
usaha ku semakin hari semakin maju. aku sudah bisa memperkerjaan 2 orang karyawan guna membantuku mejalankan usaha yang sempat mendapat musibah dari rasa dengki orang yang ahklaknya rendah. tapi aku bersikap seolah- olah aku tak mengetahui apa- apa.
"waaaaaah usaha mu sekarang maju pesat ya kak ran.." dengan tak tau malunya mayana akhir ya datang menyambangi rumah sekalian yangku jadikan tempat usaha ini.
"iya may, atas izin allah usahaku semakin maju. walau pun ada segelintir orang yang ingin menghancurkan usaha ku, tapi allah memberiku rezeky lebih dari apa yang mereka hancurkan. orang iri memang tak akan mendapat ketenangan hati. aku yakin. kini orang itu tak bisa tidur nyenyak melihat usahaku ini" ku pukul telak ia dengan menamparnya lewat sindiran.
"oo emmm kak rania ada- ada aja. mana mungkin ada orang yang seperti yang kakak bilang tadi. secara kak rania sangat baik sma semua orang." ia melemparkan senyum palsunya pada ku. tapi tetap tak bisa menutup rasa gugupnya.
ia tak lagi banyak bicara, ia sangat menikmati menu makanan yang aku sediakan untuknya. jika tak mengingat hidup ini akan di perhitungkan segala sesuatunya kelak di hadapan tuhan, sudah ku campur sianida itu makanannya biar dia cepat berurusan dengan tuhan.
"makasih kak ran. makanan dan minuman yang kakak suguhkan untuk ku saangaaattt enak!!" ia memang bermuka tembok, jika aku jadi dia. aku tak akan berani menunjuk kan muka ku pada orang yang aku sakiti.
__ADS_1
"makasih juga udah berkunjung ke mari may. oh iya, ini di bawa ya kalau kamu mau pulang nanti. tolong berikan pada ayah mertua dan ibu nanti ya" aku meletak kan 5 box makanan yang aku susun rapi dalam kresek besar di kursi yang bersisian dengan yang ia duduki.
"baik banget ih kak rania ini. pasti nanti ayah mertua kesayangan kakak itu seneng banget.." ia menekan kata- kata ayah mertua karena ia sangat tak menyukai sikap ayah mertua yang tak pernah bersikap manis padanya.
"hemmm.. biasa aja may. nanti kalau kamu mau nambah juga bisa tuh. ada banyak!!" ku tunjuk ke arah box makanan yang ku letak kan tadi.
ia lansung pamit pulang setelah aku menunjuk ke arah box makanan itu. mungkin ia sadar juga kalau aku sudah memintanya pergi walau dengan cara halus.
------
"bun, alhamdulillah tabungan kita segini banyak bun." ia menyodorkan gepokan uang yang berjumlah 93 juta.
__ADS_1
"iya yah alhamdulillah.." aku menerima uang itu dengan senyum sumbringah. "jam berapa nanti kita ketemuan sama yang punya tanah yah ??"
"agak sorean sih bun. tapi kayaknya kita batalkan aja ya bun. soalnya uang kita masih kurang"
"jangan yah.. kita harus beli tanah itu yah. walau kita belum bisa bangun rumah. setidaknya buat investasi aja dulu yah. harga tanah makin lama makin naik loh."
"iya bun. tapi ayah udah nggak punya uang buat kekurangannya bun. ibun kan tau, semua uang ibun yang pegang"
"ada kok yah uangnya. kekurangannya kan 25 juta lagi. nanti kita jual aja sebagian perhiasan ibun"
"serius bun ?? sebanyak itu perhiasan ibun ??"
__ADS_1
"huu'umm.. kan tiap hari ayah kasih uang lebih dari cukup dari hasil ojol. trus di tambah lagi dengan pendapatan mini cafe ibun. alhamdulillahnya bisa beli perhiasan lebih dari jumlah kekurangannya ini yah" aku menggodaya dengan kerlingan mata yang membuat ia mencubit hidung ku.
"waaaawww lagi banyak duit nih" sela seseorang yang entah sejak kapan ia berdiri di ambang pintu kamar kami.