
Selesai sarapan usai , dari mulut Alex keluar rencana-rencana tentang proyek. Nayra mencatatnya dengan sigap. Selama survei, Nayra terus berada di samping Alex. Mengikuti langkahnya ke sana ke mari, bertemu orang-orang dan memfokuskan pada lokasi yang sudah di temakan.
Hari sudah semakin sore, saat mereka akan kembali. Mobil Alex mogok kehabisan bahan bakar, dan jarak untuk pengisian bahan bakar sangat jauh.
"Nay, sepertinya kita tidak bisa pulang hari ini. Kita cari penginapan, losmen atau apa saja yang penting kita bisa istirahat untuk malam ini. Aku sudah sangat lelah kalau harus melanjutkan perjalanan, " ucapnya memang sudah terlihat tidak bersemangat dan wajah lelahnya terlihat jelas.
"Mm ... ta-pi, Pak," Nayra gugup dan panik mendengar ucapannya.
"Aduh ... Nay, kamu tuh ... tidak akan aku makan sekarang tahu!" Alex gemas melihat sikapnya sambil mencubit pipinya.
"Aw, sakit, Pak ...," pekik Nayra.
"Kita, cari penginapan saja yah," Alex mencoba meyakinkan dan mengalihkan pembicaraan. Hmm ... mana mungkin aku akan melepaskan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadaku. Nayra, kau itu pasti menjadi milikku.
"Tapi Pak, di sini seperti tidak ada penginapan, hotel, losmen atau motel Pak, kita kan sekarang berada di pemukiman penduduk, " sahut Nayra.
"Ya ... sudah, kamu tunggu di mobil, aku yang akan tanya, oke, " wajah Alex berubah menjadi semangat. Dia tak akan sedikitpun memberikan celah pada gadis yang sudah diklaimnya.
Nayra tidak punya pilihan. Selain menurut dan terpaksa menginap. Walau hatinya enggan. Namun, dia tetap tidak bisa menolak kemauan atasan.
Tidak berapa lama Alex kembali. Dia sudah menemukan rumah yang bersedia di sewa untuk semalam. Namun,
Alex bilang kamar yang tersedia hanya satu. Lagi-lagi gadis itu pasrah daripada dia tidur sendirian di mobil yang suasananya begitu menyeramkan.
Hal yang terjadi di luar dugaan, Nayra sempat terpana dengan Alex yang berpenampilan sangat berkelas. Namun, dia bisa berbaur dengan lingkungan seadanya bahkan makan di warung pinggir jalan.
***
Dalam kamar petak empat kali empat. Hanya beralaskan kasur lantai. Nayra segera memberikan batasan untuk mereka tidur. Setelah beberesih dan mengganti baju, mata Alex yang lelah langsung terpejam. Alex tidur dengan mengenakan kaos dan celana training yang mereka beli dadakan sebelum mereka kembali ke kamar sewaan. Karena tidak mungkin mereka tidur dengan atribut kerja.
Nayra baru saja merebahkan tubuhnya. Namun, dia gelisah sendiri, tidak tenang. Terus membolak balikkan badan, dia merasakan tidak nyaman di perutnya. Nayra ingin buang air kecil.
Namun, melihat kondisi lokasi. Dia ciut, tidak punya nyali. Akhirnya, karena dia sendiri sudah tidak bisa menahannya, terpaksa membangun Alex yang sudah tetidur.
Mata Alex terbuka, "Ada apa, Nay? Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam. Besok kita pagi-pagi sudah harus berangkat!" ucap Alex menyilangkan kedua tangannya melirik Nayra yang gusar.
"Kau kenapa?" tanya Alex sekali lagi, kali ini dia sudah bangun dan duduk sambil menatap wajah gadis itu yang terlihat tak nyaman.
"Bi-bi-sa saya minta tolong, Pak?" Nayra yang ragu, terus menggerakkan tubuhnya yang memang sudah tidak nyaman.
"Apa?"
"Sa, sa-ya ...," Nayra mendekatkan wajahnya, berbisik ditelinga Alex.
Alex tersenyum geli melihat tingkahnya, "Ayok ... Pak, cepat, saya sudah tidak tahan," Nayra terus menarik tangannya. Alex sambil tersenyum mengikuti kemauannya. Menggenggam erat tangan Nayra, mengantarkannya ke kamar kecil.
"Aku, tunggu disini yaa!" Alex melepaskan tangannya ketika sudah di depan kamar mandi.
"Benar yah, Pak, Bapak tunggu disini, jangan tinggalin saya sendirian ya ... Pak!" Nayra merengek seperti anak kecil. Alex tanpa henti menahan senyumnya, "Iya, ya, sudah sana, nanti kalau keluar disini malah jadi runyam," goda Alex.
__ADS_1
"Benar ya, Pak, tunggu, awas saja kalau bohong!" Nayra mewanti wanti.
