
pov. ahmad
keesokan harinya setelah memastikan bang kobar sudah di periksa oleh dokter, sudah makan dan meminum obat. aku minta izin padanya untuk pulang. ia lansung mengiyakan dan memintaku untuk tak menjaganya lagi. karena dia takut intan keberatan.
ceklek...
"sudah ketemuan sama mantan istrinya ?"
"assalamualaikum" ucap ku mengacuhkan ocehan intan.
"tuli ya ? apa memang benar kalian berduaan di sana haa ?"
"apaan sih ? jangan selalu berburuk sangka." aku meninggalkan intan yang terus ngedumel. aku malas meladeni pikiran kotornya. tingkahnya seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama saja.
setelah membersihkan diri aku ingin ketempat usaha ku.
"kau pikir rumah ini hotel apa ? baru saja pulang sudah mau pergi lagi" aku menghentikan langkah ku yang ingin pergi.
"kamu kenapa ? jangan terlalu mengecap jelek orang lain intan" sergah ku.
"iya . aku memang selalu tak baik di mata mu, apa-apa memang aku yang kau salah kan. yang baik di mata mu itu hanya rania."
"rania rania raniaaaaaa saja yang ada di otak mu intan. apa salah rania pada mu haa ? apa-apa selalu kau bawa-bawa rania yang tak tau menahu dalam masalah mu !!" aku meninggikan suara ku, karena aku gerah saat mendengar nama rania selalu di jadikan biang kerok oleh intan.
"oooo.. ternyata kau lebih membela rania ya ? kau berani membentak ku katena rania ? apa tadi malam kau puas berzina dengannya ?"
"hentikan ucapan mulut kotor mu itu intannn!!" kali ini aku berteriak hingga suaraku memenuhi seisi rumah. "kau.. berhentilah mengucapkan nama rania. mulut kotor mu tak pantas mengucapkan namanya." lalu aku pergi dengan menutup pintu dengan membantingnya hingga menimbulkan bunyi yang lantang.
selama di tempat usaha ku aku terus saja berfikir tentang rumah tanggaku. kacau.. ya.. karena tingkah intan yang terlalu cemburu pada rania membuat rumah tangga kami kian rumit.
__ADS_1
malam harinya aku memutuskan lansung ke rumah sakit tanpa pulang kerumah terlebih dahulu menjumpai intan. aku lebih baik memghindar dari pada meladeni emosi yang tak beralasannya.
ceklek..
"assalamualaikum.." ucap ku saat ingin memasuki ruangan rawat bang kobar. betapa hati ku terasa damai saat melihat senyum yang melengkung di bibir rania saat melihat kedatangan ku.
"walaikumsalam" balas bang kobar dan rania bersamaan.
"aku sudah di sini ran. jika kamu mau pulang silahkan. aku akan menggantikan mu menjaga bang kobar"
"iya nih.. udah terlalu malam juga. oh iya.. besok bang kobar sudah di perbolehkan pulang. coba tanya pada ibu kalian dulu, jika bang kobar boleh di bawa pulang ke rumahnya, aku akan mengantar bang kobar ke sana. tapi jika tidak, aku akan mencarikan rumah sewa dulu sebelum aku menjemput bang kobar" bagi ku kata-kata yang keluar dari bibir rania begitu menyejukkan. tak peduli ia berkata apa, yang pasti ia punya arti tersendiri bagiku.
"jangan repot-repot ran.. aku akan cari sendiri saja tempat tinggal ku nanti" jawab bang kobar.
"nggak repot kok. telfon lah dulu. jika sudah tau jawaban ibu kalian seperti apa, jadi aku bisa ambil tindakan yang bagai mana."
tutttt..
tuuuttt..
tuutttt...
"hallo.. apa uang yang ibu minta sudah ada ?" itu lah ucapan pertama yang terdengar saat aku menelpon ibuku.
"maaf bu, uangnya belum ada ?"
"jadi untuk apa kau menelpon ibu ?"
"aku mau membicaraakan soal bang kobar bu. besok......."
__ADS_1
"aku tak bisa merawatnya ahmad, biarkan saja dia hidup sendiri. diakan sekarang sudah berbaikan dengan mantan istri mu. jadi biarkan dia mengemis minta bantuan pada mantan istri mu itu. ibu nggak ada waktu buat ngerawat orang sakit.." telepon pun di putuskan sepihak oleh ibuku. wajah rania dan bang kobar menatapku penuh tanda tanya. tentu mereka ingin tau apa keputusan ibu.
"ibu nggak mau bang" ucap ku dengan berat hati.
"ya sudah, besok aku akan cari dulu rumah sewa baru setelahnya aku ke sini." ucap rania sambil tersenyum. dari wajahnya tak sedikitpun ia merasa keberatan membantu bang kobar. "aku pulang dulu ya. assalamualaikum" ia pun pergi dari ruangan rawat bang kobar.
keesokan harinya setelah melalui proses pemeriksaan dokter dan menebus obat buat di bawa pulang oleh bang kobar, kami bersiap ingin meninggalkan rumah sakit ini. sementara untuk biaya rumah sakit sudah di lunasi oleh rania tadi malam sebelum ia pulang.
tiga jam kami sudah menunggu, tapi tak juga mendapati rania menemui kami. aku yang sedari tadi sangat sungkan untuk meneleponnya akhirnya memberanikan diri untuk menelepon nomor mantan istri ku itu.
sudah lima kali panggilan. tapi tak juga di angkat oleh rania.
"kita tunggu saja, dia pasti belum selesai mencari rumah kontrakan. sekarangkan susah buat nyari rumah kontrakan yang nyaman" ucap bang kobar yang kini masih terlihat bersemangat. aku hanya membalas dengan anggukan kepala.
kini langit sudah berubah warna menjadi jingga. pertanda siang akan berganti dengan malam yang pekat. tapi rania belum juga muncul. aku yang sangat gelisah mencoba menghubungi ponselnya lagi.
tuttttt....
tutttt..
tuuuuuutttt..
akhirnya telepon ku di angkat juga oleh rania. tapi dada ku terasa sesak mendengar ucapan dari seberang telepon sana. aku memegangi dada ku, tangan ku rasanya tak berdaya lagi hinggaa..
bruukkk..
android yang tadi menempel di telinga ku jatuh ke lantai.
"ada apa ahmad ?, kenapa kau terlihat kaget begitu ?"
__ADS_1