PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN

PRESDIR MENCINTAKU DENGAN KELEMBUTAN
GINA


__ADS_3

Di sebuah cafe


Alex  berjalan masuk memenuhi janji temu orang yang menelponnya. Dari kejauhan dia sudah melihat orang itu menunggu kedatangannya dengan gelisah.


"Bagaimana kabarmu?"  Alex tanpa basa basi ketika berhadapan dengan orang itu yang ternyata adalah Gio.


"Baik!" Gio menatap wajahnya dengan serius saat mereka saling duduk berhadapan.


"Sepertinya bukan ini tujuanmu menghubungi ku," ucapnya tak mau kalah membalas tatapan tajamnya.


Gio menghela nafasnya sebelum dia melanjutkan bicara, "Aku ingin meminta sesuatu darimu," ucapnya dengan pandangan kosong dan penuh harap.


"Permintaan? Maksudmu?" Alex menautkan kedua alisnya.


"Kau pasti mengerti kemana arah pembicaraan-ku ...," ucapnya menggantung, lagi-lagi dengan tatapan putus asa.


"Tidak. Aku tidak mengerti, jika tidak ada hal lainnya lebih baik aku pergi."  Alex mendorong kursinya, beranjak dari tempat duduk.


"Aku mohon dan meminta padamu. Lepaskan Nayra untukku, aku mohon ...,” ucapnya membuat langkah  Alex terhenti dan membalikkan badannya kembali.


"Cih ... kau tahu itu adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan. Maaf, aku tak bisa melakukannya!" jawabnya  sangat tegas.


Gio  menggerakkan kursi roda nya, lalu ia mencoba berdiri dari kursi roda tadi, dan, BRAAKK!!! Tubuhnya langsung tersungkur di lantai tak berdaya. Kemudian semua mata langsung tertuju pada mereka.


Alex  segera menolong dan memapahnya kembali ke kursi roda, "Kau gila! Apa yang kau lakukan, Gio?" ucapnya menahan emosi. Dia, sudah benar-benar geram dengan tingkahnya.


"Kau sudah lihat barusan kan? Aku ini sudah cacat, aku sudah tidak berguna. Aku tidak bisa menjadi laki-laki normal seperti dulu. Aku bukan dirimu yang sempurna. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Aku hanya meminta Nayra dari-mu. Aku, yakin dengan penampilan luar biasamu itu, siapa pun wanita di luar sana pasti bertekuk lutut. Sedangkan  aku ... aku hanya pria yang sudah tidak berguna, tidak bisa apa-apa. Hanya Nayra--lah  yang dapat mengerti dan menerima keadaanku sekarang, " ucap Gio begitu emosi mencengkram erat kedua lengan Alex. Dia, menatap laki-laki itu dengan  frustasi dan kacau.


"Aku mohon, kembalikan dia padaku, Lex. Saat  ini hanya dialah yang ku miliki," kembali Gio mengiba. Dia, menjatuhkan harga dirinya hanya untuk memohon pengembalian Nayra padanya.


"Kau, bisa meminta apapun dariku. Tapi, tidak dengan Nayra, maaf!" ucapnya dengan tegas   meninggalkannya.


Alex tak ingin terlalu lama melihat keterpurukannya yang terlihat begitu menyedihkan. Diapun takut dirinya menjadi lemah dan tidak tega terhadap Gio. Bagaimanapun, dia merasa masih berhutang budi terhadapnya.  Kalau Nayra tidak diselamatkan olehnya mungkin hari ini yang duduk di kursi roda itu adalah gadisnya.


Setelah melihat Alex benar-benar pergi. Seberkas  senyum puas tergambar dari wajahnya.


***


Nayra terperanjat ketika pintu di buka. Dia melihat jam dingin sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Ah, badanku sakit semua," ucapnya menggerakkan tubuh yang sempat tertidur di sofa.

__ADS_1


Alex melewati nya dengan lemas. Dia, menaruh makanan yang dibelinya di meja, lalu duduk di sofa sebelah gadisnya.