"Cepat masuk, atau aku tinggal!" suara Alex berubah ketus. Membuatnya melompat segera masuk kamar mandi.
Keluar kamar mandi, Alex langsung berbalik badan dan akan pergi. Nayra panik melihat kiri kanan depan belakang yang penerangan lampu terbatas segera berlari, dan tanpa sadar kakinya terantuk batu, "Awww!" rintihnya meringis kesakitan memegang lututnya.
"Kau ini ... kalau jalan lihat-lihat dong! Aku, ini tidak akan meninggalkanmu," gerutu Alex segera menghampirinya dan membantu berdiri, "Bisa jalan?" tanyanya.
"Bi-bisa, Pak!" Nayra mencoba berjalan perlahan sambil terus memegangi lututnya, "Kau ini ...," Alex gregetan sendiri. Dia menarik tangan gadis itu. Menggendongnya ala pengantin baru. Nayra hanya tertunduk, malu.
Alex menurunkan perlahan, belum sempat dia mengucapkan terima kasih Alex sudah merebahkan tubuhnya, menutup mata dan tertidur. Nayra hanya menatap sekejab, sebelum diapun benar-benar ikut terlelap disamping tubuh Alex.
***
Saat terbangun Nayra panik tidak mendapati bosnya. Dia, berpikir Alex meninggalkannya. Setelah membereskan kasur lantai, dengan kaki pincang akan membuka pintu bertepatan dengannya yang membuka pintu, "Kamu
sudah bangun? Tadi aku cari bahan bakar dan sarapan. Cuci wajahmu dulu sana," Alex melihat kepanikan dari wajahnya.
Gadis itu bergegas menuruti perintahnya. Selesai sarapan, mereka berpamitan dengan pemilik rumah.
"Pak, terima kasih atas bantuan Bapak semalam ...," Nayra ragu mengucapkan terima kasih saat berada didalam mobil.
"Alex, panggil aku, Alex, jika kita hanya berdua. Aku tidak suka, kamu memanggilku dengan sebutan Bapak," Alex berkata menatap kedepan sambil tangannya memutar stir menjalankan mobil.
"Ah ...," Nayra canggung atas ucapannya.
menunduk, tidak berani lagi mengeluarkan suara.
Mobilnya berhenti di depan apartemen Nayra, "Ba-pak, mau mampir?" tanyanya, Alex meliriknya dengan tajam, "Ah, maaf, Pak, eh ..., A-lex mau mampir dulu? Mungkin A-lex mau mandi dan berganti pakaian?" tawar Nayra tidak enak hati dengan atasannya.
"Hmm ... sepertinya tidak sekarang, tapi lain kali ... aku tidak akan menolaknya!" Alex menatapnya penuh arti yang tak dimengerti olehnya.
"Ow, oke, baiklah!" Nayra yang lola akan sikap atasannya, dan akan membuka pintu mobil, "Nay, kamu tidak perlu masuk kalau kakimu masih sakit," Alex memegang lengannya.
"Baik, terima kasih!" Nayra keluar dari mobilnya dan segera masuk ke apartemennya.
Nayra merebahkan tubuhnya di sofa. Sejenak lamunannya berputar, memasuki ruang hatinya yang masih gelap. Mengenang masa-masa indahnya bersama Giondra. Laki-laki itu belum sepenuhnya hilang dalam ingatannya.
Giondra, lelaki yang sangat dia cintai dan percaya. Bahkan, dia seperti keledai bodoh, tidak menyadari kedekatan sahabatnya dengan kekasihnya itu. Nayra yang dicampakkan, dibuang di jalanan seperti sampah yang tak berguna.
Air matanya tak terasa berjatuhan. Rasa sesak didadanya membuat dia tak bisa bernafas. Semua mimpi yang dia rangkaipun harus hancur berserakan bersama dengan kepergian Giondra ....
***
Rasti menghampiri meja kerja Nayra, "Kaki lo kenapa? Kok ... habis pergi berduaan, pulangnya pincang, hayoo ... habis apa lo ama dia?" Rasti yang kepo dan penasaran saati melihat temannya berjalan pincang.
"Oww, ini ... tersandung habis buang air kecil ...,"
"Kesandung? Habis buang air? Yang benar, Nay?" Rasti menatap penuh dengan curiga.
__ADS_1
"Ish, apa sih, Ras. Gue benaran kesandung, itu yah ... otak mesum lo nggak usah mikir macam-macam!" Nayra menoyor keningnya. Tahu otak temannya bergeser. Berpikir tidak beres antara dia dan Alex.
"Habisnya, tumben banget dia bawa lo cek lokasi. Padahal, gue juga nganggur, gue kek yang di bawa," comel Rasti jelous.
"Benaran, Ras, elo masih saja nggak percaya? Gue, kesandung, disana tuh suasananya serem dan penerangan pas malam gelap banget," jelasnya.
