Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
fistula ani


__ADS_3

malam ini aku berniat menemui kobar di rumah sakit. sesampainya di sana aku lansung meminta indra untuk pulang agar keluarganya tidak cemas.


"te-rimakasih ra-rania..!!" lirih kobar saat tatapan mata kami bertemu.


"tak perlu berterimakasih.. aku hanya melakukan tindakan sesuai hati nuraniku.." ia tampak sedikit menggerakkan kepalanya persis seperti menganggukan kepala. "dan ya.. tadi aku sudah bertemu dengan dokter. ia mengatakan bahwa kamu mengidap fistula ani. apa kau serius waktu itu mengatakan kalau kau juga tertular HIV ?" aku kembali menimpali, namun kobar tetap bergeming. mungkin ia malu mengatakan kebenarannya di saat bertatap wajah begini dengan ku.


"aakkkhhhhh.. tolonggggg !!" kobar tiba-tiba meringis kesakitan. saat itu juga bau busuk kembali menyeruak.


"uueekkk.." aku spontan mual tak tertahankan. "tunggu di sini, aku akan memanggil dokter" ucap ku sambil berlari keluar karena memang baunya sangat mengocok perut. walau aku sudah membekap hidung dengan kedua tangan ku, bau itu tetap menembus indra penciuman.


dokter dan perawat kembali menangani kobar. setelah dokter dan perawat keluar aku baru memberanikan diri untuk masuk. syukurnya bau itu sudah tidak setajam tadi. perlahan-lahan kini sudah tak tercium lagi. mungkin perawat tadi yang membersihkan kotoran kobar.


"apa sekarang kau merasa lebih baik ?" aku mendekat dan memilih duduk di kursi yang di sediakan untuk menjaga pasien.


"ya.. maaf jika penyakit ku ini terlalu menjijikkan."


"tak masalah...maaf juga mungkin kau tersinggung melihat reaksi ku"


"tidak.. aku sama sekali tak tersinggung. jangan kan kamu yang bukan siapa-siapa ku, ibu kandung yang sudah melahirkan ku saja sangat jijik dengan penyakit ku ini."


"lalu.. di mana keluarga mu saat ini ? apa mereka tak ada yang ingin menjaga mu di sini ?"

__ADS_1


"mereka tak ada yang ingin melihatku sama sekali. bahkan tentang kabar ku saja mereka tak ingin tau. padahal aku begini karena memenuhi tuntutan kasi dan ibu. aku tak punya jalan lain selain merelakan harga diri ku tergadaikan. aku menjadi penjaja kenikmatan dan bahkan aku juga sering memakai obat-obatan. yang lebih memukul mentalku ialah tindakan ibuku, setelah aku begini ia menguasai semua yang ku miliki dan untuk berobat pun aku tak di beri sepersenpun walau aku memaksa meminta uang untuk biaya perobatan"


"apa ahmad tau kau saat ini tengah sakit ?"


"jelas ia sangat tau. aku pernah ingin menumpang tinggal di rumahnya. tapi istrinya mengusirku. dengan dalih tak ingin tertular penyakit ku" mata kobar kini berembun. aku membuang nafas kasar.


"sabar lah.. insya allah aku akan bantu biaya perobatan mu." aku sebenarnya tau dengan semua yang ia kerjakan demi mendapatkan rupiah lebih banyak dalam waktu singkat, karena aku juga sempat beberapa kali melihat ia dengan seorang pria yang kedekatannya sungguh sangat tak lazim.


"ooo... jadi sekarang kamu sudah pandai menjual cerita haaa ?" seketika aku dan kobar mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. kobar tersenyum melihat kehadiran wanita itu. tapi tidak dengan ku, aku hanya memasang wajah biasa-biasa saja.


"sudah curhatnya ?" wanita itu mendekat ke arah kobar dan meletakkan bawaannya di atas nakas.


"lalu ? apa kau bangga memberitahukan perihal kehidupanmu pada wanita murahan ini ?" ternyata walau sudah tak menjadi menantunya lagi tak membuat mulutnya berhenti menghinaku.


