
"hahaa ? maaf.. sedikitpun aku tak tertarik dengan mu ! lagi pula aku tak butuh laki-laki pecundang seperti mu. dari mana kau dapatkan informasi tentang ku ?" aku teruk mendesaknya agar memberi tahu ku sumber informasinya. sebab aku tak ingin saja jika sampai ia menjadikan orang-orang di sekitar ku sebagai mata-matanya.
"tentu saja ibu mertua mu"
"ckkk.. sampai di akhiratpun aku tak sudi memanggilnya ibu mertuaku."
"ya.. di memang tak pantas untuk itu.."
"hahahhaa.. tapi dia adalah fathner kejahatan mu !"
"seperti dia yang memanfaatkan ku, aku juga memanfaatkan dia"
"mengapa tidak kau nikahi saja mak lampir itu, ku rasa kalian sepadan. sama-sama calon penghuni neraka jahanam !!" ku matikan sambungan telepon itu sepihak. rasanya terlalu memuakkan jika harus berlama-lama bicara dengannya. sebab ide gilanya dengan mak lampir itu lah yang membuatku dalam keadaan sekarang. hamil dalam tak mendapatkan kasih sayang seorang suami. mengenaskan memang. apalagi kurang dari dua bulan lagi aku akan melahirkan.
hari ini adalah jadwal operasi caesar ku. di karenakan bobot bayi yang terlalu besar membuat dokter merasa takut jika membiarkan ku melahirkan secara normal. sebab rentan waktu kelahiran khaira dan anak kedua ku ini hanya tiga tahun. salah-salah dalam bertindak bisa saja bekas caesar di rahim ku dulu akan robek sendiri. tak ada persiapan yang tampak riuh waktu kelahiran kedua ku ini.
"Alhamdulillah.." ucap ku saat mendengar suara tangis bayi, tak menunggu lama seorang suster wanita yang tengah menggendong bayi ku lansung membawakannya pada ku yang masih menunggu para dokter melakukan operasi tahap akhir.
__ADS_1
"selamat ya bu.. bayi ibu berjenis kelamin laki-laki, alhamdulillah dia lahir sempurna. ini jari kakinya, ini jari tangannya dan ini kelaminnya. berat badan empat koma delapan kilogram dan panjang lima puluh senti meter" tunjuknya satu-satu.
"alhamdulillah.." ucap ku lagi sambil memeluk bayi ku yang berbobot empat koma delapan kilogram. tak terasa air mata mengalir di sudut mata ku. " terimakasih nak. sudah kuat dan bertahan dengan ibun. nanti kita jumpai kakak ya nak" ucap ku lagi yang tak putus menciumi bayi kuat ku. setelahnya bayi ku di bawa lagi untuk di bersihkan. tak beberapa lama juga operasi caesar ku selesai. ketika brangkar tempat ku di dorong keluar dari lift untuk menuju ke ruang rawat inap, aku celingukan melihat di sekeliling ku. berharap ahmad dan khaira menyambutku. tapi aku harus menelan harapan ku. aku hanya mendapati azra yang selalu setia menunggu ku hingga saat ini. aku tetap melemparkan senyum ke arahnya yang juga tersenyum saat pertama melihat ku keluar dari lift tadi. stelah tiba di kamar rawat inap semua perawat yang tadi mendorong brangkar ku bergegas keluar ruangan.
"selamat ya kak.. udah satu pasang aja anak kak.." ucap azra kegirangan.
"iya ra.. sesuai angan-angan kami dulu.." air mata ku pun terus meleleh kala mengingat betapa aku dan ahmad terlalu serius merancang masa depan kami.
~flash back on~
"sayang.. akhirnya kita resmi jadi suami istri." ucap ahmad yang masih mengenakan pakaian serba putih di karenakan mereka baru saja melansungkan ijab kabul.
"nanti kamu mau punya anak berapa ?" ahmad beringsuk mendekat ke arah ku dan memeluk tubuhku dari samping.
"maunya sih tujuh orang, seperti aku bersaudara. tapi berapapun yang allah kasih untuk kita aku tetap bersyukur yang." mendengar ucapan ku ahmad melongo sambil menghitung jumlah jarinya.
"waaaa.. kalau sampai tujuh orang gi mana cara kita mengurusnya ya ?" seloroh ahmad sambil tertawa.
"ho'oh.. itu cuma seumpamanya aja loh yang. kan kita nggak tau rahasia allah terhadap kita seperti apa.."
__ADS_1
"iya . iyaa.. berapapun kita harus bersyukur. semoga saja anak pertama kita nanti perempuan ya yang. aku suka gemes lihat anak perempuan. apalagi pakaian bayi perempuan sekarang lucu-lucu. nggak kebayang deh gi mana senangnya aku mendandani anak kita nanti" ahmad memeluk ku bertambah erat.
"iya.. akupun ingin anak perempuan sebagai anak sulung kita. sebab jika dia perempuan, dia akan bisa membantuku mengurus adik-adiknya kelak. aku kini sebatang kara. tak ada yang akan membantuku dalam mengurus rumah tangga kita kelak" ucap ku dengan mata berembun.
"jangan sedih sayang.. aku akan membantu mu. dan aku harap anak kedua kita laki-laki. biar lengkap kebahagiaan kita. semoga allah mengabulkan"
"aamiin.." kami sama-sama mengaminkan harapan terindah kami di masa depan.
~flash back off~
azra menyentuh pundak ku. terlihat dari raut wajahnya kini kalau ia juga merasakan apa yang aku rasa.
"yang sabar ya kak. aku yakin suami dan anak kakak akan kembali pada kakak. agar kebahagiaan kakak benar-benar terwujud"
"rasanya tak mungkin ra. karena hatinya sangat di kuasai keegoisan. jika pun ia ingin kembali, aku tidak akan menerimanya ra. dia sudah menunjukkan pada ku bahwa kepercayaannya padaku tidak pernah ada." aku makin tersedu.
"kita tak tau akan takdir allah kak. bersabar dan kuat lah demi anak-anak."
"pasti dong ra.. kak pasti kuat dan tangguh. kakak akan buktikan kalau kakak bukan wanita lemah. apalagi mengaku kalah di hadapan wanita dajjal itu !"
__ADS_1
"gitu dong.. itu baru kak rania yang aku kenal sewaktu pertama kali melamar kerja di cafe dulu. wajah garang kakak buat nyali ku ciut. hehehheee"