Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
berdamai dengan hati


__ADS_3

pov. rania


bagai di hantam benda tajam, begitu lah sakit dan perihnya hati ku saat ini. rasanya hidup ini tak pernah adil untuk ku. bukan ingin kufur akan nikmat, tapi cobaan yang ku hadapi rasanya begitu berat. di mulai dengan saudara-saudara ku yang hingga kini tak ingin menganggap ku bagian darinya, hingga selama delapan tahun lebih aku di bayang-bayangi oleh ibu mertua yang hatinya busuk serta licik. kini aku sudah di talak, aku tak tau ingin berbagi dengan siapa. aku rapuh saat ini, di tambah lagi khaira tak ada bersamaku. jika ia ada bersama ku sudah pasti aku tidak akan merasakan pahitnya masalah yang tengah menimpaku. duduk di salah satu sudut kamar adalah pilihan terbaikku sambil memeluk lutut ku dan membenamkan wajah ku di sana. tak ada lagi fokus ku untuk meneruskan usaha cafe ku. mengadu pada ibu dan ayah ku. sudah pasti mereka akan merendahkan ku karena menentang mereka dalam hal memilihkan jodoh untuk ku. bertahun-tahun mereka tak menganggap ku anak. hingga khaira lahir di situ lah mereka mulai luluh. tapi aku tak bisa mengadu akan kepahitan ini. yang ku dapati mereka akan menceramahi ku panjang kali lebar, bukan solusi yang dapat menjauhkan ku dari kekacauan ini.


lamat-lamat aku mendengarkan suara seseorang sedang memberikan pengarahan tentang kesehatan yang aku tak tau entah siapa dan untuk siapa. perlahan aku mengerjapkan mata, melihat sekeliling ruangan yang ku tau ruangan ini bukan lah kamar ku. di sudut ruangan aku melihat azra salah satu karyawati cafe ku sedang berbicara dengan seorang pria berjubah putih. setelah selesai berbicara azra lansung mendekati ku dan pria itu keluar dari kamar ini.


"kakak sudah sadar ?" ucap azra sambil menghenyakkan bokongnya di kursi yang terletak di sebelah brangkas ku.


"apa yang terjadi ra ?"


"tadi saat aku sudah menutup cafe dan berniat menyetor penghasilan cafe kakak hari ini, tapi kakak tak menyahutiku walau aku sudah berteriak memanggil kakak dan menggedor pintu. aku masuk ke kamar kakak dan mendapati kakak tengah pingsan. aku dan nia membawa kakak kerumah sakit ini." azra menjelaskan kenapa aku bisa berada di kamar rawat inap ini. air mata ku lansung luruh dari kelopak mataku.


"sabar kak.. aku tau ini tak mudah.. tapi kakak masih punya kami, kami sangat menyayangi kakak." azra berusaha menyemangatiku.


"aku hancur ra.. tak ada lagi tujuan hidup ku yang bisa membuatku tetap bertahan !" isak tangis ku.


"bertahan lah kak. kita akan berjuang bersama untuk melewati ini. kami semua siap menjadi tempat keluh kesah kakak. dan kami akan selalu menjadi orang yang bisa kakak andalkan."

__ADS_1


aku tetap menangis hingga tubuhku berguncang. terisak karena beban yang menghimpit relung hati, aku sering di kecewakan dan di sakiti. tapi rasanya tak separah ini. kali ini benar-benar mengusik akal sehat ku. bukan satu, tapi dua orang yang dalam sekejap pergi menjauh dari ku.


"kakak makan dulu ya. tadi suster bilang kalau kakak harus makan. kakak perlu banyak asupan" azra menyodorkan sendok yang berisi makanan ke arah mulut ku. namun aku tak bergeming, jangan kan untuk makan. untuk hidup pun rasanya aku sudah tak ingin.


"kak.. hayuk di makan.. kasian itu calon debay yang di rahim kakak jika kakak larut dalam masalah ini dan juga tak mau makan." ucapnya terus merayu ku.


"ap-apa ? calon debay di rahim ku ?" aku memindai wajah azra.


"iya kak.. kakak yg tengah hamil dan usia kandungan kakak sudah lima minggu"


"yakin kak.. aku lihat sendiri tadi pas dokter lagi usg kandungan kakak. aku juga mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama" ucapnya mantap.


"aaaaa.. ayo di buka mulutnya kak. kakak harus makan. kakak harus kuat, jika kakak kuat. aku yakin semua akan kembali seperti sedia kala" aku pun membuka mulutku untuk menerima sendok yang berisi makanan dari tangan azra. sambil mengunyah makanan yang sejatinya hambar di lidahku, pikiran ini terus melayang jauh ke sisi hati ku yang kini penuh kemelut.


---------------------


hari ini aku sudah di perbolehkan pulang. di sepanjang perjalanan aku terus melirik azra yang beberapa hari ini selalu ada untuk menemani dan merawat ku.

__ADS_1


"ra.. terimakasih telah merawat ku. setelah ini apa kamu akan lansung pulang ?"


"jangan berterimakasih pada ku kak. kakak sudah sangat baik pada ku, memberiku pekerjaan dan juga makan ku sehari-hari pun kakak berikan cuma-cuma. terlebih saat ibu ku meninggal. jika tidak dengan bantuan kakak, mungkin aku tidak bisa membawa jenazah ibuku pulang. sebab kami tak punya biaya untuk melunasi biaya perobatan ibu selama di rawat" ku lihat air matanya sudah mulai berembun.


"sudah lah ra. jangan mengungkit sesuatu yang ku berikan dengan ikhlas" ucap ku sambil membuang muka darinya.


beberapa saat kemudian kami sampai di rumah ku. sebelum masuk aku sempatkan untuk melihat keadaan cafe yang sepertinya masih tetap ramai. seketika hati ku terasa ngilu lagi. di sana ada banyak kenangan bersama suamiku dan khaira. bahkan rumah ini. ya rumah ini.. di setiap sudutnya terdapat seribu bayangan yang seolah terpaku dalam ingatan ku.


"istigfar kak.." ucap azra sambil menyentuh pundak ku. mungkin dia tau jika aku mualai terbawa suasana. aku hanya memjawab dengan anggukan kepala. setelahnya aku masuk ke dalam rumah.


lamat-lamat terdengar suara adzan berkumandang. aku bergegas mengambil wudhu dan menunaikan shalat asar. di sana ku tumpahkan semua keluh kesah ku akan kehidupan dan masalah yang kini ku hadapi. tangis.. hanya isakan tangislah yang mendominasi keluh kesah ku. setelah selesai shalat tanpa sengaja aku berdiri pada sisi lemari yang terdapat cermin yang dapat menangkap gambaran diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala. ku tatap gambaran diri ku di cermin. ku halus air mata ku, di situ aku bertekat. aku akan tetap bertahan di sini. ada nyawa yang tuhan titipkan di rahim ku. walau nanti ahmad tak mengakuinya. aku akan membesarkannya seorang diri. aku harus menata hatiku lagi. jika aku lemah, sudah pasti ibunya ahmad akan menari-nari menggarami lukaku agar aku terus meringis kesakitan.


wanita itu tak boleh menang. aku harus bangkit untuk melihat balasan apa yang ia dapatkan nanti.


khairaaa.. tunggu ibun nak. ibun pasti menjemput mu.


"bismillah.. bantu aku untuk berdamai dengan hati ku ya allah.." lirih ku sambil menggurat sedikit senyum d bibir ku.

__ADS_1


__ADS_2