
Di dalam kamarnya Alex. Nayra berjalan kearah beranda menghampiri Alex yang sedang asik dengan ponselnya. Melihatnya setelah mandi dan hanya mengenakan kemeja miliknya. Alex hanya bisa menelan saliva sendiri.
"Kemari, sayang!" Alex mengulurkan tangannya dan menarik Nayra kedalam pangkuan.
"Wangi sekali, kapan kau akan pindah ke apartemen-ku?" Alex menciumi rambut gadisnya.
"Setelah kita sudah menikah saja ya." sahut Nayra.
"Apa? Aku tidak dengar? Coba kau ulangi?" Alex mencengkram leher Nayra dengan lembut, Menatapnya tajam.
"Setelah menik-,” Alex menutup mulut Nayra dengan ciumannya yang membara. Mereka berpagut saling membalas.
"Kau, sungguh tega membiarkan aku sendirian tiap malam? Hah!" satu kecupan mendarat kembali di keningnya.
"Sabar ya, sayang." Nayra bukan tak mengerti maksud kekasihnya.
"Aku sudah terlalu lama bersabar, sayang. Apa kau masih tidak yakin dengan semua yang kulakukan untukmu? Bahkan kedua orangtua kita pun sudah memberi lampu hijau!" Alex meminta sesuatu yang memang kedua pun tak bisa menaahannya.
"Sudah malam, kita tidur saja. Besok kan aku harus menemani mama berbelanja," Nayra beranjak dari pangkuannya.
Alex mengekorinya ke tempat tidur masih berharap bisa mengubah pikiran gadisnya. Menarik selimutnya, "Nay, sayang ...." Nayra yang memunggungi Alex. Tangannya sudah bergelirya kemana-mana, membuat Nayra gerah.
"Aku, tidur di sofa saja ya, sayang. Kalau kamu terus begitu!" Alex menghentikan kegiatan tangannya. Dia tahu gadisnya mulai ngambek.
__ADS_1
"Jangan gitu dong Nay. Iya, iya, janji aku nggak akan bikin yang aneh-aneh, tapi kamu balik badan
dong. Masa aku di punggungi seperti ini!" Alex menarik erat tubuh Nayra ke dalam pelukannya. Nayra mengalah, membalikkan badannya.
"Janji, tidak boleh iseng ya!" Alex menurutinya. Sabar Alex. Cepat atau lambat dia akan menjadi milikmu.
Maaf sayang, sabar yaa. Aku tahu kok mau kamu apa. Aku pun menginginkannya, tapi untuk sekarang, hatiku belum siap. Aku masih belum pantas mendapatkan cintamu yang besar ini.
***
Pintu kamar Alex di ketuk, "Iya, masuk!” Ibu Alex menebar senyum sumringahnya. Buru-buru menghampiri putranya yang bermuka kusut.
"Bagaimana? Berhasil? Kapan mama bisa melihat cucu mama?" Ibu Alex bericara setengah berbisik. Penasaran
"Apa sih, Mah. Sabar yaa!" kecut Alex menjawab pertanyaan ibunya pagi-pagi buta.
"Hah, bagaimana sih? Jadi, kamu belum berhasil? Padahal, Mama sudah menantikannya!" Nayra mengulat, bangun.
"Selamat pagi, sayang. Ini, Mama bawakan baju ganti untukmu," mata masih menyeledik melihat kearah tempat tidur. Mama kenapa ya? Nayra sedikit bingung melihat ibunya Alex.
"Pa-pagi juga, Ma, terima kasih." Nayra bangun dan menerima paper bag yang berisi baju darinya.
"Ya sudah, Mama tinggal. Mandilah, Mama tunggu kamu di meja makan." Namun, matanya masih melirik terus kearah tempat tidur sampai dia keluar dari kamar Alex.
__ADS_1
"Mama, kenapa sayang?" tanya Nayra. Menghampiri kekasihnya ke beranda. Masih dengan wajah cemberutnya. Alex tetap diam.
"Sayang, kamu dengar aku kan?” Nayra memeluk tubuhnya dari belakang.
"Uhm, Mama meminta agar aku segera memakan-mu. Dan, memberikannya junior Alex!" menghempaskan pelukan gadisnya dan masuk ke kamar mandi.
What? Aku nggak salah dengar? Jadi mama Alex sengaja membiarkan aku satu kamar untuk ... wajah Nayra memerah. Dia menutupinya dengan kedua tangan.
***
Setelah sarapan, ibu Alex langsung memboyong Nayra untuk berbelanja, "Mah, ini kan masih pagi memang sudah ada yang buka?" tanya Nayra. Melihat pusat perbelanjaan yang akan mereka masuki sepi. Belum ada seorangpun pengunjung.
"Tenang saja, sayang. Ada Mama pasti di buka. Kamu tidak perlu khawatir!" cetusnya.
Benar saja, padahal jam menunjukkan masih jam delapan pagi. Saat mereka memasuki pusat perbelanjaan.
Pintu langsung terbuka dan beberapa pengawal mengikutinya.
Wah, benaran di buka. Jangan bilang pusat perbelanjaan ini mereka. Tidak mungkin kan kalau hanya pengunjung memiliki akses seperti ini.
Ibu Alex mulai penjelajahannya dari toko baju. Kemudian dia memilihkan yang terbaik untuk mantunya. Nayra hanya bisa mematung ketika calon ibu mertuanya itu memilih. Dia, selalu berkata bagus, cocok, cantik, pas, imut sekali untuk Nayra. Menyuruh gadis itu mencoba semuanya. Seperti boneka Nayra menuruti kemauan calon ibu mertuanya.
"Sayang!" Nayra meminta pertolongan Alex. Dia hanya mengangkat kedua bahunya. Duduk manis dan bermain benda pipihnya. Membiarkan Nayra ditarik kesana kemari oleh ibunya.
__ADS_1
Kau pikir, aku akan diam saja. Anggap ini hukuman kecil dariku. Setelah apa yang kau lakukan semalam padaku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Aku, akan memberikanmu beban, agar kau tidak bisa lari lagi dariku.