
setelah ibunya pulang suami ku datang menemui aku dan khaira di samping rumah. ia melenggang mendekat ke arah kami dengan senyuman di bibirnya. tapi aku sama sekali tak membalas senyum nya.
"jangan cemberut bun. nanti pelanggannya risih loh" ia mulai mencari celah untuk mengajak ku berbicara.
"bodo amat !!" aku menanggapi sekenanya saja.
"bun. jadi kan beli tanahnya ??" aku diam tak bergeming. saat ini aku malas melihat wajah suami ku. "kalau jadi mari kita jalan sekarang. nanti nggak enak kalau yang punya tanah nungguin kita. lebih baik kita yang nungguin dia" timpalnya lagi.
ia bisa memikirkan orang lain. tapi ke mana rasa empatinya saat ibunya memojokan ku tadi. entah lah.. sulit memang untuk mengerti tentang siapapun saat ini.
"aku bisa berangkat sendiri. toh di hidup ini aku sendirian kok" aku berlalu pergi dari hadapannya, ia pun mengejarku sampai di kamar tidur kami.
"tapi bun, ayah takut ibun kenapa- napa di jalan degan bawa uang begitu"
__ADS_1
"apa peduli mu hahhh ?? perasaan ku saja tak kau khawatirkan, jadi untuk apa kau sibuk memikirkan yang lain ??"
aku terus memantas kan diri di depan cermin. setelah ku rasa penampilan ku pantas aku mengambil khaira uang berdiri di samping tempat tidur dan menggendongnya berjalan melewati suami ku yang hingga kini masih mematung di ambang pintu.
"bunn..." ia mencoba menghentikan ku dengan memegang pundak ku. tapi dengan cepat aku menepis tangannya dan secepatnya berlalu pergi.
dengan taksi online yang sudah aku pesan aku pergi menemui seseorang yang memang sudah janjian untuk bertransaksi jual beli tanah. aku lebih baik memikirkan hidup ku dan khaira. aku tak ingin suatu waktu jika suami ku lebih memihak kepada ibu dan keluarganya. aku dan khaira terbuang tanpa memiliki sedikitpun aset untuk kami bida menatap masa depan.
selesai sudah transaksi jual beli tanahnya. alhamdulillah kini aku punya sebidang tanah yang layak untuk bangunan rumah masa depan ku kelak. letaknya juga sangat strategis. memang belum terlalu ramai, tapi dengan debut pembangunan infrastruktur di masa sekarang aku yakin 3 atau 4 tahun ke depan tempat itu akan jadi tempat padat penduduk.
ku rebahkan tubuh ku di atas ranjang. tak lama kemudian suami ku masuk dan duduk di sebelah ku.
"bun.. maaf atas kesalahan ayah tadi ya.. ayah nggak bermaksud membiarkan ibu memojokkan ibun. tapi ayah tak enak jika tiap jumpa dengan ibu kita slalu ribut. ayah hanya berusaha mengalah padanya" ia menjelaskan tentang sikapnya tadi. berarti ia lebih memilih aku yang tersakiti di sini.
__ADS_1
"oh ya ?? trus menurut mu aku yang salah gitu yang slalu nyari ribut dengan ibu mu ??" ku duduk mensejajarkan diri di sebelahnya.
"enggak bun. maksud ayah bukan begitu. kita ini anaknya, tak bisa kah kita mengalah terhadap ibu bun ??"
"kurang mengalah apa aku sama ibu mu ?? hingga saat ini pun gajimu di potong untuk cicilan bank buat renovasi rumah ibu mu. belum lagi jatah bulanannya. apa pernah aku protes dengan hanya mendapatkan sisa dari gajimu ?? apa pernah aku menuntut kam memberiku nafkah lebih ?? apa pernah aku berbuat tanpa seizin mu ??" akhirnya air mata yang seharian aku tahan luluh juga. aku tak bisa menahan sesak di dada ku.
"b-bun.." ia mencoba memelukku. tapi aku mendorong tubuhnya.
"pergi dari sini. tinggal lah dengan ibu mu. jika masa kontrak rumah ini habis aku dan khaira akan menghapus jejak kami dari hadapan mu, jangan khawatir.. aku tak akan mengganggu mu atau pun mengusik ibu mu!!" aku menyeka air mata ku.
"tidak bun, jangan bicara seperti itu. tolong lah maaf kan ayah bun. ayah nggak bisa jauh dari kalian. maaf kan ayah bun" ia memeluk kaki ku dengan keras. air matanya pun bercucuran.
gubrakkkkk....
__ADS_1
"wah wah wahhhhhh.. jangan bodoh kau ahmad!!"