
aku hanya bisa menuruti ucapan karyawati rania yang lebih terdengar seperti pengusiran. tapi aku tak benar-benar pergi dari sana. aku hanya menjauh dari pintu itu dan tetap mengawasi dari kejauhan. aku tetap ingin menemui rania.
siang beranjak menjadi warna jingga. aku masih tetap berdiri memandangi pintu ruangan rania dari tempat yang tak mungkin karyawatinya itu lewati. hingga langit sudah gelap, aku juga tak lelah menunggu di sini. aku tetap menajamkan pandangan menatap arah pintu itu. tak sedetikpun aku beranjak dari sini. hingga tak berapa lama aku melihat wanita itu keluar dari ruangan rania. melihat dari barang bawaanya sudah bisa aku pastikan kalau ia akan pulang mengantar pakaian kotor dan mengambil keperluan rania yang lain untuk di bawa kembali ke sini. setelah wanita itu tak terlihat lagi barulah aku beranjak mendekati pintu itu..
ceklek..
ku buka handel pintu. rania sedang tidur saat ini. aku mendekat ke arahnya, wajahnya begitu pucat. di situ lah aku merasa sangat sakit. tak terpikir akan membuat wanita yang teramat ku cintai ini akan menerima nasib seperti ini. terlebih lagi penyebabnya adalah aku.
"maafkan aku.." ucap ku lirih sambil mengusap lembut rambutnya yang berwarna hitam pekat. ya.. aku rindu sedekat ini dengannya. air mata ku lolos tak terkendali. isakan ku juga tak dapat ku hindari. andai aku tau akan begini, pasti aku menentang wanita jahanam itu sejak awal. tak peduli dengan semua ancamannya. aku menjatuhkan bokong ku di kursi di sebelah brangkarnya. tertunduk mengusap tangannya yang tak terpasang selang infus. mungkin karena aku terlalu membuat pergerakan di kulit tangannya membuat rania mengerjapkan matanya.
"sejak kapan kamu di sini ?" pias wajahnya yang sangat sendu membuat ku sangat ingin membawanya ke dalam pelukanku. "tolong menjauhlah dariku" ia kembali menimpali.
"a-aaku.. ingin menjagamu rania. tolong berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku." ucap ku sambil terisak.
"sudah lah gus.. hidup ku sudah hancur. apalagi yang kau harap kan dari wanita seperti ku." ucapnya datar, tak sedikitpun air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"ran.. dari dulu aku sangat menyayangi kamu. hingga sekarang rasa itu tak pernah pergi dari hati ku"
"ckkkk.. sayang kau bilang ? lalu bagai mana dengan wanita-wanita itu termasuk nefiya yang sudah kau nikahi ?"
"itu lah kesalahan ku ran.. aku sangat mencintaimu. tapi aku juga tak nisa menahan nafsu birahi ku. hingga aku melampiaskannya pada mereka. percayalah, ketika dengan mereka yang ada dalam pikiran ku hanya kamu. bahkan saat melakukan itu pun aku berkhayal sedang melakukannya dengan mu."
"menjijikkan !" ucapnya sambil membuang pandangannya dari ku.
__ADS_1
"rania.. aku mohon, maaf kan aku.. kembalilah pada ku rania. aku pasti akan membuat perhitungan dengan wanita tua yang telah menyakitimu itu.." ku raih tangannya untuk ku genggam.
"dia sekutu mu. kalian sukses membuat ku hancur" ia memandang ku sembari tersenyum tapi aku ngeri melihat senyumannya kali ini. entah apa yang tengah ia perdebatkan dalam hatinya.
"dia mengancam ku ran. entah dari mana dia tau tentang kedekatan kita sewaktu SMA dulu. dia datang mengancamku akan memberitahukan nefiya dan keluarganya kalau aku kini tinggal di sini. aku sudah meninggalkan nefiya hampir dua tahun ran. aku benci dengan wanita berhati iblis itu. ia mengatakan bahwa anak yang ia kandung dulu adalah anak ku. ternyata ia menipu ku, aku mendengar pembicaraanya di telepon.demgan pria lain, dia mengatakan bahwa dia sukses menipu ku. hingga saat itu pun mereka tetap berhubungan. sementara aku harus bertanggung jawab untuk hal yang sama sekali bukan kewajiban ku."
"kenapa kau percaya bahwa itu bukan anak mu. mungkin sekarang dia sudah kelas dua esde ya ?" ia menatap ku tajam.
"ak-ku.. mandul ran.." ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya saat mendengat penuturan ku. ia tak berkata apa-apa. namun ia memandangku lekat dengan menyipitkan matanya.
"yaaa.. aku mandul rania.. setelah mendengar percakapannya dengan pria itu di telepon, aku. memeriksakan diri ku. hasilnya aku positive mandul. dan sudah pasti yang dia katakan pada pria itu adalah benar bahwa anak itu adalah anak mereka dan pria itulah ayah biologisnya."
"heheheee.." ia tertawa dengan suara pelan. aku hanya bingung. apa yang membuatnya tertawa.
"itu impas gus.. tak ada yang tak menerima konsekuensi dari setiap perbuatannya di dunia ini. jadi kau pantas mendapatkannya." lagi ia melemparkan senyum dengan penuh kengerian.
"ran.. aku ingin kamu jadi istri ku. akan ku perbaiki semua kesalahan ku. percayalah.."
"tapi aku tak berminat !!"
ceklek...
pintu terbuka. karyawati rania tadi telah kembali.
__ADS_1
"kamu !!!" teriaknya sambil melangkah cepat ke arah kami. "bukan kah aku sudah mengusir mu ? lalu untuk apalagi kamu bertemu kak rania ha ?"
"so-sorry.. aku hanya ingin bertemu rania. aku tak menyakitinya"
"sudah lah ra.. aku tak apa-apa. biarkan siapa saja yang ingin menemuiku. itu tak akan mempengaruhi masa pemulihanku" sela rania yang membuat kami berhenti berdebat.
"tapi kak.. orang ini mencurigakan.."
"dia gusti.. orang dari masa lalu ku. apa kau tak bertemu dengannya saat dia mencari ku ke cafe ?" jelas rania padanya.
"tidak kak.. maaf ya kak. aku nggak tau. aku hanya takut kakak kenapa-napa" rania tersenyum lembut pada gadis itu. dapat aku rasakan ikatan jika gadis itu sangat menyayangi rania.
"ran.. bagai mana dengan ku" ucap ku mengalih kan perhatiannya pada ku.
"aku sudah katakan gus. kalau aku tak tertarik. bagi ku menikah itu hanya sekali seumur hidup. walaupun yang kini gagal. tapi bagi ku itu pernikahan dan cinta terakhir ku"
"apa aku boleh egois rania ?"
"itu hak mu, tapi aku tak akan merubah keputusan ku"
"baik lah rania.. aku minta maaf pada mu. jika perlu apa-apa hubungi aku. anggap aku saudaramu, bukan masa lalu mu. ingat lah.. aku akan slalu ada untuk mu" setelah itu aku pergi dari ruangan itu. sambil menapaki langkah menjauh dari sana aku terus berseteru dengan batin ku. di sana ada keegoisan dan juga ada keikhlasan.
sebelum benar-benar pergi dari rumah sakit itu aku melihat gedung itu dengan lekat.
__ADS_1
"aku sudah berjuang. namun aku kalah.. aku tak bisa meraih mu untuk jadi istri ku. tapi aku akan berusaha meraihmu menjadi saudari ku. aku akan menjagamu dan ponakan ku rania."
setelahnya aku membalikkan badan pergi menjauh dari rumah sakit itu.