Prasangka Buruk Ibu Mertuaku

Prasangka Buruk Ibu Mertuaku
pohon duit


__ADS_3

panggilan telepon dari kobar itu akhirnya di angkat oleh suami ku.


"hallo.." suami ku membuka pembicaraan.


"hallo.. ahmad tolong aku.. aku tak tau lagi mau minta tolong pada siapa. kamu satu- satunya adik ku yang bisa ku andalkan." terdengar suara kobar berujar dari seberang telepon. karena suamiku sengaja mengaktifkan louspkear hapenya, mungkin ia ingin agar aku juga mendengar kan pembicaraan mereka.


"apa yang bisa aku lakukan untuk mu bang ??" suami ku terlihat sangat tak tertarik dengan lawan bicaranya itu.


"ahmad.. aku di usir oleh kasi dan ibunya dari rumah.. mereka murka pada ku, sebab aku tak bisa membelikan mereka mobil. tolong lah ahmad, pinjamkan aku uang. agar aku bisa memberikan mobil pada mereka..!!"


duh... kok aku merasa mereka semakin aneh saja tingkahnya.

__ADS_1


"bang.. maaf aku tak bisa bantu.. aku sekarang pengangguran. hidup ku pun bergantung pada penghasilan rania. jangan kan untuk beli mobil, untuk beli rokok pun aku tak punya uang." suami ku berusaha untuk menolak keinginan abangnya yang sudah sinting itu.


"salah mu sendiri. sudah tau zaman sekarang susah cari kerja, tapi kamu malah memilih berhenti bekerja.. nggak bersyukur kamu !!"


aku lansung menarik ujung bibir ku untuk tersenyum. rasanya ucapan kobar itu sangat menggelitik di pendengaran ku.


"aku sangat tau bagai mana caranya bersyukur bang. harusnya kata- kata itu di tujukan untuk kalian. jika kalian bersyukur atas hidup yang kalian jalani, nggak mungkin kalian terlalu memaksa ingin punya sesuatu yang sebenarnya kalian tak mampu" tanpa mendengar kan ucapan kobar lagi, suamiku mengakhiri sambungan telepon itu. setelahnya ia tampak membuang nafas dengan kasar.


"bun..." suami ku mulai memecah keheningan.


"ayah malu melihat keluarga ayah yang seperti tak mendapatkan didikan agama dan tak bermoral" ia menatapku sendu.

__ADS_1


"hmmmm.. sudah lah sayang. jika kita membahas mereka maka tak akan pernah ada habisnya. lebih baik sekarang kita fokus untuk menata masa depan kita.. ada khaira buah cinta kita. kita harus tetap bersama untuk saling membagi kasih sayang untuknya." aku tersenyum guna menguatkan suamiku.


"tapi..." ia tak melanjutkan ucapannya. ia sepertinya di landa keraguan dan mulai merasa lelah.


"sudah lah.. yuk kita harus mengurusi usaha kita. insya allah dalam waktu dekat kita akan membuka cabang usaha." dengan senyum mengembang aku manarik jari tangan suamiku agar ia mengikuti ku.


kami kini fokus pada usaha kami.. sepertinya suami ku juga sudah mulai bersemangat. aku lega melihat dia sudah tak terpengaruh atas ucapan ibu dan abangnya. geram sih jika di pikirin tentang tingkah keluarganya itu. tapi apa boleh buat, aku mencintai pria yang lahir dari keluarga itu. nahas memang nasib ku, mengejar cinta yang hasilnya mempersulit hidup ku sendiri dan juga menjadi parasit dalam hubungan rumah tangga ku.


buggghhh...


"awwww.." aku memekik memegangi tengkuk ku yang tiba-tiba seperti di hantam benda tumpul. pandangan ku juga menjadi gelap dan..... hilang lah kesadaran ku..

__ADS_1


__ADS_2