"Tuhhh ... kan masih bilang nggak ada apa-apa. Itu berduaan di tempat gelap, pasti deh ... elo sama dia blaem blaem ...," otak Rasti tambah gesrek dan bergesar.
Sedang bercanda main ledek-ledekan dengan Rasti, Alex baru saja datang. Matanya melirik kearah Nayra dan langsung masuk ke ruangannya.
Saat mata mereka beradu, Nayra merasakan Alex tidak suka dengan kedatangannya di kantor hari ini. Alex seperti marah terhadapnya. Bahkan saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor. Nayra mencoba tersenyum dan menyapa. Namun, Alex ketus dan cuek kepadanya.
Nayra sempat bingung. Namun, dia tepis. Dia, tidak ingin berpikir macam-macam dengan atasannya.
Setelah pulang kantor, Nayra mampir ke minimarket sebrang kantor. Dia, keluar dengan beberapa belanjaan di tangannya. Dia, menghentikan taksi menuju suatu tempat.
Tanpa Nayra tahu, Alex mengikuti dia dengan mobilnya, hingga taksinya berhenti di sebuah pelataran apartemen. Alex merasa tidak asing dengan apartement itu, karena salah seorang dari temannya pun tinggal disana. Dan, ini
adalah tempat pertama kali mereka bertemu.
Mau apa dia kesini? Bisik hati kecil Alex.
Nayra berhenti di lantai 8, dan sangat kebetulan teman Alex pun tinggal di lantai yang sama. Dia, terus mengekori gadis itu, matanya terus mengamatinya dari jauh.
Nayra berhenti di salah satu kamar dan mengeluarkan kartu pass akses masuk kamarnya. Dia, masuk, hampir dua jam berada didalamnya. Dan keluar dengan matanya yang sembab dan bengkak.
Gadis itu masih melanjutkan petualangannya ke beberapa tempat, seperti Restoran, pantai bahkan trotoar jalan dia lalui dengan berjalan sendiri. Melakukan petualangannya pasti dengan menangis.
Alex menatapnya begitu dalam, sepertinya, dia ingin sekali berlari kehadapan Nayra dan memeluknya. Namun, satu hal yang membuat Alex terpana, ketika Nayra tersesat dengan kesedihan, dia masih menolong seorang anak kecil yang tersesat di jalan dan mengantarkannya sampai di rumah.
Alex benar-benar tidak menduga, bahwa Nayra mampu bersikap tegar disaat hatinya rapuh. Mengenang kejadian pahit dan membuat hati Alex bertekad dengan kuat. Dia ingin melindunginya dan bersumpah tidak akan membiarkan gadis itu menangis lagi.
Pagi ini Nayra berbeda. Dia tersenyum dan menyapa semua orang sambil membagikan kopi untuk rekan kerjanya. Alex sendiri mendapatkan jatah kopi dan senyuman hangat darinya.
Alex terkejut dengan perubahannya. Gadis yang semalam dia lihat terpuruk dan rapuh sudah tidak terlihat lagi. Dan setelah makan siang, Nayra mengumpulkan semua orang. Dia, membawa kue ulang tahun dan berdoa bersama lalu memotong dan membagikan kue tadi.
Alex syock. Dia tidak menyangka Nayra berulang tahun hari ini. Hanya Rasti yang menatapnya tajam. Setelah usai dan semua kembali ke tempat masing-masing, Rasti yang sudah tidak sabar menghampirinya.
"Sampai kapan lo terus begini, Nay? Gue, pikir lo sudah berhasil move on dari bajingan itu!" Rasti yang membara tak kalah panas dengan hati Nayra yang sesak.
"Gue ... hanya ingin merayakannya, Ras. Apa gue salah? Setiap tahun kita biasanya merayakan bersama. Gue. gue ... kangen dia, Ras!” air matanya mengalir begitu saja. Membuatnya tak tega melihat kepedihan temannya yang masih belum bisa melepaskan diri dari bayangan Giondra.
"Ini sudah satu tahun lebih, Nay. Harusnya, elo sudah bisa melupakan dia. Gio, itu nggak pantas buat lo. E-lo pantas menghargai diri lo sendiri, dan mendapatkan yang lebih baik dari dia, Nay. Dia, saja sudah tidak mengingatnya. Mungkin disana, dia sudah sangat berbahagia dengan Mona. Jadi, gue mohon ... lupain dia, Nay. Jangan menyiksa diri lo terus seperti ini!" Rasti merengkuhnya kedalam pelukannya yang sudah sesegukan menangis.
Alex yang keluar ruangan berniat mencari sesuatu yang spesial untuk hadiah Nayra. Melihatnya terpuruk dipelukan Rasti. Dia, tahu bahwa bukan gadis itu yang berulang tahun.
Sampai kapan kau akan terus menangisinya? Air matamu itu begitu berharga. Kau hanya membuangnya untuk orang yang tak bisa menghargai cintamu.
Hati Alex hancur. Kecewa dan dia menyadari dirinya telah benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu.
__ADS_1