanannya.


"jangan duduk di sana bang. kita cari tempat yang agak jauh aja dari mantan istri kamu itu" rajuk intan saat ahmad hendak menuju meja yang tak jauh dari keberadaan rania dan anak-anaknya sekarang. ahmad hanya menuruti kemauan istrinya itu. sesuai keinginan intan mereka memilih duduk pada sudut gedung yang jauh dari rania.


"hmmmm.. buang-buang duit aja, pesta pernikahan malah terkesan kayak pesta ulang tahun bocah !" sinis intan yang masih bisa di dengar oleh ahmad.


"udah ih.. buang tu kotoran di hati kamu. suka banget menghina sudut pandang orang lain." sungut ahmad yang sesekali mencuri pandang ke arah rania yang keberadaannya masih di jangkau oleh mata ahmad.


"kamunya aja yang kampungan. masak nggak bisa bedain mana pesta pernikahan dan mana pesta ulang tahun !" lagi-lagi intan terlihat meremehkan selera pemilik pesta. ahmad tak memperdulikan ucapan istrinya itu . ia mengatur langkah menuju meja prasmanan dan mengambil makanan, desert dan juga minuman yang ia sukai lalu membawanya kembali ke meja di mana ia dan intan duduk tadi.

__ADS_1


"loh... kamu nggak sekalian ambilin buat ku bang ?" gerutu intan saat melihat ahmad meletakkan bawaannya di atas meja.


"ambil aja sendiri sana. kamu itu sehat. jangan sia-siakan nikmat kesehatan yang sudah tuhan berikan pada kamu" celetuk ahmad sambil memakan nasi beserta lauk pauknya tanpa melihat wajah intan sedikitpun. intan hanya membuang nafas kasar lalu berdiri dan berjalan ke arah meja prasmanan berada. sepemergian intan ahmad memanfaatkannya untuk menatap lekat-lekat rania dan anak-anaknya.


"cantik banget kamu ran. anak ku juga sangat terurus dengan mu" gumam ahmad sambil mengunyah makanannya.


kini ahmad dan intan ingin memberi selamat kepada kedua pengantin. setelah menunggu akhirnya tiba juga giliran mereka.


"selamat bro.. enak banget jadi kamu. udah dapatkan rania, sekarang malah nambah lagi dapati karyawatinya" celetuk ahmad pada gusti yang kini mengenakan pakaian pengantin adat melayu itu.


"hhmmmm.. kamu salah bro. rania itu aku anggap adik ku sendiri. kamu yang tak punya kepercayaan padanya. sangat gampang di tipu trik ibumu sendiri" jawab gusti tanpa melepaskan jabatan tangan mereka.


"ehemmm.. ehemmm.." intan mendehem walau tenggorokannya sedang tidak gatal. namun sukses membuat ahmad menghentikan rasa penasarannya saat itu. setelahnya mereka pergi meninggalkan gedung acara resepsi itu.


acara sudah selesai, kini rania berniat akan membawa anak-anaknya pulang.

__ADS_1


kring... kring.. kringggg.. !!


telephon pintar milik rania berdering. ia mencoba mengambil benda layar pipih itu dari dalam tasnya. ia mengernyitkan dahi melihat nama yang tertera di layar benda itu. ia menepikan mobil.yang tengah ia kendarai, karena ia lupa membawa headset. ia memilih menerima telepon itu saat berhenti saja.


"halloo.." ucap rania.


"hal-hallo.. rania.. aku butuh bantuan mu" terdengar dari seberang sana seseorang tengah berharap bantuan rania.


''bantuan apa maksud mu ?"


"aku butuh biaya untuk mengobati penyakit ku ini ran. tolong lah. aku tak sanggup lagi menanggung rasa sakit dan malunya. jangankan orang lain, ibu ku saja jijik melihat penyakit ku ran.."


"tunggu.. penyakit apa yang kamu maksud kobar ?" rania semakin tak mengerti dengan ucapan kobar. ya.. yang tengah menelfon rania saat ini adalah kobar.


"ran.. tubuh ku mengeluarkan bau yang sangat busuk. aku juga mengidap penyakit HIV. aku butuh biaya untuk berobat ran. HIV ini memang tak bisa di sembuhkan..tapi kata dokter, bagian tubuh ku yang mengeluarkan kotoran dan cairan yang berbau busuk ini masih bisa di sembuhkan."

__ADS_1


"maaf.. aku tak punya uang yang kamu minta" ucap rania sambil memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari kobar yang menelfonnya. "ada-ada saja, sudah tidak menjadi bagian keluarga itu lagi. tapi masih saja di susah kan oleh permintaan aneh mereka" gerutu rania dan menjalankan mobilnya kembali.


selama di perjalanan rania terus berfikir tentang penyakit kobar. apa sudah benar dengan sikapnya yang acuh terhadap permintaan bantuan yang kobar ucapkan.


__ADS_2