Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
bab 37


__ADS_3

mulai hari ini suami ku sudah tak lagi terhitung sebagai karyawan di pabrik pengolahan kopi dan juga jenis minuman lain yang sangat banyak di minati di luar negeri. setelah surat resign di setujui oleh bagian personalia. maka resmi lah suami ku menjadi seorang pengangguran. tapi itu lebih baik, jika berstatus karyawan namun di Bayangi penuntut yang sebenarnya bukan haknya. kami mulai sama- sama mengurus mini cafe yang masih berdiri kokoh di rumah yang kami tempati. aku tak pernah takut akan kekurangan. selama aku gigih berusaha, allah pasti akan beri hasil sesuai dengan perjuanganku.


 


tiga bulan sudah suamiku ikut membantu ku mengelola cafe ini. selama tiga bulan ini pula ia tak pernah lelah mencari pekerjaan, mungkin belum rezeky kami. sebab dari sekian banyaknya lamaran yang di ajukan. tak satu pun yang memanggil suami ku walau hanya untuk interview.


masalah ibunya.. selama tiga bulan ini juga ibunya tak pernah ernah lagi menggangu ketenangan rumah tangga kami. tapi itu tak berlansung lama. karena ia bagaikan punya cctv yang terhubung dengan otaknya jika suamiku memiliki uang.


"ahmad.. bagi- bagi dong dana jaminan hari tua mu. udah cair kan ?" lancar sekali kalimatnya jika itu mengenai uang.

__ADS_1


"nggak ada bu.. itu untuk biaya ku selama aku tak bekerja."


"udahhhh.. jangan terlalu ambil pusing masalah hidup ini. kamu kan punya istri, ya dia pasti mampu lah membiayai kamu selama kamu belum bekerja. toh dia juga sudah 8 tahun kamu yang membiayai" ia mulai menyinggung ku.


ggrrrrrrr... rasanya ingin ku terkam ni mak lampir.


"nggak bisa gitu dong bu, aku harus jaga harga diriku. rania harusnya sudah jadi tanggung jawab ku buat nafkahi dia. bukan malah sebaliknya dia yang nafkahi aku" suami ku memberi pengertian pada ibunya itu.


lah.. loh.. jelas- jelas aku tak ada sangkut pautnya di sana. tapi tetap saja setiap ujung- ujungnucapanya aku yang di pojokkan.

__ADS_1


"jangan gitu bu.. yang nggak tau trimakasih itu ya ibu.. coba kalau tak ada rania saat aku ibu tusuk dengan pisau saat itu. mungkin aku sudah tak ada di dunia ini. bukan hanya menusuk ku. ibu bahkan tega tak mau merawat ku saat itu. melihat pun tak ada dari kalian yang katanya keluargaku ." suara suami ku terdengar parau saat membahas kelakuan ibunya saat ia kritis terkena tusukan pisau ibunya sendiri. mendengar ucapan suamiku, tak ada kata- kata bantahan yang keluar dari mulut mak lampir itu. ia membalikkan badan untuk pergi dari rumah kami. aku mendekat ke suamiku.. aku menepuk halus pundaknya berharap ada energi positif yang mengalir di sana. aku tau hatinya sedih saat ini. kami sama- sama terdiam. ia mengambil tanganku yang masih melekat di pundaknya dan membawanya ke dalam genggamannya. ia cium unggung tangan ku. kurasakan saat itu ada air yang rasanya hangat mengalir di punggung tangan ku. aku memeluknya agar ia nyaman untuk menepis rasa sedihnya.


kring...


kring..


kring ..


aku yang tengah memeluk suami ku repleks melepaskan pelukan ku. mata kami berdua kompak memandang layar hape suami ku.

__ADS_1


'kobar memanggil'


ada urusan apalagi kobar menghubungi suamiku ??


__ADS_2