PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
AKU MENCINTAINYA


__ADS_3

Keesokan harinya. Gadis itu berpapasan dengan bosnya saat menuju lift. Dia tersenyum dan memberi salam. Namun, sang bos tak menggubrisnya. Dia cuek, bersikap dingin dan melewatinya begitu saja. Dia seolah amnesia dengan peristiwa kemarin malam. Walau gadis itu sedikit terkejut, dia tak mempermasahkannya.


Disaat sedang sibuk ponsel Nayra berbunyi. Sebuah chat masuk. Alex  diam diam mencuri pandang.  Wajah gadis itu berubah saat membaca chat tadi, dan segera memisahkan diri. Dia keembali ke meja kerjanya. Mengambil tas dan pergi tanpa pamit.Beberapa jam kemudian, Nayra kembali dengan wajah lemas, pucat dan menahan tangis yang mau meledak.


Rasti menghampiri, Nayra langsung memeluk tubuhnya. Sesegukan menangis. Alex  keluar ruangan, terpaku melihat gadis itu  menangis. Ada apa lagi? Kenapa dia menangis seperti itu? Alex mengeraskan rahangnya. Marah dan  emosi saat melihat gadis itu menangis.


"Huhuhu. Gi-o ninggalin gue. Dia pergi keluar negeri bersama Mona.  Mereka ingin memulai hidup baru. Huhuhu."  Tangisnya sek-sekan dengan nafas tersengal.


"Jadi semuanya terbukti. Perselingkuhannya? Dan lo? Lo baru cerita sama gue. Lo anggap gue apa, Nay? Hah. Mona benar-benar GILA! Dia itu teman elo dari kecil dan tega nusuk elo dari belakang!" Rasti sudah seperti seeokor naga, mulutnya berapi-api mengeluarkan amarah. Mendengar umpatan Rasti tangisnya, malah semakin menjadi.


"Trus? Lo diam saja? Lo nggak labrak dia?  Lo terlalu lemah, Nay. Bisa-bisanya lo nerima penghianatan ini. Kalau gue jadi lo, Gio  itu tunangan gue, gue pasti labrak Mona habis-habisan. Aarggh, gue bisa Gila!! Dasar cewek sampah. Pelakor! Perusak  hubungan orang. Kalau itu terjadi sama gue. Robby menghianati gue, gue pastiin, Robby mati di tangan gue, Nay. Seenaknya dia mainin lo, lo itu bukan patung, lo MANUSIA, lo punya hati."  Nayra terus menangis tanpa henti saat mendengar perkataan lanjutan darinya.


"Gue cinta dia, Ras! Gue akan tutup semua pendengaran dan mata gue. Gue nggak mau dengar cerita apapun yang menjelekkan dia. Gue cinta, dan benar-benar jatuh cinta sama dia. Bahkan,  sekali pun gue tahu dia selingkuh, gue benar-benar RELA di-dua-in. Asalkan dia tetap jadi bagian hidup gue. Guee akan maafin semua kesalahannya, asalkan dia nggak ninggalin gue kayak gini ... gue sayang banget sama dia, Ras. Huhuhu," tangisnya semakin menjadi di pelukan Nida.


"Elo boleh cinta Nay, tapi please buka mata lo. Bukan  jadi buta dan jadi keledai bodoh seperti ini, Nay." Rasti bersuara lirih sambil mengusap rambutnya, menenangkan Nayra.


***

__ADS_1


Beberapa bulan berlalu. Rasti cukup senang bisa melihat perubahan Nayra. Dia, memang tidak seceria dulu. Walau kesendirian, kesedihan, air mata, belum seluruhnya lenyap. Rasti  memergoki beberapa kali bosnya sering menatap


temannya itu, dan gadis itu belum menyadarinya.


"NAYRA, AWASS!"  teriak Alex.  Dia berlari kearah gadis itu ketika dia melihat ada barang yang akan menimpa tubuhnya. Mereka terjatuh. Nyara shock, tatapan mata Alex membuatnya tersadar.


"Kamu, nggak apa-apa, Nay? Ada yang terluka?" dengan sigap Alex segera memeriksa kondisi tubuh gadis itu.


"En-nggak, apa-apa Pak. Terima kasih." Ucapnya kikuk setengah mati.


"Nay, lo nggak apa-apa?"  ucap Rasti yang memang dari tadi bersamanya. Alex segera bangkit ketika menyadari posisi tubuhnya berada di atas tubuh gadis itu.


"Tidak apa-apa. Kalian lanjutkan pekerjaannya," Alex pun canggung, salah tingkah sendiri dan segera kembali


ke ruang kerjanya.


"Lib, lo lihat kan?"

__ADS_1


"Lihat? Apa?"


"Hiihh, maksud gue, lo lihat kan cara bos lo menatap barusan? Tatapannya beda banget. Mungkin saja dia, Fall in love with you."


"Apaan sih, Ras. Kalau ngomong jangan ngaco, nggak mungkinlah!"


"Ish, lo nggak tahu saja, belakangan ini gue sering banget mergokin dia mandangin lo. Kadang dikesibukannya, dia


curi-curi pandang gitu. I think he's good, handsome and more than anything ... dia jauh lebih baik dari Gio!" Nayra langsung menatap Rasti yang tidak sengaja menyebutkan nama mantan tunangannya.


"Oupps. Sorry, gue nggak bermaksud."


"Gue tahu kok, nggak apa-apa lagi. Malah gue berterima kasih sama lo. Selama ini lo tuh sudah care banget sama gue, gue nggak tahu ... kalau nggak ada lo, gue pasti bertindak bodoh yang bakal gue sesali."


"Ssst, ah ... apa sih, Nay. Itu gunanya sahabat," ujar Rasti. Dan pandangan mata gadis itu teralih, saat melihat bosnya terburu-buru keluar dari ruangan. Memegangi tangan yang di tindih oleh tubuhnya. Dia pamit pulang.


 Sepanjang sisa hari kerja, gadis itu kepikiran terus dengan bosnya. Dia merasa bersalah.

__ADS_1


Tangannya kenapa ya? Wah, jangan jangan tangannya? pikiran Nayra kalut. Dia menjadi tak enak hati.


__ADS_2