
"mana ? kok aku nggak lihat" tanya ku lagi.
"kartunya di pegang sama intan" sahut ahmad sambil menundukkan kepalanya tanpa berani memandang wajahku. oh.. ternyata namanya intan..
"sini.. itu milik ku" ku tengadahkan tangan meminta kartu itu pada wanita yang baru saja di sebutkan ahmad namanya. tapi ia hanya melongo tanpa terlihat tanda-tanda akan memberikan kartu itu. "sekali lagi aku minta, kembalikan kartu itu atau aku bawa kasus ini ke pihak berwajib ? ini namanya pencurian. aku titip kartu atm itu pada anak ku. namun bukan anak ku yang menikmati jerih payah ku.. bahkan sakit begini pun kalian tak punya inisiatif buat membawanya ke dokter." ucapku dengan nada bicara penuh penekanan.
"ya nggak bisa gitu dong.. milik bang ahmad ya pasti juga jadi milik ku. orang ibunya bilang kalian punya banyak harta gono gini, jadi aku ya hanya ingin mengamankan agar semuanya tak kamu ambil" cerocosnya dengan wajah yang mampu membuat darah ku mendidih.
"bedebah.. kau berikan atau akan ku telfon polisi saat ini juga !!" ancam ku. lalu ku lirik tas perempuan yang terletak di sebelahnya. itu pasti milik intan. aku lansung bergerak mengobrak abrik tas itu guna mencari kartu atm itu. ya.. di dalam dompet yang ia letakkan di dalam tas ku lihat kartu atm yang ku berikan pada khaira waktu itu. setelah mendapatkan apa yang aku cari gegas aku meninggalkan rumah itu. walau wajah si intan itu seperti orang yang tak terima. aku tak peduli, dengan cepat aku membawa khaira ke dokter spesialis anak terdekat.
"anak ibu harus di rawat ya bu.. karena demamnya sudah lebih dari tiga hari.. kita akan cek secara keseluruhan terlebih dahulu. semoga tidak ada penyakit serius pada anak ibu" ucap dokter yang baru saja memerikasa keadaan kesehatan khaira. aku hanya manut apa yang di katakan oleh dokter itu. bagiku yang terbaik untuk anak ku sudah pasti aku akan lakukan. aku menelfon azra agar dia memberitahukan pada bu minah yang kini sedang menjaga davin, agar dia malam ini menginap di rumahku di karenakan aku tidak bisa pulang.
keesokan harinya test darah yang di lakukan pada khaira keluar. dari hasil test itu khaira mengalami gejala DBD. aku sedih melihat gadis kecil ku hanya tergolek lemah dengan selang infus yang terpasang di tangan kirinya.
"anak pintar.. makan dulu ya sayang. biar cepat sembuh" ku sodorkan sendok yang berisi nasi, ikan goreng dan potongan sayur sop yang tadi di berikan oleh pihak rumah sakit. khaira membuka mulutnya, namun setelahnya ia kembali memuntahkan yang ia makan.
"sayang.. jangan gitu dong. makanan ini sangat baik buat kakak. kalau kakak nggak makan, kakak bakalan di sini terus loh. nggak bisa jumpa sama adik davin. kakak mau kan main-main sama adik ? aaaa sayang.. dua sendokpun jadi. biar bisa minum obat." kembali ku sodorkan satu sendok makanan ke mulut khaira. kali ini ia tak memuntahkannya. ia mengunyah makanan itu dengan sangat lama.
akhirnya selesai sudah ritual memberi makan khaira. hanya tiga sendok yang mampu ia makan. "mau tetap duduk atau berbaring sayang ibun ?"
"duduk bun.."
"baik lah.. sekarang lap badan dulu ya nak. setelahnya baru minum obat" aku pun mulai melepas pakaian khaira pelan-pelan dan memulai mengelap badannya dengan air hangat. namun saat aku akan mengelap lengan kanannya mata ku membola. karena aku melihat lengan kanan khaira lebam.
