
pov. rania
dua bulan sudah setelah aku melahirkan. setelah di rasa bekal luka caesar ku benar-benar pulih aku memutuskan untuk melihat khaira, rasanya aku sangat rindu dengan gadis kecil ku. setelah aku melahirkan aku belum bisa menemuinya.
"hummm.. jagoan ibun udah ganteng.. kita jumpa sama kakak ya nak.. kakak pasti senang kalau tau dia sudah punya adik." ujar ku saat ingin mengunci pintu.
sesampainya di depan gang tempat kostnya ahmad aku memarkirkan mobil ku di sana, keadaan gang yang sempit membuat mobil tak bisa masuk hingga ke depan kostnya.
berjalan di dalam gang kurang lebih seratus meter aku sudah sampai di pintu kostnya.
tok tok tok...
tok tok tok...
tak kunjung mendapat sahutan aku memutuskan untuk terus mengetuk pintu itu. hingga tetangganya keluar memghampiri ku.
"cari siapa mbak ?" ucap wanita yang sepertinya sepantaran dengan ku.
"cari yang kost di sini mbak.." jawab ku sambil melemparkan senyum padanya.
"oh, bang ahmad ya ? dia sudah berangkat kerja mbak.." aku menautkan alis ketika mendengar ia menyematkan kata 'bang' untuk panggilan ahmad. apa mereka sedekat itu ?
'oh.. ya udah trimakasih ya mbak. saya pergi dulu.." aku pun gegas pergi dari sana, tujuan ku kini ialah doorsmer tempat ahmad bekerja.
satu jam kemudian aku sampai di tempat ahmad bekerja. tanpa memperdulikan tatapan mata ahmad aku lansung mendekati khaira dan membawanya ke dalam pelukan ku.
__ADS_1
"sayang.. kangen nggak sama ibun ?" ucap ku sambil mencium puncak kepalanya.
"anen bun.." jawabnya dengan bahasa kekanak-kanakannya.
"ibun juga sangat kangen sama kamu nak.. oh iya sayang, ini adek. coba lihat.. dia ganteng kan ? wajahnya mirip sama kamu. sekarang kamu sudah jadi kakak" aku meletakkan tangannya pada tangan davin jagoan kecil ku.
"lucu bun.. adik kakak ya ?" celotehnya.
"iya sayang.. ini adik kamu. nanti bantu ibun buat jaga adik ya nak.." ia menganggukkan kepala sambil mengelus lembut pipi bayi davin dengan ibu jarinya.
"jangan mencuci otak khaira agar menyayangi anak hasil selingkuhan mu itu" ucap ahmad dengan dingin. mungkin karena mobil yang tadi sedang ia cuci ketika aku datang sudah selesai, jadi kini ia bisa mendekat.
aku tercenung mendengar ucapannya yang sangat membuat hati ku perih. sesungguhnya aku tak pernah berbuat itu. itu merupakan sebuah tuduhan menyakitkan bagi ku.
"aku tak seburuk yang ada di pikiran mu. aku hanya ingin khaira menyayangi adiknya. walaupun kamu tak ingin mengakuinya, tapi khaira wajib tau dan menyayangi adiknya."
"ckkkkk.. dasar hati kotor !" ia terlihat mengepal tangannya dengan kuat hingga terlihat buku-bukunya memutih. "sekarang aku sudah melahirkan, jadi tunggulah gugatan ku. aku juga akan mengambil hak asuh khaira dari mu !, khaira.. ibun pergi dulu ya nak.. sabar lah, ibun akan merebut mu." ku ciumi setiap inci wajah khaira setelahnya aku pergi menuju mobil ku sambil mendorong kereta bayi davin ku. dalam perjalanan aku terus menyemangati diri. tak boleh ada air mata lagi, air mataku terlalu berharga hanya untuk menangisi keegoisan laki-laki yang dulu ku kejar cintanya.
hari ini aku mendaftarkan gugatan ceraiku di pengadilan agama. semua berkas sudah aku siapkan. berharap semua cepat usai. aku ingin hidup tenang dengan kedua buah hati ku.
hari ini adalah sidang pertama. semua berjalan pancar, di karenakan ahmad tak datang. jadi semua berjalan sesuai kemauan ku. aku juga menunjukkan bukti-bukti bahwa ahmad tak bisa memberikan kehidupan yang layak pada khaira. hingga selain resmi kami bercerai, hak asuh khaira juga jatuh pada ku. aku hanya menunggu surat cerai selesai barulah aku akan mengambil khaira.
dua minggu setelah keputusan sidang akhirnya surat cerai aku kantongi juga. saatnya aku bergerak untuk mengambil khaira untuk ikut dengan ku. kali ini aku ingin lansung menuju dorsmeer tempat ahmad bekerja.
