
aku terhuyung. tulang-tulang terasa lemas ketika mendapati kabar tentang rania yang kami tunggu-tunggu sejak dari pagi hari.
"ahmad.. apa yang sebenarnya terjadi ?" bang kobar berjalan tertatih mendekat ke arah ku, ia sangat menjaga lubang pembuangan sementara yang di pasangi selang. sementara kantung kotorannya ia selipkan di pinggang celana.
"rania bang.. raniaaa.." air mata ku berlinang menghalangi pandangan ku.
"tenang lah.. ada apa dengan rania ?"
"di-dia mendapat kecelakaan ketika pulang dari sini tadi malam bang, se-sekarang dia di rawat di rumah sakit ini juga. dia koma.. !!" aku berlari meninggalkan bang kobar, tujuan ku hanya ruang ICU di mana rania kini sedang di rawat. tak berapa lama aku tiba di depan ruang ICU. dari kaca aku bisa melihat bahwa rania sedang terbaring di atas brangkar di tubuhnya di pasangi alat-alat medis.
ceklek ...
"maaf bapak siapa ? jangan masuk sembarangan keruangan pasien" salah seorang petugas kesehatan mencegatku saat hendak memasuki ruang ICU.
"sa-sayaaa... suaaaminya rania sus.." aku terpaksa berdusta agar aku bisa melihat rania lebih dekat lagi, jika di perbolehkan aku akan menjaganya.
"ooh.. maaf pak, saya kira tadi bapak bukan keluarga pasien. silahkan masuk pak, mungkin dengan kehadiran bapak bu rania bisa cepat sadar dari komanya. tapi harap jangan membuat suara gaduh ya pak. tidak baik buat perkembangan pasien" perawat itu pun berlalu dan aku pun masuk setelah mensterilkan diri.
aku terpaku melihat satu-satunya wanita yang menaungi hati ku kini tengah terbaring tak berdaya. tak sedikitpun aku bisa membendung kesedihan ku, tubuh ku terguncang karena isak tangis. ku bekap mulut ini dengan kedua telapak tangan agar suara tangis ku tak melolong di udara.
sesak.. itulah yang dadaku rasakan saat ini. tadi malam.
__ADS_1
"sayang.. bangun lah.. maafkan aku yang tidak mempercayai mu. maafkan tentang kebodohan ku. tolong buka mata mu bun. kita.. kita akan lalui masa depan bersama-sama lagi" ku raih tangan kanan rania yang tidak di pasangi alat medis ku cium berkali-kali. di sana aku juga menumpahkan rasa rindu ku padanya. tangan itu.. ya tangan itu lah yang dulunya menyiapkan segala yang aku butuhkan dengan kasih sayang, tangan itu juga yang dulu slalu ia gunakan untuk menyalami takzim saat aku akan pergi dan pulang kerja. aku sangat ingin melalui hidup yang sempurna seperti saat bersamanya dulu.
"ya allah.. tolong selamatkan wanita yang sudah melahirkan anak-anak ku ini. aku sangat mencintainya" mohon ku pada sang pencipta.
sudah dua jam aku di ruangan itu, tapi rania sepertinya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya. ku seka air mata ku, aku berniat ingin melihat keberadaan bang kobar dulu. kasihan juga dia jika harus terluntang lantung seperti sekarang. kondisinya masih sangat lemah. ketika aku keluar dari ruangan icu tepat pada kursi yang berjejer di depan ruangan aku melihat bang kobar duduk di sana. azra dan gusti juga ada di sana.
"bagai mana kondisi rania" bang kobar lansung menanyakan keadaan wanita terkasih ku. aku hanya diam tak bergeming. tak ada yang bisa aku jelas kan padanya.
"bang.. kak rania baik-baik sajakan ?" kali ini azra yang meminta penjelasan. aku masih sama dengan saat bang kobar bertanya tadi. diam tak bergeming.
"bro.. lebih baik kamu antar bang kobar pulang. kasihan dia, ia butuh istirahat. biar kami yang menjaga rania di sini." gusti memegang pundak sebelah kiri ku.
"a-akuu..."
"baik lah.. nanti aku akan kembali setelah mengantar bang kobar pulang" jawab ku tak bersemangat.
tak beberapa lama kami tiba di rumah ku. dengan kunci cadangan yang ku bawa aku membuka pintu rumah tanpa memanggil intan. namun baru saja kami masuk melewati pintu. lampu yang tadi mati kini tiba-tiba menyala.
"sudah pulang kamu ? mana bawa orang penyakitan lagi" seringai intan menatap sinis pada aku dan bang kobar. namun kami tak tertarik untuk meladeni intan. aku menuntun bang kobar menuju kamar tamu di rumah ku.
"hei budeg.... apa kau tuli sehabis menangisi mantan istri tercintamu yang sebentar lagi mati haaaa ?" aku dan bang kobar menghentikan langkah kaki kami. aku membalikkan badan lalu mendekati intan.
__ADS_1
"kau ? tau dari mana tentang kondisi rania ha ?" bentak ku dengan suara lantang.
"aku.. aku hanya menebak saja. beruntung rasanya tebakan ku benar hahahha" tak sedikit pun intan terkejut atau pun menghormati ku. aku mengepalkan tangan dengan kuat hingga buku-bukunya memutih. aku melayangkan satu tamparan ke wajah intan.
paarrrr...
telapak tangan ku rasanya panas karena telah mendarat keras di pipi kiri intan.
"ahmad.. hentikan.. jaga kewarasan mu. istri mu ini sudah tidak waras. aku tidak bisa tinggal di sini, lebih baik aku pergi dan kau selesaikan lah masalah mu dengannya. ingat.. rania dan anak-anak mu kini sangat membutuhkan mu" bang kobar melerai emosiku yang memuncak.
"ayo bang.. aku kan pergi dengan mu" aku kembali menenteng tas yang berisi beberapa potong pakaian milik bang kobar.
"jangan.. jangan pergi kau.. kalau kau nekat pergi dari rumah ini. aku akan bunuh diri" intan memgancamku, namun aku tetap pada pendirian ku.
"hentikan.. jangan pergi.. percuma kau pergi, rania tidak akan hidup. dia akan mati" racaunya semakin membuat aku emosi. tapi tetap tak ku ladeni keinginannya untuk ribut.
"kau.. yaa.. kaulah yang sudah membawa pengaruh buruk pada suami ku. kau sudah meracuni otaknya" kali ini bang kobar yang menjadi sasaran emosi intan. ia memukul-mukul punggung bang kobar. bang kobar terus menghindari pukulan intan. aku menarik tubuh intan agar menjauh dari bang kobar. tapi ia terus meronta hingga pegangan tangan ku terlepas. ia bisa kembali menyerang bang kobar, tapi satu pun pukulannya tak mengenai bang kobar. ternyata bang kobar bisa membaca gerak intan walau ia terlihat lemah saat ini. intan terus mengamuk, ia menarik kemeja yang di pakai bang kobar dan naasnya tanpa sengaja intan menarik bagian kemeja yang di sebaliknya terdapat kantung yang berisi kotoran bang kobar.
dan... buar...
kantung itu jatuh dengan keras yang menyebabkan isinya berhamburan mengenai kaki dan pakaian intan.
__ADS_1
"ueeekkkkk.. kurang ajar.. !! ueeekkkk.." intan mual dan jijik melihat kotoran bang kobar yang berserakan di lantai dan pakaiannya.