
pov. kasi
hari ini seperti biasa aku hanya bermalas-malasan di kamar. setelah aku menyiapkan keperluan nisa untuk berangkat ke sekolah, aku kembali ke kamar. tak peduli dengan banyaknya rutinitas. karena ada ibu mertua ku yang akan melakukan semua pekerjaan. mulai dari mengantar jemput anak-anak ku sekolah, memasak, mencuci dan semua pekerjaan rumah ibu mertua ku lah yang mengerjakan, bahkan anak ku yang masih bayi pun ketika semua pekerjaan rumah sudah selesai juga ku berikan padanya. aku hanya duduk manis dan bersantai. selama tinggal di rumah ini aku tak pernah di bebani pekerjaan rumah. jika aku tau dia akan sepatuh ini pada ku, sudah pasti sejak dulu aku meminta suami ku agar kami tunggal di sini. pantas saja mayana badannya bisa seperti gentong begitu, orang dia hanya makan dan tidur.
tok.. tok tok...
"kak kasi.. kak kasi..." suara memekakkan milik mayana memanggilku dari luar pintu kamarku. dengan sangat malas aku menghentikan aktifitas ku yang tengah mengecat kuku dan bangkit untuk membukkan pintu untuknya.
"ada apa may ? apa raziq rewel ?" tanya ku ketika pintu sudah ku buka. raziq adalah nayi laki-laki ku yang dari tadi pagi ku titipkan padanya.
"enggak kak, raziq lagi tidur di kamar ku"
"lalu apa ?" aku sedikit membentaknya. sebab aku kesal tanpa alasan dia menganggu ku.
"mmm itu kak.. di depan ada polisi nyariin kakak.."
"hahhh ?" aku tercengang mendengar ucapan mayana.
"katakan pada mereka kalau aku tidak ada may !"
"tapi kak.. aku tadi sudah terlanjur bilang kalau kakak ada di rumah.." aku membolakan mata karena merasa kesal dengan kebodohan mayana. entah mengapa, anak ini sangat di atas rata-rata kedunguannya. rasanya aku ingin meremas wajahnya saat ini.
"dengan saudari kasi ?" aku semakin kaget, sebab petugas kepolisian yang tadi masih di depan sudah berada di depan kamar ku.
"eh.. iya pak.. ada apa mencari saya ?" ucap ku setengah gugup.
"kami membawa surat penangkapan untuk anda. mohon kerja samanya ikut dengan kami" petugas kepolisian itu menyodorkan amplop kepada ku. aku segera menyambar amplop itu dan membaca lembaran yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"tidak.. aku tidak melakukannya. ini adalah fitnah" sergah ku setelah membaca isi surat itu. namun tidak hingga selesai.
"anda bisa jelaskan nanti di kantor kami" tangan ku lansung di borgol oleh polisi wanita dan polisi wanita itu mendorong tubuhku agar beranjak keluar dan ikut bersama mereka. di perjalanan keluar dari rumah ini kami berpapasan dengan ibu mertua ku.
"ini gara-gara ide gila mu. kau juga harus ikut dengan ku brengsek!!" maki ku di depan wajahnya. namun polisi wanita itu lansung menghalangi pergerakan ku dan dengan kasar mendorong tubuh ku untuk cepat pergi. sudah seperti pelaku kriminal besar saja aku di perlakukan begini.
kini aku meringkuk di ruang tahanan hanya beralaskan tikar. aku duduk sambil memeluk lututku. ku benam kan wajah ku di sana. tangis ku juga tak mereda. aku kesal.. aku marah..
"aaaaarrrrrggggghhh !!!" teriak ku tak terima dengan perlakuan rania ini.
"woiiiii berisik !!" teriak salah satu tahanan satu sel dengan ku. "kau kira ini rumah sakit jiwa yang bisa dengan bebas kau teriak-teriak kesetanan seperti itu ?" ia kembali menimpali, namun kali ini ia mengejek ku.
"diam kau.. kau yang seharusnya menjadi penghuni rumah sakit jiwa !!" maki ku balik padanya.
