Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
bab 34


__ADS_3

setelah selesai berbalas pesan dengan kobar aku meletak kan hp ku dibatas nakas. lalu aku mengambil mangkuk yang berisikan SOP yang tadi ku bawa untuk suami ku.


"siapa Bun ?? kok serius amat kayaknya balas pesan dia" suami ku bertanya saat aku menyuapinya SOP yang ada pada mangkuk tadi.


"eeemmm itu yah, bang kobar"


"loh.. kok dia ngirim pesan sama ibun ?? lebih baik jangan di ladeni Bun. nanti malah nambah beban pikiran. mulai sekarang kita sebisa mungkin menghindari kontak atau bertemu dengan mereka.."


"dia minta aku merahasiakan yang kita lihat tadi siang yah.. dia takut aku buka mulut sama keluarga ayah.."


"tu kan.. dia pasti ngancam- ngancam ibun kan ??"


"nggak kok yah.. oh iya, bagai mana menurut ayah tindakan kita kedepannya sama ibu mu yah.. apa kita polisikan aja dia ??"


"j-jangan Bun.. biar kan aja ibu sadar dengan sendirinya. cukup kita jauhi saja. mudah- mudahan ibu segera sadar Bun.." aku menghela nafas panjang mendengar ucapan suami ku. lalu ku anggukkan kepala ku pertanda aku setuju. aku akan bertekat untuk tidak mencampuri ranah keluarganya jika mereka tak mengganggu ku.


---------------------


tring..

__ADS_1


[rania.. aku ingin bicara 4 mata dengan mu. ini penting !!] terlihat lagi pesan yang di kirim kobar ke nomor ku.


aku mengernyitkan dahi. tentu aku heran, tadi saja dia bersikap seolah- olah ia mengancam ku.


[bicara saja di sini] pesan balasan di kirim ke nomor kobar. namun kali ini bukan aku yang balas. melainkan suami ku, tadi ketika aku membaca pesan itu suami ku juga ikut baca karena kebetulan ia duduk di sebelah ku.


[tak bisa rania, ini penting dan sangat rahasia]~ kobar


[sepenting apapun itu bicarakan saja di sini, atau tidak sama sekali !!]~ suami ku melalui nomor ku.


[baik lah. aku mau pinjam uang mu 100 juta Rania]


[gila... mana punya uang segitu kami]


[Halah.. kamu pasti punya, beli mobil harga 800 jutaan dan tanah aja kamu bisa. masa aku pinjam segitu aja nggak ada. nggak percaya aku] isi pesan dari kobar semakin memperlihatkan bagai mana aslinya dirinya.


[justru itu, uangnya sudah habis. kalau untuk mobil. itu pemberian orang tua rania. aku Ahmad bukan Rania]


[kebetulan, ayolah Ahmad. jangan pelit pada saudara sendiri !!]

__ADS_1


aku tak tahan lagi membaca pesannya. ku ambil hp ku dari genggaman suami ku. lalu aku blokir nomor kobar yang tadi mengirim pesan pada ku.


tak habis di situ, kali ini hp suami ku yang berdering. terlihat di layarnya ada nama ibu yang sedang memanggil. wowwww ternyata masih punya keberanian juga dia buat menghubungi suami ku setelah apa yang dia lakukan. waktu suami ku terbaring sakit aja tak ada yang mau peduli. aku tau tujuannya menelfon suami ku. pasti karena uang. mana mungkin ia mau menjatuhkan harga dirinya kalau bukan demi uang.


suami ku melirik ke arah ku memperlihatkan layar hpnya seolah meminta persetujuan. aku menganggukkan kepala pertanda setuju.


klik.. telpon itu pun di terima. tapi suami ku urung berbicara..


"halo.. halloooo.. Ahmad.. kok nggak ada suara ya ?? hallooooooo !!" terdengar suara Mak lampir itu dari seberang telepon.


"hallo.." suami ku mulai membuka suaranya.


"Ahmad, apa kabar kamu nak ??, ibu khawatir nak.." ibu mertua ku mulai berakting.


"baik"


"syukurlah nak.. Ahmad, belikan ibu mobil ya nak. mobil yang murah- murah pun tak apa- apa. nggak harus sekelas dengan mobil Rania kok.."


astagfirullah..

__ADS_1


__ADS_2