__ADS_1
aku sampai di dorsmeer itu. ku langkah kan kaki tempat di mana biasanya khaira bermain sambil menunggu ayahnya bekerja. tapi tak aku dapati keberadaan khaira. aku melirik jam di pergelangan tangan ku. di sana menunjukkan pukul sebelas siang..
"ke mana mereka ? tak mungkin jam sekarang ahmad masih di perjalanan" monolog ku.
"bang.. apa ahmad masih bekerja di sini ?" tanya ku pada salah satu pekerja di sana yang kebetulan lewat di dekat ku.
"masih kak.. tapi sudah dua hari dia tidak masuk bekerja. waktu dia izin tidak masuk dia katakan kalau anaknya sedang sakit" aku lansung pamit pergi setelah mengucapkan terimakasih.
ku tancap gas mobil ku membelah jalanan yang kini tak terlalu ramai. selang beberapa waktu aku tiba di kostnya ahmad. dengan berlari aku menapaki gang yang juga terlihat sepi. sesampainya di sana pintu rumah itu tak di tutup.. buru-buru aku masuk setelah mengucapkan salam. benar saja, saat ini khaira terlihat lemas dan pucat..
"ibunnnn " ucapnya duduk dari pembaringannya. di sebelahnya ada ahmad dan wanita yang kala itu bertemu dengan ku ketika ahmad dan khaira sedang di tempat bekerjanya.
"iya sayang.. ini ibun.. khaira kenapa nak ?" tak satu pun dari mereka yang menjawab, khaira bergerak memgambil posisi duduk di pangkuan ku. ku rasakan suhu tubuhnya sangat tinggi.
"ya allah.. kamu demam nak ? kita berobat ya nak." ucap ku sambil memeluknya. namun tatapan ku menuju ke arah dua orang yang sama sekali tak ingin mengeluarkan suaranya yang berharga bagaikan berlian. aku lansung merogoh tas yang talinya masih melekat di bahu ku. ku ambil dokumen perceraian kami.
"ini.. tanda tangan lah agar semua cepat selesai" ucap ku sambil menyodorkan berkas itu. ahmad terlihat tercenung. "tunggu apalagi ? ayo cepat tanda tangan. agar kalian bisa cepat menikah. tak baik jika terus berdekatan tanpa adanya ikatan pernikahan. bisa-bisa kalian berzina karena godaan setan."
"apa maksud mu ? aku bukan kamu yang suka berzina !!" sergah ahmad. akhirnya ia keluarkan juga suaranya.
"ayolah segera tanda tangani. aku tak punya banyak waktu. aku akan membawa khaira bersama ku, karena hak asuh khaira jatuh pada ku. kau lihat lah buktinya di situ"
ahmad terlihat terdiam. tapi wanita itu menggoyangkan lengan ahmad hingga ahmad tersadar dari lamunannya. ahmad tampak mengangguk kan kepala padanya. aku tak tau apa yang tengah mereka diskusikan . karena memang tak ada pembicaraan di antara mereka selama aku berada di sini. mungkin mereka bicara menggunakan telepati atau apalah itu. sehingga manusia biasa seperti ku tak bisa mendengarnya. tangan ahmad pun bergerak menanda tangani berkas perceraian kami. hati ku sangat lega. bukan aku ingin cepat-cepat punya pengganti. tapi aku lega bisa lepas dari status tak jelas ku, dan juga kedua buah jati ku ada padaku.
"perlengkapan khaira mana ? aku akan membawa semua perlengkapanya" ucap ku sambil berdiri memasukkan perlengkapan khaira kedalam tas besar. "kartu ATM yang aku berikan untuk mengirim biaya khaira dulu mana ?" cari ku. karena aku tak melihat kartu itu.
__ADS_1
"a-addaa.." ucap ahmad terbata. matanya mengerling ke arah wanita itu.
apa maksudnya ini ?