
pov. ahmad
hari ini genap sudah enam bulan setelah nercerai dengan rania. ini juga hari pernikahan ku dengan intan. sebenarnya aku sudah mengenal intan sejak lama sebelum aku mengenal rania. ia dulu tinggal satu desa dengan nenek ku. aku sempat di jodohkan dengannya. aku pun sebenarnya menyetujui perjodohan itu. tapi entah mengapa, saat aku bertemu dengan rania. aku tak lagi tertarik untuk meneruskan perjodohan itu. setelah aku memutuskan untuk tinggal di kos-kosan ia tiba-tiba juga pindah dan menempati kamar kost yang bersebelahan dengan ku. mungkin ibuku yang memberitahukan padanya kalau kini aku sudah tak lagi bersama rania. tapi aku tak pernah bertanya, karena setiap aku menanyakan kenapa ia bisa tinggal bersebelahan dengan ku, ia selalu menjawab. "mungkin kita berjodoh bang" aku yang ingin menghapus bayangan rania kembali menerima kedekatan kami berdua.. walau tak sedalam rasa cinta ku pada rania. tapi kehadirannya cukup bisa membuatku kembali bersemangat.
"saya terima nikah dan kawinnya intan binti akmal dengan mas kawin tersebut di bayar tunaiiiiii.." ucap ku dengan satu helaan nafas.
"sahhhh..." seruan dari para saksi.
"Alhamdulillah.."
aku celingukan melihat tamu-tamu yang sudah ramai berlalu lalang di acara resepsi ku. mata ku mencari-cari seseorang yang dulu pernah mengisi hati ku. walau sudah enam bulan bercerai dengannya. tapi hati ku masing sering merasa rindu padanya. seketika mata ku menangkap wajah wanita yang teduh dan menenangkan hati.. senyum ku juga makin terkembang.
'aahhh rania.. andai saja kau tak menghianatiku, mungkin aku tak akan pernah melangsungkan pernikahan tanpa cinta ini' monolog ku pada diri sendiri.
ia datang dengan menggendong satu anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan ku, hanya warna kulitnya yang mengikuti warna kulit rania yang kuning langsat dan khaira tampak ia tuntun dengan satu tangannya lagi. tak lama di belakangnya muncul laki-laki di masa lalunya yang kini mungkin saja sudah menjadi suaminya. wajah ku berubah menjadi merah padam. ternyata dia benar-benar sudah berhubungan dengan mantan kekasihnya itu. bodohnya aku yang tadi sempat berfikir kalau anak laki-laki itu adalah anak ku. karena wajahnya sangat mirip dengan ku. mungkin benar adanya mitos yang selalu orang tetua dulu katakan. dalam keadaan hamil jika kita membenci seseorang secara berlebihan. anaknya tentu akan sangat mirip dengan orang yang ia benci. rania pasti sangat membenci ku yang meninggalkannya pada saat itu. hingga anak haramnya itu punya wajah yang mirip dengan ku.
__ADS_1
mereka memilih duduk di meja yang berada persis di depan pelaminan ku. aku rasanya terbakar ketika melihat kedekatan rania dengan laki-laki itu. pun dengan khaira, ia juga terlihat dekat dengan laki-laki itu. kini anak laki-laki yang tadi di gendong rania berpindah ke pangkuan gusti. tentu anak itu sangat dekat dengannya, karena ia adalah ayah dari anak itu. tamu yang silih berganti menyalami memberikan ucapan selamat pada ku hanya mampu mengalihkan pandanganku sebentar saja. aku malah sering mencuri pandang ke arah rania berada. hingga beberapa saat kemudian azra karyawati cafe rania dan dulu juga merupakan karyawati ku datang. terlihat ia memilih duduk di sebelah gusti. di sela senda gurau mereka, gusti tanpa sungkan mencium pipi azra.
'apa rania sebodoh itu ? ckkkk.. ternyata cintanya pada gusti membuat ia mau di duakan dengan karyawatinya sendiri.' sorak batin ku yang mentertawakan kebodohan rania.
kini tiba giliran rombongan rania yang bergerak makin mendekat ke arah pelaminan ku dan intan.
"selamat ya bang. semoga abang bisa mencurahkan segenap kasih sayang abang pada istri baru abang. dan percaya seratus persen padanya" ucap azra yang menyalami ku terlebih dahulu. setelah ya ia hanya menyalami intan sekedarnya saja.
"selamat bro.." kini gusti yang memberikan selamat pada ku. "davin.. sini biar om yang gendong. biar ibun mu bisa mengucapkan selamat pada ayah mu nak. azra sayang.. jangan turun dulu. kita minta foto dulu dengan kedua pengantin" ucap gusti yang mengambil alih menggendong anak laki-laki itu. aku melongo mendengar ucapan gusti yang terang-terangan memanggil azra dengan kata sayang.
pada sesi foto rania dan khaira berdiri di sebelah intan, gusti dan azra beserta anak laki-laki itu berada di sebelah ku. akhirnya mereka pergi meninggalkan acara resepsi pernikahan ku dan intan.
***
malam sudah menanjak naik akan mendekati dini hari, ku rasakan tubuh ku sangat lelah karena acara resepsi hari ini aku terlalu menguras tenaga ku.
__ADS_1
"bang.. aku mandi dulu ya.. abang jangan tidur dulu, kita laksanakan malam pertama kita dulu baru setelahnya kita tidur." ucap ibu intan tanpa malu menyinggung soal malam pertama. aku tak menjawab ucapannya, sepeninggal ia ke kamar mandi aku terlelap dan terbangun saat azan subuh berkumandang. aku gegas membersihkan diri dan secepatnya menunaikan shalat subuh. sudah jam tujuh pagi, tapi intan belum juga terbangun. aku yang sudah bersiap ingin pergi ke tempat usaha ku tetap mengayun kan langkah ku tanpa memperdulikan ia sudah bangun atau belum.
setelah sampai di tempat usaha, aku meletakkan bahan-bahan untuk usaha kulinerku yang tadi aku belanjakan sebelum sampai di sini. berbekal uang yang rania berikan aku membuka usaha sejenis dengan usaha yang di miliki rania. aku pernah turun lansung membantu rania membesarkan usahanya. jadi aku tau persis bumbu dan cara mengolah semua menu di cafenya itu. bukan bermaksud bersaing dengannya, aku tak punya pengalaman. untuk itu aku pergunakan pengetahuan yang aku peroleh dari rania demi memperbaiki perekonomian ku.
jam di dinding dapur pengolahan usaha ku menunjukkan pukul 10.00 pagi, semua keperluan untuk usaha hari ini sudah beres. aku belum mampu mempekerjakan banyak orang untuk membantu ku. saat ini hanya ada pemuda bernama ujang yang aku gaji dalam membantuku mengembangkan usahaku dan juga pengunjung lesehan ku belum lah terlalu ramai, jadi dengan berdua dengan ujang saja kami sudah mampu memberikan pelayanan terbaik pada pengunjung lesehan ku.
kring..
kring..
kring...
nada dering android ku bergetar, dengan cepat aku mengambil hape ku di dalam kantong celana ku.
"hallo bang.. kok nggak ada makanan sih di rumah ? jadi aku mau makan apa ? mana nggak pegang uang lagi!!" gelontor intan saat aku menggeser tombol hijau pada layar android ku.
__ADS_1
"nggak usah marah-marah. suruh siapa kamu bangun kesiangan ?" cetus ku.