
pov. ahmad
krakk...
ku dorong pintu ruangan di rumah kosong ini. rasanya aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. di hadapan ku sedang tersaji adegan mesra rania dengan seorang laki-laki yang wajahnya seperti pernah aku lihat. saat ini rania seperti di peluk dari belakang oleh laki-laki itu.
"benar kata ibuku. kau perempuan murahan rania!!!" dengan dada yang sesak aku melontarkan kekesalan ku.
"a-ayah.. jangan salah paham, ini bukan seperti yang ayah lihat" ia berusaha meraih tangan ku. sepertinya ia lemas saat ini. hingga jalannya seperti terhuyung.
"jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku tak sudi punya panggilan khusus dengan mu ******!!!" aku lansung memutar tubuhku dan pergi meninggalkan tempat itu. tujuan ku saat ini hanya secepatnya berpisah dengan wanita yang sejatinya sangat ku cintai. tapi perbuatannya membuat hati ku sakit.
aku kembali kerumah, ku ambil seluruh barang-barang ku dan tak lupa aku bawa khaira untuk ikut dengan ku. dengan menaiki taksi online aku bertujuan kerumah ibu. ya.. hanya rumah itu satu-satunya tempat ku kembali.
empat puluh menit berikutnya aku sampai di rumah ibu, tapi rumah ini sepertinya sunyi.
"assalamualaikum.." ucap ku sambil menggedor pelan daun pintunya.
krakkk..
pintu di buka, terlihat wajah ibuku dari balik pintu.
"kamu naik apa ke marinya ahmad ?" gelontor ibu saat melihat wajah ku.
__ADS_1
"naik taksi online bu" tanpa di persilahkan masuk pun aku masuk dengan menenteng tas bawaan ku dan menggendong khaira.
"hufftttt.. kenapa tak naik mobil kamu aja, malah buang-buang duit buat bayar taksi online" sungut ibu padaku.
"itu bukan mobilku bu, itu milik rania"
"kan sama aja loh.. dia sudah berkhianat. jadi ga salah dong kalau kamu ambil semua harta kalian. toh dia yang salah"
"sudah lah bu, aku pusing. rasanya kepala ku mau pecah. tolong buatkan susu untuk anak ku bu, dia belum tidur siang. dia tak bisa tidur kalau belum minum susu"
"buat aja sendiri.. bukannya bawa harta malah bawa anak.. bikin repot aja !!" ku buang nafas kasar saat mendengar ucapan ibu. apadahal jika ia bersyukur, yang ku bawa saat ini adalah harta paling berharga bagi ku. khaira adalah belahan nyawa ku. sudah jelas ia sangat berharga bagiku.
sudah dua hari setelah aku di perlihatkan foto perselingkuhan rania dan mantan kekasihnya itu, namun bagi ku bayangan ketika aku melihat lansung adegan mesra mereka kala itu terasa sangat menghantui ku hingga saat ini. entah mengapa hati ku sangat hancur karenanya. rasa kesal ku sangat membuncah jika mengingat kejadian itu. ingin rasanya ku bunuh rania saat itu juga, tapi aku tak akan membunuhnya. sebeb aku pasti di penjara setelahnya dan khaira tak akan punya siapa-siapa lagi untuk mengurusnya. aku harus bisa menjadi ayah sekalian menjadi sosok ibu bagi Khaira.
"hmmmm.. anak pintar ayah udah bangun ?" ucap ku saat mendapati khaira yang bermain sendiri di atas tempat tidur yang kami gunakan untuk tidur tadi malam.
"hu'uhh yah" jawab khaira dengan ekspresi lucunya. gegas aku mandi dan setelahnya ku mandikan khaira dan kami berdua berniat sarapan.
"udah bangun kamu ?" ucap ibu yang melihat ku datang ke arah meja makan, di sana ia sedang sarapan bersama ayah ku, rasdi, anak dan istri rasdi.
"iya bu, rencananya habis sarapan aku mau cari kerja. aku titip khaira ya bu.." cicit ku sambil menyendokkan nasi goreng ke piring dan menghenyak kan bikong ku di kursi sebelah ayahku dengan khaira yang duduk di pangkuan ku.
"duh, ibu mana bisa. ibu punya banyak kegiatan. ga akan sempat buat ngurusi anak kamu. kamu bawa aja gih, kan masih nyari. blom tentu udah lansung kerja"
__ADS_1
"kasian khairanya bu kalau aku bawa dia mutar- mutar cari kerjaan bu. belum lagi naik angkot, pasti desak-desakan nantinya di angkot" dengan nada memelas aku tetap mencoba membujuk ibu agar ia mau menjaga khaira untuk ku.
"makanya, jadi laki-laki itu jangan bodoh. kamu ambil tu mobil dan uang di rumah rania. itu hak kamu, trus anak kamu tu kasihkan ke rania aja. biar dia jangan enak-enakan pacaran tanpa di recokin anak !!"
"sudah lah bu, pagi-pagi jangan ngomel mulu. ya udah ahmad. biar ayah yang jaga khaira. kamu pergi aja cari kerjaan" sela ayah ku yang mampu membuat ibu ke berhenti memojokkan ku.
"tapi apa ayah hari ini nggak kerja?"
"nanti ayah izin aja, biar khaira ada yang jaga. kamu cari aja kerjaan dengan tenang ya. insya allah ayah yakin, kamu akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan" aku hanya tersenyum menganggukkn kepala. mendengar ucapan ayah ku, rasanya seperti angin segar yang dapat mengembalikan semangat berjuang ku.
"loh bu... ayam sama telurnya udah nggak ada ya ? trus khaira mau makan apa nih ?" ucapku yang dari tadi ku perhatiakn di piring mereka ada ayam dan telur yang menemani nasi gorengnya. sementara setelah ku cari tak ku temui keberadaan ayam dan telur itu untuk ku dan khaira.
"udah mending masih di kasih numpang tinggal gratis d rumah ini. makan pun jangan sok mau makan enak deh, kayak ada ngasih duit aja !!" hina ibu terhadap ku.
"udah deh bu, suka banget beda-beda kan anak. ini buat mu ahmad, dan ini biar ayah makan sama khaira" sergah ayah yang juga tak terima akan ucapan ibu sambil ia memindah kan telur ke piring ku. sementara daging ayam yang di piringnya akan ia makan dengan khaira.
seharian aku berkeliling mencari pekerjaan, namun hasilnya aku selalu di tolak. rasa keputus asaan tak lagi bisa ku elakkan. hingga aku melihat dorsmeer mobil yang kelihatan sangat ramai. ku putuskan saja mencari pekerjaan di sana. masalah gaji tak ku hiraukan lagi, yang penting aku bisa menyambung hidup dan membelikan susu untuk khaira.
tanpa proses yang banyak, aku di terima bekerja di sana. esok hari aku sudah bisa memulai pekerjaan ku di sana. aku yakin, khaira akan tumbuh jadi gadis yang soleha. untuk itulah, aku selalu berusaha memberikan dia makanan dari sumber rezeky yang halal.
sesampainya di halaman rumah aku medengar suara makian ibu ku dan suara tangis seorang perempuan dari teras rumah. gegas aku mendekat kearah mereka.
"sampai mati pun kau tak akan di terima di sini"
__ADS_1