Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
membunuh tanpa menyentuh


__ADS_3

pov. rania


malam ini suasana cafe begitu ramai, hingga semua karyawan dan karyawati ku terlihat kelabakan. aku pun tak sungkan turun tangan membantu mereka melayani pengunjung. sementara bayi davin dan khaira tengah asik bermain dengan gusti. entah lah. sejak ia menganggapku adiknya ia lebih sering berada di rumah ku jika di bandingkan menekuni usahanya sendiri.


hingga pukul dua belas malam cafe pun kami tutup. selain tidak menerapkan sistem buka 24 jam, stok bahan untuk seluruh menupun sudah tandas. kini hanya ada aku dan kedua buah hati ku yang sedang bersiap-siap untuk tidur. ketika aku menyusui bayi davin, aku mendengar suara seperti seekor kumbang yang tengah mengitari pendengaran ku. aku mencari keberadaan pemilik atau asal suara itu. tapi tetap tak ku temui apa-apa. semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, setelah davin tertidur aku menyudahi untuk menyusuinya. gegas aku menuju jendela yang ada di kamar ku. dalam keremangan ku lihat ada cahaya seperti cahaya pelita kecil yang melayang. mata ku membulat. aku pernah dengar dari ayah ku. agar aku selalu menjaga diri dan memagari diri dengan kalah allah. ilmu hitam bisa saja berbentuk cahaya atau hewan kecil. namun yang ini sepertinya ilmu hitam yang mereka kirim melalui cahaya pelita yang. dada ku berdegup kencang, tak ingin munafik, naluri ku ciut seketika. ku pejamkan mataku. di dalam.hati tak henti-hentinya aku lafalkan surat-surat Al-Qur'an. "ya allah.. lindungilah aku dan anak-anak ku" lirih ku dengan dada yang bergemuruh. cahaya itu semakin mendekat. aku mundur dua langkah menjauhi jendela kaca itu. benar saja, kini cahaya itu masuk ke dalam kamar ku menembus kaca jendela.


aku terus mudur, cahaya itu lalu mengikuti pergerakan ku. kini punggungku sudah menabrak dinding, aku tak bisa mundur lagi untuk menjauhi cahaya itu. sepertinya cahaya itu tak ingin berhenti, ia terus melajukan diri untuk mendekat padaku.


"Allahuakbar!!" seru ku dan kini mata ku berkunang-kunang dan gelaplah pandangan ku.

__ADS_1


****


rania...rania..


kak.. tolong bangun lah.. sayup pendengaran ku menangkap suara-suara itu. aku mencoba membuka mata ku yang berat. ketika mata ku terbuka aku lansung melihat sosok azra dan gusti.


"Alhamdulillah.." seru mereka dengan serentak.


"iya kak ran.. kami sangat cemas dengan keadaan kakak." azrapun menyahuti.

__ADS_1


"mana anak-anak ku,.apa mereka baik-baik saja"


"tenanglah ran. mereka aman bersama dengan karyawan mu yang lain, sebenarnya apa yang terjadi ?" selidik gusti.


"cahaya.. cahaya itu gus. auuuhhhh.. !!" aku berusaha untuk duduk, tapi dadaku terasa sangat sakit.


"jangan banyak bergerak dulu kak. luka di dada kiri kakak masih belum membaik" azra membantu ku untuk duduk bersender di sandaran brangkar.


aku membuka satu kancing bajuku dan menoleh ke dadaku yang sakit. alangkah terkejutnya aku melihat lebam yang berdiameter kurang lebih 5 centimeter dan di tengahnya aku tak tau apa yang terjadi, sebab masih dalam tertutup oleh perban.

__ADS_1


"kak.. di temukan benda tajam, seperti tulang yang menancap di dada kakak. untungnya benda itu tidak mengenai jantung kakak" aku melongo mendengar ucapan azra.


"tulang ra ?" aku terperangah tak percaya.


__ADS_2