PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
MEMINTA MAAF


__ADS_3

Bagaimanapun dia menghindar, dia tetap harus meminta maaf. Gara gara kejadian tak terduga semalam, gadis itu harus bertanggung jawab.


Perlahan sebelum dia membuka pintu, dia menyakinkan diri dan menghela kembali nafas panjang. Beberapa kali Nayra mengetuk, baru setelah dia mendengar kata "Masuk" dia memberanikan diri membuka pintu.


Dia melihat bosnya tengah sibuk dengan beberapa berkas dan tangannya masih mengetik saat dia menghampiri.


"Ada perlu apa?" tatapnya dingin.


"Se-se-lamat pa-gi Pak, sa, sa-ya, mau minta maaf Pak!" ucapnya terbata.  Alex menghentikan kegiatannya. Dia menatap gadis itu dengan menaikan rahangnya dengan kasar.


"Kamu tidak lihat, sekarang waktunya bekerja. Sebaiknya kamu keluar!" hardiknya ketus.


Ketika gadis itu mengangkat kepalanya, Alex sudah kembali dengan pekerjaannya.


"Ta-pi Pak."


"Saya bilang keluar!" bentak Alex dengan delikan dari matanya.


Nayra kaget. "Maaf Pak!"  Dia berbalik badan dan keluar dari ruangannya. Saat gadis itu berbalik badan, Alex terus menatapnya. Huh, enak saja mau meminta maaf. Kau, pikir semudah itu meminta maaf dariku.


"Gimana, Nay? Dia bilang apa?"  Rasti penasaran. Menguping dari balik pintu. Namun, dia tak bisa mendengarnya dengan jelas. Ruangan bosnya kedap suara ketika pintu ditutup.


"Gimana apanya? Dia lagi sibuk. Belum sempat gue bilang apa-apa. Dia langsung ngusir gue keluar," wajah Nayra

__ADS_1


yang terlihat prustasi.


"Trus gimana?"


"Nggak tahu-lah, kayaknya dia marah banget. Gue bisa lihat dari tampangnya yang dingin dan ketus," cibir Nayra.


"Masa sih? Lo salah kali. Nggak mungkin dia bersikap seperti itu, jelas banget semalam dia panik waktu lihat lo


mabuk."  Rasti tidak percaya dengan semua ucapan temannya itu.


"Nggak usah berlebihan, Ras. Wajar dia panik, gue ini kan karyawannya. Dan, kalau semalam gue kenapa napa otomatis dia yang bertanggung jawab. Dia ‘kan bosnya." Rasti tampak berpikir, "Masuk akal. Trus nasib lo sekarang gimana?"


"Nantilah, gue coba lagi kalau dia sudah tidak sibuk." Rasti manggut manggut kembali ke meja kerjanya.


***


"NAYRA ALLETA!!"  Gadis itu tersentak mendengar suara Mbak Wenny menggebrak meja kerjanya.


"Gimana?" katanya lagi.


"Gimana apanya, Mbak?"  gadis itu memang tidak tahu arah pembicaraan Mbak Wenny.


"Gimana apanya? Aku tanya, gimana dengan dekorasi untuk pak Irwan? Klien kita. Apa kamu sudah menemukannya?" senggitnya mantap.

__ADS_1


"Oh, itu ... sudah, Mbak."


"Sebaiknya kamu cek lagi, pastikan mereka tidak salah dan telat saat mengantarkannya."


"Oke, Mbak, pulang kantor saya mampir kesana lagi!"  Setelah mendengar jawabannya, dia pun pergi.


Nayra kembali ke posisi awal. Melamun. Dia masih saja memainkan jari manisnya. Dia masih saja belum terbiasa merasakan kehilangan.  Kena semprot sana sini, juga menarik perhatian bosnya. Dan saat pulang kantor, dia satu lift dengannya.


"Dua hari ini, lo kacau banget. Sebenarnya ada apa? Inget yaa, lo masih hutang cerita sama gue. Gue tebak, ini pasti soal Gio lagi ‘kan?"  Dia tidak menjawab apa pun pertanyaan Rasti, hanya menunduk.


"Gue sama, Gio, baik-baik saja. Lo nggak usah khawatir!" ucapnya terdengar getir.


"SRIUS? Lo  nggak lagi bohong sama gue ‘kan? Soalnya waktu elo mabuk, lo terus nyebut nama dia berulang. Lo bilang dia penghianat. Gue nggak pernah lihat lo sampai segitunya kalau lagi ada masalah sama Gio. Sekarang, dia jemput lo ‘kan?"


"Uhm. Sorry ya, Ras, gue duluan," ujar gadis itu. Saat pintu lift terbuka, dia melarikan diri.


Maafin aku ya, Ras, aku nggak bermaksud buat berbohong. Dia hanya bisa menghapus air matanya yang mengalir saat memikirkan Gio.


Alex menatap kepergian gadis itu. Tangannya mengepal erat. Dia ingin sekali menariknya. Meraih tubuh gadis itu


kedalam pelukan. Namun, dia urungkan, dia ingin perasaan gadis itu lebih tenang.


***

__ADS_1


__ADS_2