PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
SOK SIBUK


__ADS_3

Beberapa event berlalu dan berjalan dengan sangat sukses. Yang berbeda, sejak peristiwa kue ulang tahun. Alex, seolah menjaga jarak dengan Nayra. Dia,  menjadi lebih dingin dan ketus dari sebelumnya. Nayra merasakan itu. Bahkan ketika Nayra hanya bersebelahan dengannya, Alex langsung menghindarinya. Nayra merasa kehilangan sosok baik bosnya itu.


Hari ini Nayra lembur mengejarkan draf desain date line tambahan dari mbak Wenny. Kebetulan Alex pun masih sibuk diruangannya mengerjakan sesuatu.


Nayra selesai dengan tugasnya lebih dulu. Setelah menyimpan data dan mematikan komputernya, dia mengetuk ruangan Alex dan masuk. Nayra  melihatnya masih berkutat dengan berkas dan laptop.


"Saya pamit duluan ya, Pak ...," Alex tak bergrming. Dia diam,tidak menggubris ucapannya.


Issh ... sok sibuk, jawab kek. Orang pamitan malah dicuekin. Gerutunya kesal. Sambil mengerutu, suasana berubah menjadi gelap gulita. Mati lampu. Nayra mengoceh tidak memperhatikan jalan, tersandung hingga dahinya terantuk meja dan dia berteriak dengan keras.


"AAKKHH, SAKITTT!!" Alex kaget mendengar teriakannya segera membuka lacinya. Mengambil senter dan berlari kearahnya.


"Nay, Nayra!" teriak Alex panik malah tersandung tubuhnya, hingga terjatuh dan Alex menindih tubuhnya tanpa sengaja. Senter yang menyala tepat jatuh di antara mereka. Sesaat, mereka berdua saling bertatapan dan hanyut dalam suasana romantis. Sepersekian detik, baru saja Alex memajukan wajahnya menghampiri bibir Nayra, lampu menyala.


"Ka, ka-mu tidak apa-apa, Nay?"  Alex kikuk.  Wajah Nayra memerah, malu. Alex segera bangun dari tubuhnya dan  membantu berdiri.


"Ti-tidak apa-apa, Pak!" Nayra tidak kalah gugup. "Kalau begitu saya pamit, Pak." Nayra salah tingkah dan segera berbalik badan. Namun, tangan Alex menariknya, masuk kembali ke ruangan.


"Tunggu di sini!" perintahnya mendudukkan Nayra di sofa. Dia, keluar ruangan dan kembali membawa kotak obat. Alex duduk disebelahnya, mengoleskan salep didahinya yang benjut. Lalu dua plester menghiasi dahinya. Mata Nayra terus meliriknya, yang terlihat khawatir saat mengobatinya.


Ya ampun ... wajahnya itu kok tiba-tiba menjadi tampan seperti ini sih. Haduh, Nay, kau jangan gila deh!


"Terima kasih, Pak!" Nayra menatapnya yang dibalas lebih tajam oleh Alex. Nayra tertunduk malu, menghindari tatapannya, "Sa-saya pulang dulu, Pak." kembali Nayra berkata dan beranjak dari duduknya.


Alex mengikutinya, saat gadis itu akan membuka pintu. Pintu didorong tertutup olehnya dan membalikkan tubuh gadis itu. Menatap lagi dan sepersekian detik Alex sudah mencium bibirnya dengan lembut. Nayra  syock atas ciumannya, "Ba-bapak, an-da ...," Nayra yang masih tidak percaya. Alex tersenyum.


"Ingat, aku sudah menyegelmu. Jadi, jangan coba-coba lari lagi dariku," sekali lagi Alex menutup mulut Nayra yang terbuka dengan bibirnya.


Setelah itu, Nayra seperti boneka. Hanya menuruti perintah Alex ketika laki-laki itu bilang, "Tunggu!"

__ADS_1


Alex menyelesaikan pekerjaan lalu mengantarkan Nayra pulang. Kali ini, dia  mengantarnya hingga didepan pintu kamar gadis itu, dan sebelum pulang Alex masih mencium keningnya. Membuat gadis itu mabuk kepayang, duduk lemas di sofa setelah kepegian Alex.


*Aku gila, dia benar-benar menciumku. Dan bodohnya aku malah menikmati ciumannya. Nayra, Nayra, dasar kau ini otak keledai. *


***


Nayra bertemu alex keesokan paginya saat akan masuk lift. Nayra tersenyum dan memberi salam. Namun, balasan tak terduga dia terima. Alex hanya diam, dingin dan ketus kembali, seperti Alex tidak menganggap kejadian semalam istimewa.


"Akh ... dasar cowok resek!! Bikin bete, bikin mood jelek, sebal, sebal!" gerutu Nayra saat sampai dimeja kerjanya dan terdengar oleh Rasti.