__ADS_1
"sayang. lengan kakak kenapa ini sayang ?" aku mulai mengorek keingintahuan ku pada khaira.
"ubit bun.. atit.." ucapnya.. (cubit bun.. sakit..)
"di cubit ?? siapa yang berani mencubit kakak nak?" aku menyipitkan mata.
"ante bun.." aku sangat kaget. tante yang di maksud khaira pasti intan. tapi aku tak boleh gegabah. aku harus bersabar dulu, sebab aku tak punya bukti kalau dia lah pelakunya. bisa saja yang di maksud khaira tante yang lain. tapi firasatku mengatakan bahwa intan lah orangnya. aku mengepalkan tangan ku dengan kuat hingga bukunya memutih. 'kau akan merasakan juga sakitnya di cubit intan !!' amuk batin ku.
setelah khaira ku pakaikan baju yang baru aku pun memberinya minum obat. ketika ia mulai mengantuk dan merebHkan tubuhnya di atas brangkar. aku memutuskan menelfon Ahmad.
tuttttt...
tuutttt..
tuuuttttt...
telepon pun lansung tersambung.
"hallo rania.. ada apa ?" ucap ahmad dari seberang telepon.
"apa kamu pernah menitipkan khaira pada intan ?"
"sudah pasti pernah lah.." ucapnya enteng. mungkin ia benar-benar tidak tahu atau mungkin juga ia pura-pura tidak tau.
__ADS_1
"kapan terakhir kali kamu menitipkan khaira padanya ?"
"empat hari yang lalu sebelum khaira sakit aku menitipkan khaira padanya saat aku bekerja" aku menghirup nafas panjang sambil memejamkan mata. aku geram dengan kenyataan.
"ada apa ran ? kok kamu nanya hal itu ?" ia kembali menimpali.
"kamu nanti pulang jam berapa ? aku minta tolong kalau kamu bisa nanti datang lah kerumah sakit ibu dan anak permata bunda" ucap ku mencoba meredam emosi ku.
"apa sekarang khaira di rawat ?"
"iya.. dan satu lagi.. kalau nanti kamu datang, tolong bawa sekalian kalung khaira. aku lihat dia tidak memakainya." ucap ku dengan sopan. aku juga menginginkan ia datang melihat anaknya, aku tak akan membatasi dia untuk bertemu dengan anaknya.
"oh ituu a-annuu.." ia tak melanjutkan ucapannya.
"anu apa ahmad ?" tegas ku.
"i-itu loh.. hmm.. kalungnya di pinjam intan..katanya dalam waktu dekat akan dia ganti" aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikirannya. mengapa ia bisa memberikan kalung anaknya pada wanita yang baru ia kenal.
"hahhh ?? yang benar saja kamu ?, pokoknya aku tak mau tau. kamu harus membawa kalung itu secepatnya. kalau perlu bawa intan ke mari.." tegas ku dengan suara setengah berbisik. walau aku tengah kesal, aku tetap mengontrol suara ku. agar istirahat Khaira tidak terganggu. aku memutuskan sambungan telepon itu tanpa berbasa basi. "dasar laki-laki bodoh" rutuk ku.
sore harinya ahmad benar-benar datang menjenguk khaira. tak lupa wanita itupun juga ia ajak. dua mencoba bermanis mulut berbicara pada khaira. tapi khaira sepertinya menghindari tatapan mata wanita itu.
"mana kalung anak ku ?" tanya ku to the poin karena aku sangat muak dengan wajah sok lembutnya itu. ia terlihat terkejut dan lansung menatap ahamad. "mana kalung anak ku ?" tegas ku lagi.
__ADS_1
"nanti aku akan ganti.." ucapnya sambil menundukkan kepala.
"kau pinjam pada siapa ha ??, itu kalung milik ku. aku tak merasa meminjamkannya pada mu. dasar maling. mau hidup enak. bekerja keras lah. tak ada yang instan di dunia ini" cicit ku.