"hei.. jaga omongan mu bu.. lihatlah siapa yang murahan di antara kita. lebih baik berkaca dari pada sibuk mengoreksi diri orang lain" ucap ku tak terima dengan penghinaannya.


"sudah lah bu.. lebih baik ibu minta maaf pada rania, jangan terus menghina yang sebenarnya hinaan ibu itu sangat tak berdasar" sergah kobar yang saat ini seperti membelaku.


"kamu lagi. udah penyakitan, menyusahkan orang. sok menceramahi orang pula. nih.. semua pakaian kamu yang ada di rumah ku. lumayan buat ganti-ganti kamu selama di sini. urus diri kamu sendiri, memalukan !!" ocehnya sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan ini. aku hanya bisa memandang nanar kepergian mantan ibu mertuaku itu. rasanya aku tak habis pikir, bagai mana bisa seorang ibu yang sudah melahirkan anaknya berkata sedemikian rupa saat anaknya benar-benar tengah terpuruk. bukan menyemangati, ia malah mengucapkan kata-kata yang dapat menyerang mental sang anak. aku saja yang mendengar penjelasan dokter tadi merasa sangat kasihan pada kobar. tak ada satu manusiapun yang mau menderita penyakit itu. kobar terkena fistula ani karena sering berhubungan melalui lubang belakang yang mengakibatkan lubang belakangnya kehilangan daya menahan kotoran karena lubang itu tak lagi bisa kembali seperti semula. hal itu di perparah larena kobar juga mengidap HIV yang membuat lubang an*snya membusuk. menjijikkan memang. tapi sebagai manusia aku tak ingin ikut menghujatnya. ia punya alasan untuk itu. mungkin ini juga teguran baginya.


"istirahat lah.. besok akan di lakukan operasi. kau perlu banyak istirahat. maaf aku tak bisa menjaga mu di sini. karena anak-anak ku tak bisa berlama-lama aku tinggal, besok aku akan kembali jika pekerjaan ku sudah bisa ku tinggal" aku pamit untuk pulang.

__ADS_1


****


siang ini tepat jam 11.15 operasi kobar di laksanakan. aku tak bisa menemaninya saat ini. tanpa azra aku ternyata benar-benar payah dalam menjalankan usaha ku. hingga jam 16.00 barulah aku bisa meninggalkan cafe ini dan menuju ke rumah sakit.


aku sudah tiba di ruangan kobar. ia sudah di pindahkan keruang rawat inapnya. ku lihat di perutnya terpasang selang untuk jalan keluar kotorannya sementara waktu selama masa penyembuhan lubang an*snya. di ujung selang itu juga terpasang kantung yang berguna menampung kotoran kobar. melihat aku mendekat kobar gegas menutup kantung itu. mungkin ia takut aku jijik melihat kotorannya.


"apa tadi operasinya berjalan lancar ?"


"yaa.. terimakasih rania, doakan aku lekas sembuh. aku akan mencari pekerjaan dan lekas mengganti biaya perobatan ini"


"sudah lah.. aku ikhlas.. bagai mana pun kita pernah menjadi saudara. jadi jangan berfikir untuk mengembalikan apapun. aku masih saudara mu."


"terimakasih" ucap kobar sambil menyeka air matanya.


tak lama setelahnya ia tertidur. aku berpindah ke sofa di ruangan itu. entah mengapa rasanya tubuh ku sangat lelah. ku sederkan tubuh ku pada sandaran sofa dan aku pun tertidur.


"ran.. raniaa.. raniaaaa.." terdengar sayup-sayup ada suara yang tengah mamanggil nama ku. aku mengerjapkan mata, mencoba meraih kembali kesadaran ku.


"raniaa.. bangun lah.. pulanglah.. anak-anak pasti menunggumu." mataku terbelalak saat tau siapa yang membangun kan ku.


'sedang apa dia di sini dan sudah berapa lama ia di sini ?

__ADS_1


__ADS_2