
enam bulan sudah berlalu dari saat itu. kini perut ku sudah membuncit dikarenakan kehamilan ku sudah berusia kurang kebih tujuh bulan. walau terkadang rasa ingin di manja muncul begitu saja dalam fikiran ku, tapi aku tetap menepisnya. aku harus kuat, tak bileh memelas momohon agar ahmad tetap menjadi suami ku. tentu rasa rinduku pada khaira tak pernah terbendung. hampir setiap hari aku mengikuti dan memperhatikannya dari kejauhan. hingga aku tau bahwa ahmad dan khaira tak lagi tinggal bersama wanita iblis itu. yang ku dengar dari cerita para tetangga mereka, anakku dan khaira di usir dari rumah itu sebab kasi dan kobar pun sudah tinggal di rumah itu. jelas darah ku sangat mendidih saat mendengar hal itu. tega sekali ia memantikkan api dalam rumah tanggaku hingga hubungan ku dengan anaknya terbakar hangus dan setelahnya ia dengan mudah membuang anak dan cucunya. ku rasa dia bukan lah manusia. ahmad masih bekerja di dormeer itu, entah berapa gaji yang ia dapatkan. tapi sepertinya cuma bisa mencukupi biaya susu, makan dan biaya kos-kosan tempat mereka tinggal sekarang. terlihat juga khaira tak pernah memakai baju terbaru, yang ia kenakkan masih pakaian yang dulu aku belikan ketika rumah tanggaku masih baik-baik saja.
hari ini aku memutuskan untuk berbelanja kebutuhan khaira, aku ingin ia hidup layak karena aku adalah ibunya. aku juga rindu ingin memeluk dan menciumnya.
"waahhhh.. dah besar aja tuh perut, lega banget bisa bebas dari anakku!" terdengar suara yang sangat familiar di telingaku ketika aku sedang asik memilih pakaian yang akan aku belikan untuk khaira.
"ya seperti yang kau lihat.." jawab ku ketus karena aku sangat jijik melihat mak lampir ini.
"hah.. anak hasil bubungan di luar nikah aja kok bangga !!" dia mulai mengejek dan menghinaku.
"hahh.. jangan mengurusi hidup orang lain. urus saja cucu-cucu tersayang mu." tak lagi memanggilnya dengan sebutan ibu, karena ia memang tak pantas di panggil dengan nama yang sangat terhormat itu.
aku lansung menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran semua belanjaanku.
gegas aku memacu mobil ku menuju kos-kosan ahmad. sesampainya di sana aku lansung keluar sambil menenteng semua kebutuhan khaira yang sudah ku beli tadi.
tok tok tok..
aku mengetuk pintu kamar kostnya.
krek..
pintu terbuka dan ahmad adalah orang yang terpampang di depan pintu. ia memindaiku dari ujung kaki hingga ujung kepala ku. tak ada satu patah kata oun yang keluar dari mulutnya. tak lama khaira juga muncul di ambang pintu. aku lansung berlutut sambil membawa khaira kedalam dekapan ku dan menciuminya bertubi, tanpa terasa air mata ku luruh.
__ADS_1
"nak.. ibun sangat rindu padamu.."
"akak juga.." ucap khaira sambil mengangguk kan kepala. aku terus mendekap tubuh khaira. karena selama berpisah. baru kali ini aku bisa melihatnya dan memeluknya sedekat ini. katena sebelum-sebelumnya aku tak pernah di beri izin oleh ahmad untuk mendekati khaira.
"sudah cukup.. jangan kau dekati anak ku" ucap ahmad sambil menarik tubuh khaira keluar dari dekapan ku.
"dia juga anak ku. aku yang mengandung dan melahirkannya."
"dia cukup sempurna untuk punya ibu seperti mu. kau tak pantas di sebut ibunya. karena perbuatan mu sama seperti pela**r."
"terserahlah kau mau bilang aku seperti apa. yang jelas talak mu tidak berlaku. sebab aku dalam kondisi hamil"
"ckkkk.. itu hanya alasan mu. itu pasti anak mantan kekasih mu. setelah hamil kau bilang kalau itu anak ku !"
"memang kenyataannya begitu. aku hamil lima minggu saat kau menalak ku."
"aku tak meminta agar kau percaya padaku. itu hak mu mau bersikap seperti apa. yang jelas khaira adalah anak ku. kau tak bisa melarangku untuk berbagi kasih sayang dengannya." ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. yang jelas itu bukan tatapan menginginkan ku. melain kan tatapan jijik terhadapku. "ini aku bawa semua perlengkapan khaira, gunakanlah. karena khaira berhak hidup layak sesuai dengan kemampuan ku" aku mencium pipi khaira yang kini dalam gendongan ahmad. lalu berlalu pergi dari sana. aku juga sudah memasukkan satu kartu anjungan tunai di dalam salah satu paper bag yang ku bawa tadi. saldonya sudah ku isi cukup untuk kebutuhan khaira selama satu bulan kedepan. nantinya aku akan transfer uang ke kartu itu untuk kebutuhan khaira.
beberapa saat kemudian aku sudah sampai di rumah. ada sedikit kelegaan di hati ku, di saat suasana sulit seperti ini usaha ku tetap berjalan dengan baik. enam orang karyawati ku ternyata adalah orang-orang yang dapat aku andalkan dalam memajukan usaha ku. terutama azra, dia sudah ku anggap adik ku. sikap santun dan kejujurannya membuat ku yakin untuk memberi kepercayaan keuangan cafe ku.
"kakak dari mana ?" ucap ina saat berpapasan dengan ku di lorong cafe.
"tadi lagi mengurus semua kebutuhan khaira in. gi mana kerjaannya. ada kendala mggak di cafe kita ?"
__ADS_1
"Alhamdulillah pekerjaan ada dan ada terus kak. pemgunjung kita juga semakin meningkat. tapi...." tiba-tiba ina menjeda ucapannya.
"tapi apa in ?"
"i-itu kak, tadi ada laki-laki yang namanya gusti nyariin kakak." mata ku membola saat mendengar nama laki-laki itu.
"in.. lain kali kalau laki-laki itu datang lagi jamgan pernah di tanggapi ya. apalagi sampai menceritakan keadaan kita padanya. jangan ya in.. dia sangat berbahaya !"
"baik kak.. saya lanjutkan pekerjaan saya dulu ya kak." ina pun berlalu dari hadapan ku dan aku lansung saja menuju meja kasir cafe. 'untuk apalagi dia mencariku ?' gelisah batin ku.
ting..
nitifikasi di telepon pintar ku berdenting. secepatnya ku rogoh kantong baju hamil ku dan ku lihat ada pesan di aplikasi hijau dengan pengirim nomor yang tidak ku kenali.
[ran.. apa benar kamu sampai di talak ?] merasa tak berkepentingan dengan pemilik nomor itu aku lansung mengabaikannya.
selang beberapa menit karena tak mendapat balasan dari ku, nomor itu bolak balik menelfon ku. karena risih dengan panggilan telepon itu akhirnya aku menggeser tombol hijau pada layar benda pipih itu.
"siapapun kamu aku mohon tolong jangan ganggu hidup ku!!" cerca ku saat telepon itu tersambung.
"rania.. ini aku gusti.. aku tak punya niat buruk pada mu. aku hanya ingin tau. apa benar kau di talak oleh ahmad ?"
"apa urusan mu ? dan dari mana kau mendapatkan nomor telepon ku ?"
__ADS_1
"tentu itu urusan ku ran. jika kau menderita karena ahmad, aku akan membahagiakan mu dan rela mengakui anak yang tengah kamu kandung"
"hahhh ??"