"Kenapa sih, Nay? Pagi-pagi sudah marah, muka kecut, ditekuk kayak kukusan butut," ledek Rasti setengah penasaran dengan gerutuannya..


"Itu, uhm ... ada cowok resek, bikin bete!" tanpa sadar Nayra terus menggerutu, hingga seorang temannya yang lain menghampirinya.


"Nay, ini ada kiriman buat lo," memberikan Nayra seikat bunga mawar merah.


"Waaahhh ... romantisnyaaa!" Rasti  bersemangat melihat kiriman romantis buat temannya itu.


"Coba lo cek saja sendiri, kayaknya ada kartu didalamnya," sahut teman Nayra lalu pergi.


"Dari siapa, Nay? Coba gue lihat," Rasti penasaran. Nayra  mengambil kartu tadi dan melihat isi tulisan didalamnya, dan ... mata Nayra berubah berbinar.


"Siapa sih, Nay?" Rasti tidak sabaran yang melihat ekspresi wajah kecut Nayra berubah bahagia.


Rasti membaca isi tulisannya, "I Love You, Alex!"


"Mmmm, pantes! Muka lo langsung berubah! Gimana? Memang dia sudah nembak elo? Dia bilang gimana waktu nyatain perasaannya, sampai tuuhh muka kecut lo ... o, o, gue paham. Jangan bilang muka kecut lo tadi tuh gegara dia," Rasti menebak. Nayra tersipu, wajahnya memerah seperti tomat.


"Huh, syukurlah! Akhirnya ... gue ikut senang melihat elo seperti ini," ucap Rasti.

__ADS_1


"Thanks ya, Ras," balas Rasti memeluk sahabatnya.


"No problem!! Inilah gunanya teman, Nay!" sahut Rasti.


"Ya sudah gue balik ke meja," Nayra mengangguk. Hatinya masih penuh dengan bunga.  Hanya bisa tersenyum sendiri sambil menciumi bunga pemberian Alex.


Nayra mengerti, Alex bukan bersikap ketus dan dingin terhadapnya. Melainkan dia bersikap profesional di tempat bekerja. Dia, tidak mencampurkan urusan pekerjaan dan pribadi. Dan kini setiap pagi, di meja kerja Nayra pasti ada seikat bunga mawar merah yang menanti kedatangannya.


***


Alex menjemput dan meminta Nayra membawa pakaian. Berjaga kalau mereka tidak pulang. Dia, mengajaknya berakhir pekan di pantai.


Alex mengajaknya bermain dengan puas. Berlarian kecil di pantai, berfoto bersama, berkejaran dan membangun istana dari pasir. Setelah lelah dengan aktivitas, mereka membaringkan tubuhnya disamping istana pasir tersebut.


Laki-laki itu terus menatap gadis itu penuh cinta. Dia, tidak melihat lagi gumplan wajah kesedihannya beberapa bulan lalu. Wajah-wajah itu seakan hilang terbawa hembusan angin.


Alex bangun, lalu duduk diikuti dengan Nayra yang ikut duduk disampingnya. Mata mereka menatap lepas pantai, melihat deburan ombak yang bergemuruh dan bergulung.


"Kamu bahagia?" Nayra menatap dan mengangguk.


Alex mengeluarkan kotak beludru kecil. Dia, membuka kotak tadi yang didalamnya ada dua kalung bertuliskan inisial "A" dan "N".


Alex mengambil kalung yang bertuliskan inisial "A" dan memakaikannya dileher gadis itu, "A ini untukku. Itu berarti kau adalah milikku. Nay, aku tahu ini terlalu cepat. Namun, aku hanya ingin terus berada di sisimu. Aku ingin mengisi setiap lembaran hari-harimu. Aku mencintaimu Nayra! " Alex berbicara memegang kedua tangan gadis itu lalu mengecup keningnya.


" Aku tahu hatimu belum sepenuhnya untukku.  Aku tidak akan memaksa. Aku akan terus menunggu-mu sampai kau benar-benar jatuh cinta padaku," lanjutnya, sambil menatap matanya penuh dengan pengharapan.


Bohong jika hati Nayra tidak bergerak. Dia menangis mendengar pernyataan cintanya. Alex menghapus air matanya, "Jangan menangis lagi. Selama ada aku. Kau tidak aku izinkan menangis. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Aku berjanji, tidak akan membuatmu menangis. Pakai-kan-lah kalung ini padaku jika hatimu sudah merasa yakin!" nayra menatap sesaat, lalu mengangguk perlahan.


"Good Girl! Aku pasti menunggumu, Nayra." Alex mencium bibirnya dengan lembut lalu diakhiri dengan kecupan di kening dan pelukan hangat.

__ADS_1


__ADS_2