
"ahmad.. sedang apa kamu di sini ?" aku mengucek mataku yang terasa berat.
"tentu aku ingin menjaga abang ku ran. kamu sepertinya sangat kelelahan. pulang lah. anak-anak pasti menunggu"
"baik lah. kalau begitu aku pergi dulu" aku mengambil tas ku yang tadi ku letakkan di samping sofa. setelah sampai di luar ruangan kobar aku memegangi dada ku yang sedari tadi berdetak tiga kali lebih kencang. rasanya aku tak kuat berlama-lama bertemu pandang dengan ahmad. tak ingin munafik. rasa cinta ku padanya tak sedikitpun terkikis walau kini ia telah menikah lagi. tapi aku juga tak ingin terlihat bodoh.
"mengapa berdiri di sini ran ?"
"eh.. aku.. anu.. itu, aku masih ngumpulin nyawa. karena tadi sempat tidur jadi rasanya masih sedikit malas ngapa-ngapain" alasan ku gelagapan karena ternyata tadi aku melamun di depan ruangan kobar. yang buat aku tak habis pikir, kenapa aku tak mendengar suara pintu di buka. "ya sudah.. aku pergi dulu"
"hati-hati ya ran.." ahmad melengkungkan senyum di bibirnya yang membuat aku semakin salah tingkah. dengan susah payah aku menyembunyikan rasa gugup ku di hadapannya. hanya menganggukkan kepala lalu aku pergi dari rumah sakit itu.
__ADS_1
***
pov. ahmad
setelah kepergian rania aku kembali masuk ke dalam ruangan rawat kobar. melihat perawatan yang di dapat oleh kobar, aku sedikit merasa malu pada rania. ia yang selalu mendapat hinaan di dalam keluarga ku, justru dia lah yang bisa memberi pertolongan pada kobar. terlebih juga kobar selalu menghina bahkan pernah merampas perhiasan milik rania. aku sempat ingin membantu pengobatan untuk kobar, tapi intan selalu melarangku. alasannya selalu berkelit. setiap ada keluarga ku yang meminta bantuan pada ku, ia selalu menolak dengan beribu alasan. berbeda dengan rania dulu. walau uang gajiku hanya sedikit yang ku berikan padanya, ia tak pernah protes. dan ketika keluarga ku membutuhkan sesuatu pun ia tak pernah menolak selama itu tak menganggu apapun yang ia rasa mutlak ia miliki sewaktu sebelum menikah dengan ku. kehidupan ku kini rasanya makin rumit. setiap hari mendengarkan ocehan intan yang mengeluhkan sikap ibuku yang selalu meminta uang. padahal ia tak pernah memberi ibuku uang. tapi ia selalu mengoceh tentang hal-hal yang seharusnya tak ia ributkan. apalagi ketika melihat rania, ia akan berubah menjadi perempuan gila yang suka menggerutu sendiri. ku akui memang rania jauh lebih cantik di bandingkan intan. tapi aku sudah menikahi intan, walau sebenarnya aku menyesal. tapi aku tak ingin mempermainkan ikatan pernikahan. setiap hati ku terbawa suasana saat memandang rania, aku selalu menepisnya dan berusaha untuk tetap mempertahankan pernikahan ku.
"kau sudah bangun bang ? apa kau mau minum"
"rania aku suruh pulang bang, biar aku yang menjaga abang di sini"
"hmmmm.. apa intan tidak marah kalau kau di sini ahmad ?"
__ADS_1
"dia istri ku bang, dia harus mendengarkan apa yang aku katakan. bukan aku yang akan mendengarkan apa yang dia katakan."
"aku hanya tak ingin rumah tangga kalian bermasalah karena aku. apalagi rania, dia wanita yang sangat baik. jangan sampai intan mengusik hidupnya" untuk sesaat aku tertegun mendengar ucapan bang kobar. ia kini begitu memikirkan kebaikan untuk rania.
"apa kau tak ingin kembali pada rania ? dia wanita baik ahmad. aku tidak yakin kalau dia dulu menghianatimu"
"itu tidak mungkin bang. walau aku ingin, tapi keadaan ku yang sudah berumah tangga lagi membuat jarak di antara kami begitu jauh."
"aku selalu berdoa agar kalian kembali bersama. kasian rania harus membesarkan anak kalian sendirian. jika memang benar ia dulu menghianati mu dengan cinta masalalunya. tidak mungkin laki-laki itu menikahi karyawati rania. berfikir jernih lah. hati-hati juga terhadap ibu kita dan istri mu"
ada benarnya juga perkataan bang kobar. tapi apalah dayaku, kesalahan ku yang terlalu cepat mengambil keputusan sehingga aku dan rania kini menjadi sebuah kenangan belaka.
__ADS_1