
“Harumnya ... kau sedang menggodaku lagi?" Alex menggeserkan tubuh Nayra agar mereka saling berhadapan. Nayra sedang berada dalam pengkuan Alex.
Nayra hanya mengibaskan rambutnya yang basah, "Memang kau masih belum kenyang?" gadis itu turu dari pangkuannya. Alex tak mau jauh-jauh. Memeluk tubuh gadisnya dari belakang.
"Memangnya, satu kali makan dalam sehari membuatku kenyang. Berkali-kali pun aku tidak akan kenyang, sayang ...,” bisiknya memalingkan kembali wajah Nayra padanya dan mengecup dengan hangat bibirnya.
Alex segera melepaskannya saat melihat wajah gadisnya tak bersemangat.
"Kau pasti lelah seharian menjaganya." Akhirnya ucapan tersebut keluar juga dari mulut Alex. Perkataan yang tidak sama sekali ingin di dengar oleh Nayra.
Nayra berjalan kearah beranda. Sejenak dia merasakan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Seolah melepaskan semua beban yang dia rasakan saat bersama Gia tadi siang. Perasaan tertekannya membuatnya tercekik dan kehabisan nafas.
Gadis itu membuka matanya, manatap langit malam. Cahaya bintang bersinar dan bertaburan. Kedua tangannya terentang seperti orang mau terbang, lalu kembali memejamkan mata. Sekali lagi merasakan hembusan angin yang menerpa wajah dan menenangkan hatinya.
Alex menatap gelisah wajah calon istrinya yang sangat tertekan. Rasanya, diapun tak tega melihatnya. Andaikan dia bisa, dia ingin sekali mengambil setiap kesedihan yang gadisnya rasakan. Hatinya pun sama tercabi. Dia, sama terlukanya dengan Nayra.
Alex bangkit dari duduknya, menghampiri Nayra dan merengkuh nya dalam pelukan.
"Aku mohon sayang ... jangan biarkan aku bersamanya. Hatiku sangat sakit bila melihatnya. Aku lebih memilih dia membenciku daripada terus bersamanya dan membuatmu terluka."
“Aku mohon sudahi ini. Aku tidak ingin terus berada dalam gelisah dan bimbang seperti ini. Aku benar-benar sudah lelah. Yang aku ingin hanya kamu, kamu yang selalu berada disisiku. Menemani dan mengisi setiap hariku." Nayra mengiba agar kekasihnya itu tak membiarkan dia bertemu lagi dengan mantannya.
__ADS_1
"Baiklah sayang, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku turuti semua kemauanmu." Alex sudah mengambil keputusan tak ingin membuat gadisnya lebih menderita.
Nayra berbalik menatap wajahnya yang terlihat sama-sama gelisah, "Maafkan aku sayang." Nayra menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat Alex. Laki-lali berbadan tegap itu hanya bisa menenangkannya dengan mengusap punggung dan rambutnya.
"Sudah malam, ayo kita tidur." Ajak Alex dan mereka kembali ke ranjangnya.
"Malam ini dan seterusnya jangan lihat siapapun lagi. Nayra Aletta hanya milik Alexander Gajendra sepeuhnya.” Alex yang kembali sudah berada di atas tubuh polos Nayra. Merekatkan kedua jari jemarinya. Kembali memadu kasihnya yang membara.
Satu minggu berselang. Nayra tidak menemui Gio lagi. Alex membebaskannya dari rasa bersalah dan tekanan akibat kecelakaan yang menimpa padanya. Dan satu minggu tanpa kehadiran Nayra. Gio terus melatih kakinya untuk bergerak dan berjalan.
Berulang kali Gio terjatuh. Walaupun, sulit dia tetap terus berusaha. Bahkan ketika Gio terjatuh lagi suster yang ditugaskan untuk merawatnya akan membantu. Laki-laki itu menolak dan memarahinya dengan keras.
"Sayang kapan kau mau mencari waktu untuk melanjutkan pernikahan kita?" desak Nayra saat mereka makan siang bersama disela jam kantor. Ini sudah satu bulan berlalu tanpa Nayra mengunjunginya lagi.
"Lalu bagaimana dengan pestanya? Memang kau tidak ingin ada pesta? Mama—ku pasti marah loh kalau sampai tidak diadakan pesta," ucapnya.
"Pesta belakangan saja sayang. Aku hanya ingi kita resmi saja dulu. Keluarga saja dulu. Aku ingin segera mendapatkan buku nikah. Apalagi, aku kan sekarang lebih sering tinggal di apartemen kamu," ucap Nayra senyam senyum penuh arti. Laki-laki itu pun tersenyum memahaminya.
"Baiklah, nanti aku cek lagi jadwalku. Kalau minggu ini agak kosong, kita urus buku nikah kita dulu." Alex menyetujui.
"Yes! Makasih ya sayang.” Nayra mengecup pipinya.
__ADS_1
Ah, bahkan aku sudah sering memakannya, tetap saja hatiku berdebar keras saat bersamanya. Hatiku tertembak oleh sikap manisnya. Dan tubuhnya adalah candu buatku.
***
"Baru tadi bertemu, dia sudah kangen lagi.” Alex merasakan ponselnya bergetar. Saat dia meliriknya bukan nomor kekasihnya.
Alex memanndanginya penuh tanya. Getarannya masih saja belum berhenti. Dengan malas akhirnya dia mengangkat telponnya. Suara dari sebrang langsung dikenali oleh Alex. Terdengar serius saat laki-laki itu menyetujui sesuatu.
Alex menekan telpon ke line Nayra dan memintanya datang ke ruangan, "Sayang, makan malam hari ini aku ganti di rumah ya. Nanti kamu nggak usah masak, aku akan belikan makanan kesukaan kamu." Alex tiba-tiba membatalkan makan malam mereka.
"Loh kenapa sayang?" raut wajah Nayra berubah kecewa.
"Aku ada klien dadakan minta bertemu malam ini," ucap Alex dengan wajah datar dan seriusnya kalau sedang di kantor.
"Oh, yaa sudah sayang nggak apa-apa. Besok kan kita juga bisa makan malam bersama, utamakan klien kita" sahut Nayra yang tetap profesional jika mereka sedang dikantor. Dia, mengembangkan senyuman memberikan kekasihnya semangat.
"Terima kasih sayang, kalau susah selesai aku akan segera pulang menebus hutang makan malam kita." ucapnya berbalas senyum kepadanya.
"Iya, iya, aku balik ke meja, masih banyak date line yang menumpuk." Gadis itu segera keluar dari ruangnnya. Alex menatap punggung kekasihnya dengan perasaan bersalah ....
Maafkan aku sayang.
__ADS_1