"Maaf, aku ketiduran saat menunggumu," ucapnya  menatap wajah kekasihnya yang tidak seperti biasanya.


"Aku yang harusnya minta maaf, sayang. Tidak  sempat memberikan mu kabar," ucapnya  menarik  gadisnya kedalam pelukan dan mencium keningnya.


"Tidak apa-apa sayang, aku siapkan air hangat untuk kamu mandi dulu ya. Setelah  itu kita makan bersama. Aku  kelaparan menunggumu pulang," ucapnya beranjak meninggalkan Alex ke kamar mandi.


Alex hanya bisa menatap punggung wanita yang dicintainya. Dia, bahkan belum sanggup membuka mulutnya, menceritakan peristiwa tadi siang. Apa aku sanggup hidup tanpamu sayang? Memikirkannya saja sudah membuat hatiku terbakar.


Nayra kembali memanggilnyauntuk ke kamar mandi. Lalu, dia menghampiri lemari baju menyiapkan baju tidur untuk kekasihnya.  Setelah  itu dia ke dapur untuk menghangatkan makanan yang sudah dingin. Lagi, Alex hanya menatapnya sedih dalam diam. Kau bahkan terlalu sempurna untuk laki-laki bresengekk yang bernama Gio itu.


Mereka makan dalam kesunyian. Nayra sempat terusik oleh sikap kekasihnya. Namun, dia tidak ingin mempermasalahkan. Nayra, berpikir kekasihnya itu tengah sibuk dengan pekerjaan. Pagi harinya. Saat dia terbangun. Dia sudah tidak menemukan Alex disampingnya. Laki-laki itu sudah berangkat ke kantor lebih dulu.


"Aneh ... biasanya dia nggak pernah ninggalin aku," gumanya  di hati, beranjak dari tempat tidur mereka dan bergegas mandi.


Sampai di kantor, Nayra menyempatkan membeli sandwich dan kopi untuknya. Namun, Alex  tidak ditemukan di ruangannya.


"Kemana sih? Inikan  masih pagi banget kalau buat janjian ketemu klien," dia kembali bergumam sendiri.


Alex mendatangi kantor ketiga temannya.


"Eh, buset ... gue nggak salah lihat nih, ngapain lo pagi buta sudah di sini?" ucap Alan yang hampir tersedak saat dia minum kopi melihat Alex sudah duduk diruangannya saat dia membuka pintu .


"Nomor Gina, buat apaan lo? Nggak salah dengar nih kuping."  Bob sambil mengorek telinganya.


"Sudah nggak usah banyak komentar, gue minta nomornya. Mau apa gue nanti sama dia. Itu, urusan gue, bukan kalian!" sahutnya terdengar sewot di telinga mereka.


"Lebih baik nggak berusaha dengan cewek modelan Gina deh, Lex ... jangan main api dengan cewek modelan begituan." Alan memberi saran.


"Sebenarnya elo ada masalah apa, Lex? Cerita sama kita, mungkin kita bisa bantu," ucap Bob menepuk pundak Alex. Wajahnya  terlihat lesu.


"Lex, apa ada hubungan dengan, Nayra?  Kasihan Nayra, jangan lo sakitin dia. Kalau lo lakukan hal segila ini dia pasti kecewa banget sama lo, Lex,”  tamabah  Alan kembali mengingatkan sebagai teman. Mereka tidak ingin ada yang terluka dan kecewa.


"Kalian mau kasih nggak nomornya? Kalau nggak, gue masih bisa datang ke tempatnya!" Alex marah dan meninggalkan tempat mereka.


"Lex, Lex ... yah ... dia malah pergi, sensi banget sih. Elo sih Lan, bukan kasih, sana kejar dia!" ucap Bob.


"Yah, lo nyalahin gue. Nah tuh anak yang ngeloyor pergi!" ucap Alan mengambil kartu nama Gina dan menyusulnya.


