
"r- raniaaa.. Rania.." ternyata suami ku sudah siuman dan orang yang pertama kali ia cari adalah aku.
setelah selasai shalat aku lansung mendekat ke arahnya. sebuah senyum yang tak pernah ia berikan pada wanita lain tampak menghiasi wajahnya kala melihat aku yang kini duduk di sampingnya.
"ayah mau minum ??" tawar ku padanya yang ia jawab dengan anggukan kepala. setelah memberi minum padanya aku ingin membersihkan tubuhnya dengan handuk yang di basahi dengan air hangat.
"udah Bun.. kayak anak kecil aja pakek di lap segala. nanti ayah bisa ke kamar mandi sendiri buat bersihin badan. kasian ibun pasti lelah.."
"jangan ngeyel yah. nih, dah selesai. ibun nggak lelah kok. maaf kan ibun ya yah.." aku memeluk tubuhnya yang kini masih ringkih. ia pun membalas pelukan ku.
"hmmmm.. maaf buat apa Bun ?? ibun nggak punya salah apa- apa kok"
"karena melindungi ibun ayah jadi harus berada di sini sekarang.."
__ADS_1
"ini memang sudah jadi tugas ayah Bun, ribuan kali pun ayah merasakan sakit seperti ini ayah akan terima Bun. kalau dengan rasa sakit ini yang membuat ibun tidak membenci ayah.."
air mata ku kembali tak bisa di bendung, aku sangat menyesal atas tindakan ku. tak seharusnya aku bersikap buruk padanya atas tindakan ibunya itu.
--------------------
hari ini suami ku sudah di perbolehkan pulang. 6 hari ia di rawat di rumah sakit setiap kali bertemu perawat atau dokter ia selalu mengutarakan niatnya untuk di rawat di rumah saja. seperti ku, ia juga sangat khawatir meninggalkan Khaira lama- lama jauh dari kami. pasti ia sangat rewel. karena ini pertama kali ia berpisah dari kami.
sesampainya di rumah, aku membopongnya ke arah sofa agar ia bisa duduk dulu di sana.
"iya, tunggu sebentar di sini ya yah. ibun mau ambil Khaira dulu di rumah tetangga" ia hanya mengangguk kan kepala. selama kami di rumah sakit Khaira ku titip kan pada Bu Sri tetangga sebelah rumah kami.
-----------------
__ADS_1
hari ini jadwal kontrol suamiku untuk memastikan jika ia sudah benar- benar membaik. syukurnya tak ada lagi yang perlu di khawatirkan dari bekas tusukan pisau ibunya yang bersarang di dada sebelah kirinya. kami sama- sama mengucapkan syukur saat mendengar penjelasan dokter. dan berlalu pergi setelah di rasa urusan kami di rumah sakit itu selesai.
di perjalanan pulang ketika di lampu merah kami harus menunggu lampu hijau untuk bisa melanjut kan perjalanan. tapi ada yang mengganggu penglihatan ku.
"yah, itu bukannya bang kobar ??" aku menunjuk sepeda motor yang berada di samping mobil yang ku kendarai sekarang. sontak suamiku pun menoleh ke arah jari telunjukku.
"iya Bun. itu bang kobar. tapi kenapa cara berboncengan mereka seperti itu ya Bun ?" suami ku menanyakan sesuatu yang sebenarnya juga muncul di fikiran ku.
"tak mengapa yah. mereka kan sama- sama pria" ucap ku agar dia tak berfikiran buruk seperti ku.
"iya justru itu yang membuat pemandangan ini terasa aneh. sama- sama pria kok boncengannya sambil pelukan erat gitu. jangan- jangan........." suami ku tak lagi menerus kan ucapannya. mungkin ia takut salah berucap.
"jangan- jangan apa yah ?? udah ahh . jangan mikir kejauhan gitu yah. mungkin aja yang di bonceng itu nggak biasa naik motor jadi dia takut jatoh.. bisa jadikan kalau pria itu pelanggan ojek onlinenya bang kobar ??" aku mencoba memberi suntikan positif pada suamiku agar ia tak memikirkan hal- hal aneh. sebab ia baru saja sembuh.
__ADS_1
aku membuka kaca mobil yang ada di sebelah ku.
"hah.. k- kamu... ??"