Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
begu ganjang


__ADS_3

aku menelisik benda yang azra dan gusti tunjukkan pada ku. benda itu memang seperti tulang. namun ujungnya sangat runcing menyamai jarum. bagai mana ada benda seperti ini yang menancap di dada ku ? tangan ku bergetar memegang benda itu. penuh syukur pada allah, aku masih di lindungi. benda itu tak menembus jantungku.


"terimakasih.. sekali lagi kamu membawa ku ke rumah sakit ra" lirih ku sambil tersedu.


"kak.. sudah aku bilang, jasa kakak pada kami tak terbalaskan. jadi yang aku lakukan sekarang bukan apa-apa" ia menyentuh bahu ku yang berguncang. ku hirup udara hingga memenuhi rongga pernapasan dan membuangnya perlahan. bersamanya ku urai juga tangis ku yang teramat menyesakkan dada.


malam ini hanya kami berdua dengan azra yang tinggal di ruang rawat inap ini. gusti pamit karena ada sedikit masalah di tempat usahanya. dia memiliki restoran seafood yang cukup ternama dan dari situ juga ia memperoleh pundi-pundi rupiah yang fantastis.


sunyi.. itulah yang aku rasakan saat ini. hanya terdengar dengkuran halus milik azra yang sudah terlelap di sofa tak jauh dari brangkar ku. aku mencoba memejamkan mata, perlahan.. kesadaran ku mulai menjauh. tapi entah mengapa kini seperi ada beban ribuan ton yang tengah menghimpit tubuh ku. jangankan untuk bergerak, sekedar berteriak meminta tolong pun aku rasanya tak punya tenaga. sesak, karena dadaku tak dapat asupan udara yang cukup terhimpit beban yang amat berat itu. mata ku melebar. tapi tak ku lihat apapun yang kini tengah menindih tubuhku. tangan ku mencoba menggapai apa saja untuk menimbulkan suara agar azra terbangun dan menolong ku. tak ada yang bisa ku raih hingga tangan ku yang di pasangi selang infus tertarik dan menyebabkan tiang infus terjatuh tepat ke arah brangkar ku. suara yang di timbulkan cukup bising. azra yang sempat mengerjapkan mata melihat ke arah ku sekilas dan kembali menutup matanya, melanjutkan tidurnya. mungkin ia sangat lelah saat ini. ku raih lagi tiang infush itu dan membuat suara gaduh. kali ini aku berhasil kembali membangunkan azra. ia yang melihat pergerakan tangan ku yang tak terarah lansung bergerak ke arah ku. anehnya beban yang tadi menindihku lenyap begitu saja. nafasku terengah-engah. merasakan kembali menghirup udara tanpa beban.

__ADS_1


"ada apa kak ? kok tiang infusnya jatuh. tuh lihat, tangan kakak yang di pasangi jarum infus berdarah.." cerocos azra sambil mengelap tangan ku yang berdarah dengan tisu steril.


"r-ra... tad-di tubuh ku di himpit beban yang sangat berat. saking beratnya aku tak bisa bersuara dan juga sulit bernafas.."


"astagfirullah.. kakak nggak lagi becandakan ??" azra seolah tak percaya dengan ceritaku.


"demi allah ra.. aku tidak mengarang cerita !" ujar ku sambil menyeka keringat di dahi menggunakan tangan ku yang tak terpasangi infus. azra terdiam, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


"jangan ngaco deh ra" elak ku.

__ADS_1


"kak.. aku yakin dengan pendapat ku. kakak lihat, sebelum ini ada cahayakan ? lalu dada kakak di tembus benda sejenis tulang dan sekarang kejadian barusan. aku yakin yang barusan itu begu ganjang kak..itu ilmu hitam suku batak"


entah mengapa saat ini tanpa ku sadari aku menyetujui pendapat azra. seketika ancaman yang di ucapkan kasi kian terngiang di telingaku. ternyata dia tak main-main dengan ancaman itu. baik lah.. jika itu yang dia mau. dasar manusia ortodok, zaman sekarang saja dia masih mengandalkan dukun dalam setiap masalahnya. untung saja aku masih di beri umur panjang hingga saat ini.


"kak.. kak bisa dengar aku kan ?" azra berucap sambil mengguncang tubuh ku. aku tersadar dari lamunan ku yang sempat melayang jauh mengingat pertemuan ku dengan kasi di penjara kala itu.


"iya ra.. aku dengar kok.."


"trus gi mana pendapat kakak ?"

__ADS_1


"entah lah ra.. kita serahkan saja pada allah. jika mereka berniat buruk. semoga kembali pada yang punya hajat."


"aamiin.. ya sudah.. kita tidur lagi yuk kak.. jangan lupa berdoa duku ya kak sebelum tidur. agar mereka tak bisa menyakiti kakak ketika kakak tidur nanti." aku hanya membalas ucapan azra dengan anggukan kepala.


__ADS_2