"Lex, tunggu!" teriak Alan  sudah mengejar Alex  sampai depan parkiran. Dia berhenti dan berbalik.

__ADS_1


"Nih kartu namanya," ucap Alan sambil menyerahkan satu kartu nama.


"Thanks!" ucapnya langsung pergi. Dia langsung menekan nomor dalam kartu nama tersebut. Lalu berbicara dengan serius dengan orang yang ditelponnya.


***


Alex masih asik dengan melihat isi ponselnya. Dia  melihat beberapa foto yang dia ambil bersama kekasihnya. Sosok yang tersenyum selalu membuat hatinya tenang dan sedih.


"Hei!!" suara seorang wanita menghamburkan segala lamunan Alex.


Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Alex berdiri mengulurkan tangan untuk saling menjabat. Namun, wanita tadi langsung merengkunya ke dalam pelukan dengan erat. Wajah perempuan tadi begitu bahagia dan tanpa ragu mencium pipinya.


Alex berusaha bersikap biasa, tidak ingin terlalu mencolok. Apalagi, seisi cafe sempat menatapnya.  Pasalnya, wanita tadi berpakaian terlalu terbuka dan sexy. Bagian depan menatang siapapun untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya yang sangat minim dengan bagian belakangnya yang kekurangan bahan.


"Pesanlah!" ucapnya. Wanita tadi langsung mengambil buku menu dan memesan minuman.


"Boleh pesan apa aja nih?" ucapnya lagi.


"Pesanlah, apapun yang kau mau," sahut Alex datar. Bohong jika matanya tak tergoda sebagai laki-laki. Namun, hatinya Alex sudah dikunci oleh gadis yang bernama Nayra.


Perempuan tadi tanpa ragu memesan dua menu sekaligus karena dia melihat gelas Alex sudah kosong.


"Ehem... tumben kamu menghubungi aku, Lex ...," ucapnya menopangkan dagunya di meja menatap lawan bicaranya dengan tajam.


"Gue mau minta bantuan lo, Gin." Alex makin serius menatapnya.


"Wah, seorang Alexander Gajendra meminta bantuan Gina? Mmm ... tentu saja boleh dong. Apapun, itu "  Wanita yang bernama Gina tadi sambil memainkan kerah baju milik Alex. Menatapnya  seperti seekor mangsa  siap dia terkam.


Dia menghempaskan tangan Gina dari kerah bajunya, "Ooppss, sorry."  Gina  menarik diri, membenarkan posisinya ketika pelayan datang mengantarkan minuman mereka.


"Hmm ... jadi apa yang bisa aku bantu buat kamu, Lex?" ucapnya, sekarang lebih terdengar serius.


"Sebelumnya terima kasih banyak kau sudah meluangkan waktu buatku." Alex memulai bicara. Tatapan matanya begitu gelisah. Gina dapat melihat dengan jelas sorot mata itu.


"Serius banget Lex, katakanlah. Buat kamu apapun akan Gina lakukan. Kamu  kan tahu perasaan Gina ke kamu itu ...," ucap Gina terpotong.


"Kita langsung saja ya, Gin, begini ...," ucapnya mengutarakan maksudnya mengundang Gina untuk bertemu. Wanita itu begitu serius mendengarkan setiap perkataan Alex.


Gina adalah teman SMA Alex. Namun, saat dia SMA, dia tidak lulus. Gina memilih bekerja daripada sekolah yang menurutnya membuang waktu dan uang.


Gina memang sudah terkenal nakal sejak sekolah bahkan keperawanan-nya di gilir oleh Bob, Alan dan Thom, hanya Alex yang tidak pernah memandang hal seperti itu adalah permainan. Gina sempat jatuh hati pada Alex, karena diantara keempat pria itu hanya Alex—lah  yang masih menganggapnya selayaknya wanita. Alex tidak pernah memandang status sosial bermasalah Gina. Gina selalu dipandang sebagai wanita murahan dan panggilan.

__ADS_1


***


__ADS_2