"hohoooo.. anak baru sudah berani menantang ku rupanya ?" mereka lansung berdiri dan mengeroyok ku.
bughhh..
bugghhhh..
"akkkkhhhh" teriak ku karena menerima pukulan bertubi dan juga rambut ku di jambak oleh mereka. aku berusaha melawan dan menangkis serangan mereka. namun aku tetap kalah. sebab tenaga ku sudah pasti tak seimbang melawan empat orang ini. hingga petugas yang menjaga waktu itu datang melerai perkelahian kami.
"ayo ikut.. ada yang ingin menemuimu" ucap petugas itu setelah melerai tindak anarkis empat wanita gila itu.
dengan keadaan berantakan aku mengikuti petugas itu.
"mau apa kau ke sini ? kau ingin mengejek ku,?" ucap ku tak suka pada yang datang menemui ku.
__ADS_1
"tentu.. aku puas melihat keadaan mu yang berantakan seperti ini. apa kau sudah merasakan hebatnya hotel frodeo ini ? hahahhhh.." ia tertawa puas karena merasa di atas angin dan menikmati kehancuran ku.
"dasar bajingan.. kau akan menerima ganjarannya. kau lihat saja. kau akan mati mengenaskan !!"
"woowww . aku sangat takut !! hahahhh.." ia berdiri dan beranjak meninggalkan ku. rasanya aku sangat geram mendengar ledekannya. aku mengepalkan tangan dengan kuat hingga bukunya memutih. belum sempat aku untuk mengejarnya petuga polisi sudah mencegah ku dan mengembalikan ku ke sel tahanan.
sudah tiga hari aku di sini. tapi tidak satupun dari mereka uang datang mengunjungiku. ibu mertuaku, suami bahkan mayana tak menampakkan batang hidungnya. yang membuat ku tak habis pikir mengapa ibu mertua ku masih melenggang bebas. padahal aku sudah memberikan keterangan yang sebenarnya yang menyeret ibu mertua ku dalam kasus itu.
"kasi.. ada yang ingin menemuimu" ucap salah satu sipir padaku. suaranya juga membuyarkan lamunan ku. aku gegas mengikuti sipir itu.
"bibi.." lirih ku lansung menghambur kedalam pelukan wanita yang kini menjengukku.
"kau terlalu bodoh kasi.." ucap bibi ku sambil mengelus puncak kepalaku penuh kasih.
"ini ide gila ibu mertua ku bi,"
"ya.. karena kebodohan mu. kau sampai menurutinya. seharusnya kau menolak melakukannya nak"
"iya bi, tapi aku juga sangat membenci rania. hingga aku menyetujui ide gila ibu" aku mulai meneteskan air mata. "bi.. bisakah bibi membantuku melenyapkan rania dengan ilmu magis yang bibi miliki ?" ucap ku berbisik.
"bisa saja nak...tapi bibi akan musahakan agar kamu bebas dulu."
"lenyapkan dia dulu bi.. aku tak akan bisa tenang kalau rania itu masih hidup apalagi bergelimang harta."
"tenangkan diri mu. tunggu saja kabar dari bibi. kau pasti akan jadi pemenang. selama bibi masih ada, bibi akan selalu memenuhi permintaan mu"
"waktunya sudah habis !" sela sipir itu aku dan bibi pun berpisah.
__ADS_1
kini aku sudah ada di sel tahanan kembali. tak membiarkan ku tenang. para wanita pelaku kejahatan itu terus saja meminta ku untuk memijit mereka.
'kau harus mati rania.' rutuk batin ku. aku pastikan kalau bibi ku tak akan meleset. sebab dia sangat terkenal dalam dunia perdukunan. terbukti ibu mertua dan suami ku bertekuk lutut setelah aku memberi mereka air dan makanan yang sudah di mantrai oleh bibi ku. ia juga sering berhasil melakukan tugas yang di berikan orang-orang yang datang meminta bantuannya. jangankan untuk membunuh tanpa jejak, menjadikan seseorang duduk di kursi pemerintahan pun ia bisa lakukan. aku hanya menunggu kabar baiknya.