Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
bab 29


__ADS_3

pov rania


"waaaawww lagi banyak duit nih" sela seseorang yang entah sejak kapan ia berdiri di ambang pintu kamar kami.


aku dan suami ku yang tadinya sedang bersenda gurau pun serentak menoleh ke arah sumber suara. aku sih sebenarnya tak kaget sesikitpun tentang siapapun pemilik suara itu.


"udah lama datangnya bu??" suami ku berdiri dan menyalami takzim seorang wanita yang sudah melahirkannya. begitupun aku juga ikut suami ku menyalaminya takzim. tapi ya gitu, wanita itu menepis tangan ku yang ingin menyalami tangannya.


"ga usah sok hormat. zaman sekarang yang di perlukan itu duit bukan rasa hormat!!" ibu mertua ku mengomel sambil besidekap tangan di perutnya.

__ADS_1


aku tak menanggapinya. aku berlalu ke dapur untuk membuat kan kopi untuk suami ku dan ibunya. tak ama kemdian aku kembali denan dua cangkir kopi yang ku tata di atas nampah.


"di minum bu" basa basi ku sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja yang ada di depan mereka.


"ogah ihhhh.. pasti tu kopi sudah di cekoki sianida, biar saya mampus kayak kasus yang di tv" ucapnya sambil menunjukkan mimik bibir yang kelihatan jijik.


"ya sudah kalau nggak di minumpun nggak apa- apa" aku ingin segera berlalu dari hadapan mak lampir itu. namun baru saja aku balik badan mak lampir itu kembali berucap yang membuat aku menghentikan langkah ku.


"bukan urusan ibu" aku kembali membalikkan badan ke arahnya.

__ADS_1


"lah kok bukan urusan saya ?? ya jelas itu urusan saya. orang itu duit anak saya!!" wahhh tak pernah bosannya ibu mertua ku bersikap sombong.


"ehemmm.. uang anak ibu ?? ada bukti yang bisa menunjukkan nggak ya kalau itu uang anak ibu ?? ingat bu, sekarang saya sudah tak lagi menumpang hidup pada anak ibu !!" kali ini aku tak akan mau ia katai menumpang hidup pada anaknya lagi. ia harus sadar kalau aku sudah punya penghasilan sendiri. walau tak di pungkiri bahwa nafkah yang di berikn suami ku juga sudah sangat mencukupi.


"helehhh.. baru usaha begituan mana mungkin menghasilkan cuan segitu besarnya ?? trus usaha mu itu masih berjalan beberapa hari. satu tahun pun belum ada. nggak usah melakukan aksi cuci uang deh. mentang- mentang udah ada usaha seenaknya aja ngaku- ngakuin uang anak saya. dasar pelacur !!" ibu mertua ku merendahkan ku. ia tak percaya dengan kemampuan ku mencari cuan sendiri.


"hellowww.. jika saya pelacur berarti anak ibu penikmat pelacur dong !! merendahkannya kira- kira dong ibu mertuanya pelacur !!" ku balikkan ucapannya sambil menatap tajam suami ku yang hanya berdiri tegap tanpa ada pembelaan sedikitpun untuk ku. aku pergi meninggalkan mereka berdua. dengan mengambil khaira di gendongan ku. ku arah kan langkah kaki ku ke samping rumah di mana mini cafe ku berdiri.


saat melihat wajah khaira yang tersenyum lembut di gendongan ku. sontak membuat air mata ku mengucur deras, ku rasa nasibnya ikut miris karena mereka membenci ku. ia tak pernah merasakan bagai mana rasanya di gendong oleh nenek, saudara ibu dan ayahnya. hari ini ibu mertua ku datang pun tak sedikitpun berbasa basi terhadap anak ku.

__ADS_1


'maaf kan ibun ya nak' rintih batin ku sambil ku kecup puncak kepala khaira.


__ADS_2